Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Merubah notifikasi


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Apa terjadi masalah dengan Layla? Apa anak itu hanya bisa merepotkan kita aja?" tanya Mery dengan sedikit kesal.


Arsandi menghentikan aktivitas nya, menatap Mery dengan kening mengkerut. Hati nya begitu terkejut melihat respon yang di tunjukkan Mery sebagai salah satu sahabat Layla.


"Apa maksud mu? Layla itu kaka ipar mu, Tuan Danu itu kaka angkat mu. Kau lupa atau perlu aku jelaskan pada mu?" tanya Arsandi dengan nada suara yang dingin.


"Jelas Layla itu kaka ipar ku, tapi dia juga sahabat ku! Dengar ya, sejak aku kenal Layla, hidup nya selalu bermasalah." ucap Mery dengan nada meninggi.


Deg.


Arsandi di buat terkejut kembali, merasa terhempas, mendengar ucapan Mery yang meninggi pada nya perihal Layla.


"Apa aku gak salah mendengar, kamu sendiri yang mengatakan nya?" tanya Arsandi gak percaya.


Mery mengambil alih koper yang ada di hadapan Arsandi.


"Iya lah, aku yang mengatakan nya! Bukan nya lanjutkan berkemas, malah ngelamun! Memang apa yang kau pikirkan hem?" Mery melanjutkan aktivitas Arsandi untuk berkemas, memasukkan pakaian nya ke dalam koper.


Arsandi menggaruk kepala nya sendiri yang gak gatal, "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Arsandi dengan bodohhh nya, menatap Mery dengan penuh tanya.


Mery menoleh Arsandi sejenak lalu mengerutkan kening nya, namun sejurus kemudian ia tetap fokus mengemas, memindahkan pakaian mereka dari dalam lemari ke dalam koper.


"Kau ini habis kebentur dinding atau gimana sih? Kapan pesawat nya berangkat?" tanya Mery tanpa mengalihkan perhatian nya.


"3 jam dari sekarang, tapi kita masih punya waktu 2 jam untuk berkemas, membeli oleh oleh mungkin, jika kau ingin." terang Arsandi.


"Boleh juga, ya udah. Pak Arsandi tunggu apa lagi? Kenapa masih di sini? Sana mandi!" titah Mery dengan tegas.


"Iya, aku mandi dulu." Arsandi langsung menurut tanpa perotes dengan ucapan Mery.


Mery melihat Arsandi yang menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Dasar pak Arsandi aneh, memang apa yang sedang ia pikirkan? Biar kata Layla bermasalah terus dengan yang lain. Dia tetap sahabat ku! Layla selalu ada untuk ku, masa aku hanya diam aja di sini melihat nya membutuhkan ku!" gerutu Mery.


Mery menyiapkan pakaian yang akan di gunakan Arsandi setelah mandi, lalu meletakkan nya di atas tepian kasur.


"Apa gak ada lagi yang ketinggalan?" tanya Arsandi dengan menarikkk koper yang berisi pakaian nya dan juga Mery.


"Gak ada, semua nya udah masuk dalam koper." ucap Mery dengan sweater yang ia lilittt di pinggang nya.


"Ayo masuk! Tunggu apa lagi, Mery?" tanya Arsandi, membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Mery.


"Apa kita masih ada kesempatan untuk mengunjungi tempat ini lagi? Aku masih kurang jalan jalan nya, mengelilingi kota ini!" terang Mery, tampak berat meninggalkan villa yang baru beberapa hari ia tinggali.


Arsandi mengelusss puncak kepala Mery, merengkuh lengan Mery, membuat wanita itu bersandar pada dada bidang nya.

__ADS_1


"Sabar ya! Mudah mudahan aja semua berjalan dengan baik, hingga gak ada lagi yang menyulitkan Tuan Danu, dan Nona Layla untuk tetap bersama." ucap Arsandi panjang kali lebar.


"Kenapa jika ada masalah dengan hubungan mereka berdua?" tanya Mery dengan mengadahkan kepala nya, menatap wajah tegas Arsandi yang gak lain suami nya sendiri.


Arsandi menghembuskan nafas nya dengan kasar, "Sudah dapat di pastikan, hari ku akan menjadi sangat berat untuk aku jalani. Ayo masuk! Masih ada yang ingin kau beli kan?"


Ke dua nya masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang bagian belakang. Mobil di kemudikan sang supir yang memang tinggal di villa, sekaligus orang yang merawat villa yang di tempati Arsandi dan Mery.


"Saya senang, akhir nya Tuan Arsandi datang mengunjungi villa bersama dengan pasangan, udah nikah lagi." goda sang supir.


"Ehem, pak... jangan mulai, fokus aja sama jalan!" titah Arsandi dengan serius.


"Memang selama ini pak Arsandi gak pernah bawa perempuan ke villa, pak?" tanya Mery yang ternyata ingin tau, tapi tatapan nya mengamati wajah Arsandi.


