
...🥀🥀🥀...
"Tapi itu seperti nyata!" seru Layla, menatap wajah Danu, dengan bulir bening membasahi pipi nya.
"Apa yang kamu mimpi kan La?" tanya Danu, menyapu pipi Layla yang basahhh sisa air mata nya.
Layla menggelengkan kepala nya, tampak keraguan di wajah nya.
"Ya udah kalo kamu belom mau cerita, kita ambil wudhu dulu yuk! Abis itu kita subuh bareng! Mau kan? Kamu gak lagi halangan kan?" cecar Danu, mengetes Layla yang emang bulan ini belum datang bulan.
Layla mengaggukkan kepala nya, setuju dengan Danu. "Aku duluan ambil wudhu nya ya!" Tanpa menunggu jawabn dari Danu, Layla langsung beranjak dari atas tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi.
'Apa yang Layla mimpikan ya? Sampe segitu nya itu. Ah paling cuma kembang tidur.' tepis Danu, yang ikut beranjak dari tempat tidur.
Usai sholat subuh, Danu mengajak Layla untuk lari pagi di taman rumah, hanya mengelilingi taman rumah belakang.
"Ihs pusing ah, dari tadi muter muter taman doang, kalo taman nya gede mending amat!" gerutu Layla, dengan posisi rukuk, kelelahan setelah berlari.
"Bilang aja kalo kamu mau pamerin aku ke para tetangga yang ikut lari pagi, La!" goda Danu.
Layla menegakkan posisi berdiri nya, dengan tatapan mengejek.
"Ihs sumpah ya lo ka! Ge'er banget jadi orang. Apa tuh kalo kata anak gaul mah, na- na- narsis... iya narsis! Narsis banget jadi orang!" ucap Layla, setelah berhasil menemukan kata yang pas untuk Danu.
"Narsis?" Danu mengulang kata apa yang Layla katakan, dengan kening mengkerut.
"Iya lah itu narsis! Kenapa? Mau bilang gak tau apa itu narsis?" tanya Layla nyolot.
Danu menggelengkan kepala nya, berpura pura tidak tahu apa itu kata narsis. Melihat senyum Layla, membuat nya rela di olok bocah yang berstatus kan istri nya itu.
'Terus lah seperti ini La, aku lebih suka melihat mu ceria, dari pada bersedih!' batin Danu.
"Astagaaa, kaka ini lahir di jaman apa sih? Ini kan bukan jaman purba, yang ada nya binatang berbentuk raksasa week!" ledek Layla, menjulurkan lidah nya ke luar, lalu berlari ke dalam rumah.
"Bocah nakal! Sudah meledek, sekarang kabur! Awas saja jika berhasil ku tangkap!" ancam Danu, dengan senyum memgembang.
"Di mana Layla?" tanya Danu pada pak Didi yang sudah berdiri tegak ruang makan.
"Sudah naik Tuan." pak Didi mengarahkan tatapan nya pada meja mini bar yang tidak jauh dari dapur.
__ADS_1
Danu yang mengikuti arah tatapan pak Didi pun mengerti.
"Bagus, lanjutkan saja kerja mu!" Danu memberi kode agar pak Didi meninggalkan ruang makan.
Pak Didi melangkah pergi, setelah membungkuk memberi hormat.
Dari bawah meja mini bar, Layla berjongkok dengan memeluk erat lutut nya, sesekali menahan nafas, biar gak ketawan di mana persembunyian nya. Namun setelah pak Didi mengatakan apa yang ia minta saat Danu bertanya pada nya. Membuat Layla membuang nafas lega.
"Huh akhir nya, tapi kok ka Danu gak pergi pergi juga. Aku belum denger malah ka Danu ninggalin ini dapur. Kemana sih itu orang!" sungut Layla, yang mulai pegal dengan posisi nya.
Danu menggelengkan kepala nya, setelah melihat Layla yang bersembunyi di kolong meja mini bar, ia sempat mengintip dengan membungkukkan tubuh nya.
'Anak ini, ada ada saja tingkah nya!' batin Danu.
