Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Flashback Sifanye


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Dasar anak gak tau diri! Anak durhaka! Anak kurang ajarrr! Hidup mu selalu saja merusak hari ku! Aku benci kamu Layla! Anak sialannn!" umpat Sifanye.


Prang prang prang prang.


"Astagfirullah mah, hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Noval menghentikan Sifanye, menggenggammm erat lengan nya.


"Kamu yang apa apaan yah! Dari dulu kamu selalu membela anak silannn kamu itu! Kamu lupa bagaimana kita kehilangan calon bayi kita karena kecerobohan nya? Kamu lupa? Apa perlu aku ingatkan kembali?" tanya Sifanye dengan suara meninggi, di sertai deras nya air mata yang ke luar dari pelupuk mata nya.


Deg.


Noval menelan saliva nya dengan sulit, dengan hati yang kembali terluka. 'Jadi Sifanye masih belum bisa melupakan kecelakaan itu?'


"Itu kecelakaan mah, gak satu orang pun yang mau mengalami kecelakaan. Jika sudah jalan nya, mau kita hindari bagaimana pun, musibah akan tetap menghampiri. Itu lah suratan takdir mah, kita harus ikhlas. Mama udah janji sama ayah, untuk bisa menerima kenyataan." ujar Noval membawa Sifanye ke dalam dekapan nya.


"Menerima kenyataan kamu bilang?" Sifanye mendorong tubuh Noval, menatap nya dengan sengit.


"Anak itu titipan mah, jika kita di percaya... gak akan ada yang mustahil untuk di berikan dan di ambil kembali. Kita hanya menjaga amanat, membesarkan, mendidik nya, segala yang bernyawa pasti akan berpulang mah!" terang Noval, menekan tombal darurat yang ada di atas kepala ranjang.


"Kamu mau ke mana, yah?" tanya Sifanye dengan tatapan masih kesal.


"Kamu gak butuh kehadiran Layla di sini, dan kamu juga gak butuh kehadiran ku di sini! Jadi, buat apa aku masih berlama lama di sini!" ucap Noval datar, berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Sifanye. Membiarkan wanita itu sendiri untuk bisa menerima kenyataan kembali.


Prang.


Sifanye melemparkan kembali barang yang tersisa di atas nakas yang dekat dengan ranjang rawat nya.


"Kamu jahat yah! Kamu dan anak kamu, gak jauh beda, kalian jahat! Aku butuh kamu yah! Aku gak butuh Layla! Aku butuh kamu!" teriak Sifanye dengan tangis nya.


Tangan Sifanye mencengrammm sprei. 'Karena anak sialannn mu itu yah! Kecelakaan yang menimpa kita, membuat mu gak bisa lagi memberi ku keturunan. Hingga aku nekat hamil dengan cara ku sendiri, membuat mu percaya Lulu adalah putri kandung mu!' batin Sifanye, dengan hati penuh dendam.


Sifanye menatap pintu ruang rawat nya yang kini tertutup, setelah Noval menghilang di balik pintu itu.


Noval duduk di depan ruang rawat Sifanye, memijat kening nya yang terasa pening.


Tatapan nya mengarah pada langit langit rumah sakit, dengan punggung bersandar pada sandaran kursi.


Flashback Sifanye.


Beberapa tahun silam.

__ADS_1


Noval memarkir mobil nya di depan rumah kontrakan sederhana nya, rumah kontrakan yang belum lama ini ia tempati.


"Sifanye dan Layla pasti akan sangat bahagia melihat ku pulang dengan membawa mobil." gumam Noval.


Noval pulang dengan wajah riang ke rumah kontrakan nya yang terbilang sederhana, jauh dari kata mewah. Namun begitu Noval bahagia bersama dengan keluarga baru nya yang ia bina bersama dengan Sifanye, gadis yang baru 5 bulan ia kenal di pinggir jalan karena suatu insiden dan dengan terpaksa ia nikahi.


"Assalamualaikum mah!" seru Noval langsung masuk ke dalam rumah kontrakan yang pintu nya terbuka.


"Waalaikum salam, cepat banget kamu udah pulang aja yah?" tanya Sifanye dengan tatapan menyelidik, melihat pria yang baru 3 bulan menikahi nya.


"Kamu habis ngapain mah?" tanya Noval, bukan nya menjawab pertanyaan Sifanye.


"Aku cape habis bebenah, anak kamu bikin ulah. Lihat aja kecap buat kita makan malah di buat main, keterlaluan anak kamu tuh!" omel Sifanye, menatap Layla kecil yang tengah asik main di atas kasur lantai dengan mainan nya.