"Tuan Arsandi dan Tuan Danu, sama sama dingin terhadap wanita, Nona. Tapi beda nya Tuan Danu pernah satu kali membawa teman wanita nya ke villa, kalo gak salah siapa ya nama nya... teman sekolah sekaligus kuliah nya dulu, lupa saya nama nya tuh." terang pak supir, menggaruk kepala nya dengan frustasi, gak berhasil mengingat nama teman wanita Danu.


"Apa yang mereka lakukan pak? Apa bapak tau? Apa wanita itu Aleta?" cecar Mery ingin tau.


"Itu hanya masa lalu!" seru Arsandi.


"Iya kalo gak salah, itu nama nya. Mereka datang bertiga bersama dengan Tuan Arsandi. Waktu itu Tuan Danu dan Nona cantik itu menempati kamar terpisah. Saya gak suka sama Nona itu, Nona." terang pak sopir.


"Kenapa pak?" tanya Mery penasaran.


"Nona cantik itu ada niat jahat terhadap Tuan Danu, tapi rencana Nona cantik itu di gagal kan Tuan Arsandi." terang pak supir melirik ke dua nya lewat kaca spion.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, untuk melindungi Tuan Danu dari rencana licik wanita berbisa." terang Arsandi, menggenggammm jemari Mery.


.


.


Pagi hari nya di kediaman Danu


"Makan yang banyak, jangan lupa obat nya di minum." titah Danu, saat ke dua nya menikmatiii sarapan di meja makan.


"Iya, tapi ini terlalu banyak, apa bisa di kurangin sedikit bekal makanan ku?" pinta Layla dengan tatapan memohon.


"Itu cukup untuk kau makan sampai jam pulang, jika kurang, aku masih bisa meminta pak koki untuk menyiapkan nya lagi!" ucap Danu yang malah ingin menambah porsi bekal makanan Layla.


"Ihhsss ini aja usah!" sungut Layla dengan mengerucut.


"Laaaa! Aku udah kembali, ayo kita kampus bareng!" suara Mery terdengar menggema, di iringi suara langkah masuk ke dalam rumah.


"Apa aku gak salah dengar ka? Itu suara Mery kan?" tanya Layla dengan menatap Danu penuh tanya.


"Kau akan melihat nya nanti, apa itu Mery atau bukan." ucap Danu dengan mengerdikkan ke dua bahu nya.

__ADS_1


Sampai di ambang ruang makan, suara Mery kembali menggema.


"Layla! Astagaaa, gue udah seneng seneng dateng, udah bela belain pulang cepat, lo malah gak nyambut gue! Sedih deh gue!" gerutu Mery dengan tas di punggung, sementara tangan kiri nya menenteng paper bag.


"Mery? Ini beneran lo?" Layla menoleh ke arah Mery dengan tatapan membola senang.


Mery mengagguk kan kepala nya.


"Waaaa akhir nya lo pulang, gue kangen sama lo!" seru Layla yang beranjak, berlari menghampiri Mery.


Bugh.


Ke dua nya saling berpelukan, melepasss rindu, seakan sudah beberapa tahun gak bertemu.


"Selamat pagi Tuan, Nona!" seru Arsandi yang berdiri di belakang ke dua nya.


"Duduk lah dulu, kalian pasti belum sarapan kan?" titah Danu pada Mery dan Arsandi.


"Tau aja kalo kita belum nyarap." ucap Mery terus terang.


Danu geleng geleng kepala.


Ke empat nya sarapan bersama, dengan di selingi Mery yang terus bercerita indah nya villa, tempat ia dan Arsandi tempati.


"Mulai sekarang, di mana pun itu... biasa kan panggil saya kaka, dan kau Arsandi. Aku gak perlu mengajari mu cara memanggil ku kan?" ucap Danu melirik ke dua nya secara bergantian.


"Baik lah, kau yang mau di panggil kaka oleh ku. Bukan aku yang meminta nya ka!" seru Mery dengan menyuapkan makanan nya.


"Kalian berdua, bukan nya masih ada beberapa hari untuk honeymoon? Kenapa malah udah kembali?" tanya Layla, menatap Arsandi dan Mery bergantian.


Layla menatap penuh selidik Danu yang hanya diam sambil sesekali menyuapkan Layla makanan.


'Apa mungkin ka Danu yang meminta nya untuk kembali? Tapi kan, ka Danu udah janji sama aku... buat gak ganggu waktu Mery dan bang Arsandi honeymoon.' batin Layla, memungkiri apa kata hati nya.


Dring deing dring.


Danu mengerutkan kening nya, melihat nama yang tertera di layar hape nya, tengah menghubungi dia nya.


'Mau apa lagi wanita itu? Apa peringatan kemarin itu masih belum cukup untuk diri nya meninggalkan kantor?' batin Danu, merubah notifikasi benda pipih nya menjadi getar.


"Kenapa gak di angkat ka? Apa itu dari wanita?" tuduh Layla yang gak melesettt.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2