Sementara para art yang tengah menyiapkan sarapan dan bersih bersih rumah, tidak berani bersuara.
"Apa Tuan akan mengagetkan Nona Layla, bi?" bisik art yang tengah bersih bersih lantai.
"Entah lah! Mana aku tau! Kita lihat aja!" ucap art yang tengah mengelap pajangan di atas gupet.
Dengan perlahan Layla ke luar dari tempat persembunyian nya, dia gak tau aja kalo Danu kini berdiri di belakang nya, dengan tangan menyilang di depan dada.
"Aman dari apa?"
Suara Danu yang tampak jelas dan datar, mengagetkan Layla. Membuat nya dengan spontan langsung berdiri tegak tanpa melangkah maju.
Bugh.
"Awwwhhhh!" pekik Layla saat punggung nya malah membentur kolong meja mini bar.
Sreeek.
"Ini pasti sakit! Kau ini ceroboh sekali!" sungut Danu, mengelusss punggung Layla setelah menarik lengan Layla, membuat gadis itu lebih dekat dengan nya.
"Ihssss ini semua juga karena kaka lah! Coba gak ngagetin aku! Gak bakal gini kan!" dumel Layla, menepis tangan nya dari Danu.
"Ini sakit sekali! Pasti memar! Ah nyeselin, apa aku yang apes. Mau ngerjain, malah kena sialll!" Layla melangkah menaiki anak tangga, dengan tangan yang mengelusss punggung nya.
"Pagi Non! Punggung Nona sakit?" tanya salah satu pria berseragam security, usia nya tampak masih muda.
__ADS_1
"Pagi juga, pak! Ah iya ini cuma sakit sedikit kok! Saya duluan pak!" ujar Layla, yang langsung melanjutkan langkah nya yang terhenti.
"Gak nyangka aku, ternyata Nona Muda di sini masih sangat Muda. Tapi sayang sudah bersuami." keluh nya, menatap punggung Layla yang semakin menjauh dari pandangan nya.
"Ehem!" suara deheman terdengar keras dari belakang pria berderagam security. Membuat nya langsung menoleh ke belakang.
"Tu- Tuan, se- sejak kapan Tuan ada di sini?" tanya pak security dengan gugup, melihat tatapan dingin dari Tuan nya.
"Tugas mu di luar, kenapa ke dalam rumah? Ada yang kau cari? Memata matai istri ku? Atau mencari perhatian istri ku?" cecar Danu dengan tatapan tidak suka.
Danang, nama yang ada di dada kiri pria berseragam security. Menelan saliva nya dengan sulit, saat menyadari kesalahan yang tidak sengaja ia perbuat.
"Maaf Tuan Muda, saya ke dalam hanya untuk ke dapur, mengambil kopi yang di buatkan si mbok... untuk security yang berjaga di depan." cicit Danang dengan berpura pura bersikap setenang mungkin di depan Tuan nya.
"Kau penyusup? Karena setahu ku, security yang bernama Danang itu sudah paruh baya, dan kau masih muda!" protes Danu, dengan tatapan menelisik.
"Saya putra tertua nya pak Danang, Tuan. Ayah saya sedang sakit, jadi saya yang menggantikan tugas nya berjaga tadi malam, Tuan!" jelas Danang yang bukan nama sebenar nya.
"Jaga sikap mu! Jika kau ingin ayah mu masih aku pekerjakan di rumah ini!" ucap Danu dengan tegas.
Danu langsung meninggalkan Danang, tanpa menunggu jawaban pria yang bahkan ia tidak tau nama sebenar nya.
"Apa aku salah, kenapa Tuan tampak marah pada ku? Huh sudah lah!" Danang yang bukan nama sebenar nya pun langsung menuju dapur.
Sementara Danu mengepalkan tangan nya.
"Aku harus membuat peraturan baru. Aku tidak ingin, wajah manis Layla di nikmati setiap pria yang bekerja di rumah ini! Berani nya bocah itu!" umpat Danu dengan wajah kesal, merah padam.
Ceklek.
"Layla!" seru Danu dengan suara menggelegar di dalam kamar.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
__ADS_1
...Kehaluan semata...