"Anak kita juga mah, kan sekarang kamu udah jadi istri aku, terima lah dia jadi anak kamu juga!" ujar Noval, yang kini membawa Layla ke dalam pangkuan nya.


"Anak ayah, kita jalan jalan, mau gak?" tanya Noval pada Layla yang baru berumur 3 tahun.


"Mama ikut?" Layla menoleh ke arah Sifanye dengan tatapan berbinar. Namun sebalik nya Sifanye menatap anak tiri nya dengan tatapan malas.


"Kalian aja berdua, mama cape. Di kata gak cape apa jagain kamu! Jalan jalan cuma buat kaki tambah pegal aja, mending rebahan di rumah sambil nonton sinetron ikan terbang." ujar Sifanye, membaringkan tubuh di atas kasur lantai yang berukuran king.


"Kunci apaan tuh? Motor? Gak ah, panas kena terik nya matahari, belum lagi debu yang bertebaran." ujar Sifanye, acuh mengabaikan ke dua nya.


Noval menyerahkan sebuah gantungan kunci, dengan beberapa anak kunci yang berbeda menggantung di sana pada Layla.


"Ayah? Banyak kunci?" tanya Layla dengan celotehan nya.


Sifanye melirik sekilas, enggan bertanya, sudah pada pemikiran nya sendiri.


'Alah paling kunci rumah pak bos, baru di suruh pegang kunci pak bos aja udah sok, belagu! Punya rumah besar tuh baru keren, pergi gak kepanasan, duduk manis di dalam mobil dengan ruang ber ac, aihsss kapan ya jadi kenyataan, tau gitu gue jebak cowok kaya. Bukan cowok melarat kaya Noval, udah melarat, duda bawa buntut lagi satu, sialll nya gue.' batin Sifanye.


"Iya sayang, tadi nya ayah mau bawa Layla dan mama ke rumah baru, tapi seperti nya mama gak minat. Kita pergi nya lain kali aja ya sayang!" Noval menduselll pipi cabhi Layla.


Sifanye langsung beranjak dan duduk dari posisi nya yang berbaring, entah belakangan ini ia mudah lelah, mual, namun ia tidak mengatakan apa apa pada Noval, karena ia fikir hanya lelah mengasuh Layla, sang anak tiri.


"Kamu serius? Aku gak salah denger yah?" tanya Sifanye dengan tatapan gak percaya.


Layla kecil beranjak dari pangkuan sang ayah. Berjalan menghampiri Sifanye dan melingkarkan ke dua tangan nya di leher Sifanye.


"Umah bayu mama, yuk iat! Aya jayan jayan." pinta Layla, dengan tatapan berbinar meski belum mengerti dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi?" tanya Noval dengan senyum merekah.


Sifanye menggendong Layla yang baru berusia 3 tahun lebih, namun bicara nya belum lancar. Dengan pipi cabi, rambut di kunci dua, Layla tampak menggemaskan.


"Ughhhhh!" rintih Sifanye, dengan memegangi perut nya yang terasa sakit.


"Kenapa mah? Kamu pucat banget, apa kita ke dokter dulu, sebelum ke rumah baru kita itu?" tawar Noval.


"Jadi itu beneran rumah baru buat kita, yah? Aku lagi gak salah dengar kan?" tanya Sifanye, meski pucat, berusaha ia tepis setelah mendengar apa yang di katakan Noval.


"Benar lah! Hadiah dari bos. Biar aku gendong Layla sampe depan." Noval mengulurkan ke dua tangan nya ke depan Layla, namun Layla enggan melepas tangan nya dari leher Sifanye.


"Mau mama!" ujar Layla kecil.


"Dasar kau, anak menyusahkan aja!" umpat Sifanye, mengadu hidung nya dengan hidung mungil Layla, membuat bocah itu tertawa bukan marah atau menangis.


"Ayo!" ajak Noval.


"Kamu pinjam mobil kantor lagi yah?" tanya Sifanye enteng, membawa Layla ke luar dari rumah dengan di gendong.


Noval mengunci pintu kontrakan nya. Melihat Sifanye yang belum masuk ke dalam mobil, karena mobil masih dalam keadaan terkunci.


Nit nit nit nit.


"Ayo masuk sayang!" Noval mempersilahkan Sifanye dan Layla masuk ke dalam mobil, duduk di kursi depan dengan Layla yang berada dalam pangkuan Sifanye.


"Mobil ini yang kelak akan mengantar kan kita kemana pun!" ujar Noval dengan tatapan berbinar, senyum mengembang.


"Tetap aja harus di kembalikan ke kantor yah, itu sama aja dengan mobil pinjaman!" ketus Sifanye.


"Ayah!" seru Layla kecil.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2