
...🥀🥀🥀...
"Paman, Tuan besar? Tuan dan Nona juga, kalian membuat ku terharu." ucap Arsandi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Jangan hanya termangu, cepat kau bawa masuk itu semua ke dalam mobil!" titah Danu, menunjuk barang barang di atas meja dan sofa.
Dengan di bantu Adi, Yanto dan Baskoro. Kini barang seserahan yang akan di bawa ke rumah Mery telah berpindah tempat, di bagasi mobil Danu dan bagasi mobil Baskoro.
Sementara Danu, sudah memisahkan apa yang ia pesan untuk Layla.
"Kenapa meminta ku ke sini ka? Kita kan harus bantu membawa barang barang itu ke mobil." gerutu Layla dengan bibir mengerucut.
Danu meminta Layla menunggu nya di taman belakang rumah nya.
"Ini untuk mu, sayang! Hadiah kelulusan mu dari putih abu." ucap Danu, menyodorkan paper bag yang ia bawa.
"Apa ini ka?" tanya Layla dengan menerima bingkisan dari Danu.
"Di buka aja sendiri, kalo aku kasih tau isi nya, itu bukan lagi hadiah." Danu mengelusss puncak kepala Layla.
"Ini bagus banget ka, pasti mahal banget. Kenapa gak di tabung aja sih uang nya! Perhiasan ku juga kan masih banyak." protes Layla.
Danu mengambil satu kotak berudu dan membuka nya.
"Aku menunggu mu untuk membeli nya sendiri, tapi tidak pernah sekali pun kau gunakan uang mu untuk membeli nya, jadi aku belikan!" Danu memasangkan kalung, gelang, cincin dan anting pada Layla.
"Makasih ka, aku suka!" seru Layla.
"Iya, ayo kita kembali. Kita antar Arsandi menuju jodoh nya!" seru Danu dengan merangkul Layla.
"Bukan menuju jodoh nya ka, tapi kita kawal sampai halal!" ralat Layla.
__ADS_1
"Iya apa pun itu lah, suka suka kau aja!"
Di halaman rumah.
"Tunggu apa lagi! Cepat masuk! Kau bawa mobil ku!" Baskoro menyerahkan konci mobil nya.
"Baik Tuan, mimpi apa saya semalam... malam ini bisa di dampingi para orang hebat untuk melamar kekasih saya." gumam Arsandi.
"Kau tau Arsandi, semua ini tidak lah gratis, ada yang harus kau bayar." cicit Danu dengan tatapan tajammm.
Arsandi, Baskoro, Noval, Adi dan Yanto, menoleh, menatap Danu yang baru aja ke luar dari rumah bersama dengan sang istri.
Arsandi menelan saliva nya dengan sulit. "Saya pikir ini semua gratis dari Tuan Danu dan Tuan besar."
"Enak aja gratis, di dunia ini gak ada yang gratis!" ucap Danu dengan tergelak, berhasil mengerjain Arsandi.
"Gila aja pak asisten, barang barang yang Tuan Danu pilihkan ini semua barang mahal, bisa bisa beberapa bulan gaji mu harus terpotong untuk mencicil nya hehehe!" Adi ikut menggoda Arsandi.
"Diam kau! Banyak bicara!" umpat Arsandi dengan ekor mata melirik tajam Adi.
"Belum juga nikah, udah di buat buntung. Astagaaa yang sabar ya bang!" seru Layla, menatap Arsandi dengan kasihan.
"Jadi saya harus bayar berapa Tuan?" tanya Arsandi dengan wajah sendu.
'Jangan sampai semua barang barang itu mengurasss isi tabungan ku!' batin Arsandi.
"Heh bocah, cepat jalan! Kami hanya tinggal menunggu mu ini!" omel Yanto, udah duduk anteng di dalam mobil.
Danu membuka kan pintu mobil untuk Layla, menunggu Layla masuk dan duduk dengan tenang, baru ia akan menutup nya kembali.
Danu berjalan, memutar ke arah kursi kemudi. Memegang handle pintu mobil.
__ADS_1
"Arsandi, kau harus membayar nya jika sampai kau di tolak oleh Mery!" seru Danu dengan serius.
Arsandi membuang nafas lega. "Saya tidak akan di tolak nya Tuan, Mery tidak memiliki pilihan untuk menolak saya." ucap Arsandi dengan percaya diri.
"Cepat masuk! Kita meluncur ke rumah Mery!" titah Danu.
Hingga beberapa menit kemudian. 2 mobil mewah terparkir di depan rumah Mery.
Kabar jika Mery akan di lamar pun menyeruak di lingkungan tempat tinggal nya. Bahkan mulut para tetangga judiddd ada aja di mana mana.
^^^"Gila aja, Mery yang baru lulus sekolah udah di lamar. Bayak bangat lagi bawan nya."^^^
^^^"Jangan jangan Mery ini udah teddung duluannn. Makanya buru buru di nikahin!"^^^
^^^"Ternyata benar apa kata pepatah, buah jatuh gak jauh dari buahnya."^^^
^^^"Tapi beda nya orang tua Mery gak sampe nikah, hingga akhir hayat nya... kita pun gak tau siapa ayah dari Mery!"^^^
"Kalian gak berhak untuk menghakimi hidup seseorang! Apa kalian pikir kalian adalah manusia paling benar?" sungut Arsandi kesal, lalu berbalik badan masuk ke dalam rumah Mery.
Mery duduk dengan di apit Layla dan sang bibi. Sementara Danu, Noval, Yanto dan Baskoro serta Arsandi duduk di hadapan nya dengan meja sebagai penghalang.
"Saya bukan pria yang pandai dalam hal berbasa basi. Jadi saya akan bicara langsung pada inti nya." terang Danu, melirik Mery dan Arsandi sejenak.
"Jadi gimana? Apa kau menerima lelaki ini sebagai imam mu, Mery?" tanya Danu dengan serius.
Semua mata menatap ke arah Mery, menunggu jawaban apa yang akan di kata kan oleh Mery atas lamaran Arsandi.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
__ADS_1
...Kehaluan semata...
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️