Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bangunan angker


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Gak tau kan?" tebak Nina dengan alis nya yang naik turun.


"Gak usah ngeledek." Layla mengerucutkan bibir nya, menatap ke sekitar.


"Kita nyasar gak sih?" tanya Layla yang tampak asing pada bangunan tempat ia berpijak.


"Yah lu malah tanya gue, gue mana tau La. Tapi kok ada ya bangunan kaya gini di kampus ternama, mana kaya nya ini bangunan udah lama gak di pake deh La." seru Nina, ikut mengedarkan pandangan nya pada bangunan yang ada di hadapan nya.


Nina dan Layla, sama sama mengedarkan pandangan nya. Mengingat, berusaha mengenali bangunan yang ada di hadapan nya kini


'Ini gedung udah lama gak di pake kali ya? Malah gede, ada di sekitaran kampus, astaga si Nina kalo lari beneran deh. Gak liet liet, terhindar dari Devi... malah gue di ajak nyasar, mana ini tempat serem banget. Mimpi apa gue, bisa bisa nya takut, dulu gak ada yang gue takutin. Tapi kenapa sekarang...' Layla gak lagi melanjutkan kata kata hati nya meski dalam hati pun.


Hembusan angin yang terasa hangat terasa mencuat di tengkuk Layla, membuat tangan kanan nya dengan sendiri nya mengelusss tengkuk nya. Lalu menoleh ke belakang yang gak ada apa apa, hanya ada pohon beringin tua yang menjulang tinggi di depan gedung.


'Astagfirullah hal azim, nyebut nyebut!' seru Layla, mengelusss dada nya dengan bibir yang komattt kamittt tanpa mengeluarkan suara.


'Layla kenapa sih? Aneh banget ini anak.' batin Nina mengamati tindak tanduk Layla yang gak biasa.


"Kenapa La?" tanya Nina dengan tatapan menyelidik, kening mengkerut.


Dengan tergagap di sertai keringat dingin, Layla langsung meraih tangan Nina yang sudah berdiri di hadapan nya.


"Ah i- itu, a- anu... ayo kita pergi dari sini!"


"Lu sakit La? Tangan lu dingin banget. Tadi masih normal aja suhu tubuh lu!" ujar Nina dengan heran, sambil berjalan beriringan mengamati wajah Layla.


"Gak apa apa gue, pikiran lu aja kali." kilah Layla, dengan sekuat tenaga melawan tubuh nya yang mulai merasa gak enak.


"Beneran gak apa, La?" tanya Nina lagi, dengan penasaran nya Layla.


'Masa sih Layla gak apa apa? Itu juga muka nya udah keliatan pucattt gitu!' batin Nina.


"Gak ada, udah yuk. Kita harus pergi dari sini!" ucap Layla dengan cuek, berusaha gak perduli dengan apa yang ia rasakan.


Layla mendengar ada seorang wanita yang menyebut nama nya dari arah belakang.


^^^"Laaaaa, sini La! Layla! Ikut sini! Jangan pergi!"^^^


Bulu kuduk Layla seakan merinding.


"Lu denger ada yang manggil gue gak Nin?" tanya Layla dengan berbisik pada Nina.

__ADS_1


"Gak, gue juga gak manggil lu! Salah dengar kali lu! Di sini cuma ada kita berdua doang, dari tadi kita jalan. Ngapa belum nemu satu pun mahasiswa ya La?" Nina bertanya balik dengan tatapan heran.


Ke dua nya meninggalkan gedung yang sudah lama di alih fungsi kan menjadi gudang, tempat penyimpanan barang barang yang gak terpakai lagi. Baik kursi dan meja yang rusak, mau pun pendukung olah raga yang sudah gak terpakai lagi.


"Ayo jalan lebih cepet lagi apa Nin!" pinta Layla dengan menggandeng lengan Nina, mengajak nya dengan langkah kaki yang lebih cepat.


"Ini juga gue udah cepet, dodolll La. Ngapa sih lu? Aneh banget, kaya abis liet hantu aja!" celetuk Nina, berusaha mengimbangi langkah kaki Layla.


"Gak tau. Yang jelas tempat itu aneh aja buat gue." ucap Layla.


"Kita mau ke mana? Lu yakin ini jalan nya?" tanya Nina mengikuti Layla yang berjalan di jalan beraspal.


"Yakin gak yakin, tadi kan lu lari lurus bae. Mudah mudahan aja dikit lagi kita ketemu mahasiswa lain nya." ucap Layla.


'Sumpah ini udah kaya uji nyali, bisa bisa nya kuliah di tempat kaya gini. Gak pernah kebayang ini kampus punya bangunan angker, serem, astagaaa pengen pulang!' batin Layla dengan lirih dengan mata mengembun.


Setelah beberapa menit berjalan dengan langkah kaki yang cepat, akhir nya Nina dan Layla bisa kembali ke gedung kampus mereka.


"Ini dia, cus lah. Kita langsung masuk aja, dikit lagi mata pelajaran di mulai!" seru Nina dengan bersemangat, mengajak Layla melangkah menaiki anak tangga.


'Astagaaa, lutut gue berasa lemesss banget, udah kaya gak ada tulang ini. Mana pandangan gue kenapa jadi jauh gini sih?' tanya Layla dalam hati.


Pandangan Layla seakan kabur, tangan nya berusaha meraih pegangan pada anak tangga.


Bugh.


.


.


Sementara Danu sendiri sedang dalam perjalanan menuju kantor, setelah ban mobil nya sudah di ganti oleh Radit.


Dring dring dring.


[ "Ada apa lagi?" ] tanya Danu setelah menjawab panggilan telepon nya lewat earphone.


^^^"Aku mau bayaran nya 3 kali lipat dari biasa nya!" seru Radit terdengar kesal dari suara nya.^^^


[ "Jangan merampok ku! Kau lupa, kita ini sudah lama kenal!" ] goda Danu.


^^^"Aku gak perduli, kau kirimin 3 kali lipat bayaran buat ku. Aku bukan Arsandi yang mau di bayar jasa nya dengan honeymoon."^^^


[ "Ahahha aku tidak menyamakan mu dengan nya!" ] goda Danu.

__ADS_1


^^^"Teserah apa kata mu lah! Yang pasti aku tidak akan datang jika kau hanya membayar jasa ku seperti biasa! Kau sudah membuat ku menunggu lama! Dasar bos sialannn!" umpat Radit.^^^


[ "Iya iya iya! Aku sibuk! Tunggu lah beberapa menit lagi, baru aku akan membayar jasa mu! Terima kasih sudah menghubungi ku!" ] Danu memutuskan sambungan telepon nya.


Deg deg deg.


"Kenapa dengan perasaan gue? Kenapa jadi gak enak gini ya? Jantung gue juga tau tau berdebar gak karuan gini! Astagaaa apa lagi ini!" gumam Danu, berusaha fokus dengan setir kemudi nya.


.


.


Sementara di ruang kunjungan.


"Apa kata mu? Jadi Sony dan Reina menghilang!" seru Aleta dengan tatapan tajam pada seseorang yang duduk di hadapan nya.


"Iya Nona, mereka bertiga di amankan oleh orang orang nya Tuan Danu. Terakhir saya mengikuti mereka di sebuah lokasi, dan mereka pergi dengan transportasi udara." terang Roy, pria tinggi kurus dengan memakai Hoodie berwarna abu.


"Cari tau, Danu mengirim mereka ke mana! Setidak nya jika mereka gagal. Reina harus mengembalikan uang yang sudah aku berikan pada nya!" ucap Aleta dengan tangan mengepalll.


"Akan saya usahakan Nona. Mengenai putri sambung Nona dari pernikahan terdahulu, saya dengar anak itu melanjutkan kuliah nya di kota B." ucap Roy.


"Gak usah bahas anak itu, gak penting! Yang terpenting itu, harta orang tua nya, udah jatuh ke tangan ku!" Aleta berseringai, dengan tatapan licik nya.


"Pada hal ada hal yang lebih bagus lagi Nona, tapi jika Nona gak bersedia mendengar nya. Saya tidak akan mengatakan nya." Roy beranjak dari duduk nya.


"Apa menguntungkan untuk ku? Katakan pada ku! Kau membuat ku penasaran aja!" tanya Aleta, menahannn langkah kaki Roy.


"Nona Devi bukan anak kandung mantan suami Nona. Nona Devi, Tuan Danu dan Arsandi, mereka bertiga berasal dari panti asuhan yang sama." terang Roy panjang kali lebar.


"Apa Danu dan Devi memiliki hubungan spesial kala itu?" tanya Aleta, dengan tatapan tajam seakan tertarik dengan hubungan ke dua nya.


"Bukan hanya mereka berdua, tapi mereka bertiga... mereka memiliki hubungan yang dekat saat di panti, tapi sayang nya. Tuan Danu dan Arsandi meninggalkan panti setelah bertemu dengan Tuan Baskoro. Sementara Nona Devi, berakhir di tangan mantan suami Nona. Lalu di bawa ke luar negeri." terang Roy.


"Menarikkk, cerita cinta yang rumit. Tapi kini akan aku buat hubungan mereka bertambah rumit. Karena hanya aku, satu satu nya wanita yang pantas untuk Danu!" kekeh Aleta.


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis." ucap salah satu sipil yang menjemput Aleta.


"Temui aku nanti!" seru Aleta, sebelum Roy meninggalkan nya.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2