
...🥀🥀🥀...
"Kita bukan nuduh, La... tapi apa lagi kalo bukan di campur obat!" sungut Nina.
"Apaan yang di campur obat?" tanya Mery dengan alisnya yang naik turun.
Layla dan Nina menoleh ke belakang kursi mereka. Di lihatnya Mery yang duduk bersama dengan Sopur dengan wajah Sopur yang masam.
"Gak ada kok!" ucap Layla dengan gelengan kepala di sertai tarikan di sudut bibirnya.
"Eh La, gue liet soal yang ini dong!" buru buru Nina mengalihkan perhatian ke duanya.
"Selamat pagi anak anak!" seru pak Asep dengan senyum menawan yang melangkah memasuki kelas, dengan buku tebal yang ada di tangannya.
"Pagi paaaaak."
Sopur sama sekali tidak konsen dengan pelajarannya, gue masih penasaran nih! Layla pergi sama siapa ya! Itu foto kan jelas banget gambarin si Layla yang lagi di gendong cowok, begonya lagi gue cuma bisa ngambil dari belakang, coba dari depan... gak bakal dah itu si Layla berkelit... tapi kok Layla masih anteng anteng aja. Apa itu anak belum liet foto yang gue pajang di mading ya!
Mery melirik sekilas pada Sopur, gue makin yakin nih, kayanya beneran deh itu Sopur sama Nugi yang ngerjain Layla. Bagen gue gak ikut Layla ke bioskop kemaren sama mereka. Tapi waktunya itu lo, ka Nugi bisa berada di tempat yang sama ama itu anak! Sopur kan demen banget sama ka Nugi, pasti lah di suruh ngapain aja mau bae!
"Kenapa lo ngelietin gue? Baru tau kalo gue cantik!" ucap Sopur dengan sinis, mendapati dirinya di tatap Mery.
"Ihs males banget gue bilang lo cantik! Cantik busuk ati! Jauh jauh deh dari lingkungan gue!" Mery mengibas kibaskan tangannya, bak mengusir anak ayam.
"Kamprettt lo!" sungut Sopur.
Mery menyeringai berkata dengan suara pelan. "Mending lo jujur aja sama gue... lo kan yang ngambil itu foto di mading?" Mery memainkan satu alisnya naik dan turun.
Sopur meremasss ujung roknya yang ada di bawah meja. "Emmmm engga, e-- enak aja lo kalo nuduh! Ja- jangan nuduh sembarang lo!"
"Biasa aja dong lo, gak usah gugup gitu, dengan lo gugup, maka gue semakin curiga kalo lo pelakunya!" ejek Mery santai dengan mengelusss bahu Sopur.
"Kalian berdua! Hei! Perhatikan kalo saya lagi terangkan! Awas ya kalo saya tanya, kalian berdua tidak bisa menjawabnya!" suara tegas menggema di dalam kelas.
Siapa lagi kalo bukan suara pak Asep, yang tengah menegur Mery dan Sopur, yang kedapetin malah sibuk dengan pembahasan mereka berdua di tengah jam pelajaran pak Asep.
"Hadeeeh, ada ada aja itu bocah berdua!" gumam Irvan melihat ke dua temannya yang berhasil memancing kemarahan pak Asep.
Sementara di gedung pencakar langit, dengan dinginnya pendingin ruangan, nampak 2 pria yang tidak lagi muda, kini tengah asik bercengrama di tengah tengah kesibukan mereka membahas kerja sama yang akan mereka jalin.
"Yang benar kamu, Noval... jadi semalam Layla itu bersama dengan Danu di apartemennya? Kok bisa, gimana ceritanya?" tanya Baskoro dengan penasaran.
"Iya benar lah, masa aku bohong. Wong anak kamu sendiri yang telpon aku, minta izin buat Layla bermalam di apartemennya." terang Noval.
"Wah aku tidak menyangka lo, ternyata hubungan mereka bisa sejauh itu!" terang Baskoro.
"Selama mereka tidak bertindak jauh, tidak melakukan hal yang bertentangan dengan moral, aku tidak masalah. Lagi pula kan Danu itu tunangan Layla, pasti lah Danu akan menjaganya." ucap Noval panjang lebar.
__ADS_1
"Kau benar, pasti Danu punya alasan sendiri kenapa tidak mengantarkan Layla pulang ke rumah mu!" Baskoro mengangguk kecil.
Ceklek.
Sifanye menerobos masuk ke dalam ruang kerja Baskoro, meski seorang wanita sudah mencegahnya.
"Ayah! Di mana kamu yah!" seru Sifanye, bak orang kesetanan dengan suara naik satu oktaf, begitu pintu ruang direktur berhasil ia buka.
"Maaf bu, ibu tidak bisa masuk sembarangan!" ucap Keli pada Sifanye.
Membuat 2 orang pria paruh baya menoleh ke arah pintu.
"Kamu ngapain di sini, mah?" Noval langsung beranjak dari duduknya, dengan wajah memerah menahan rasa malu dengan tingkah Sifanye.
"Maaf, pak... saya sudah berusaha mencegahnya." ucap Keli dengan penuh sesal, wajah tertunduk pada atasnya.
"Aku tadi sudah ke kantor mu, tapi kau tidak ada, ya sudah aku menyusul saja ke sini!" Sifanye memeluk lengan Noval dengan posesifnya.
"Harusnya kau bisa mengabari ku dulu, mah!" seru Noval dengan penuh penekanan, berbisik di telinga Sifanye.
"Biarkan Nyonya ini masuk! Kamu buatkan secangkir teh hangat manis untuk nyonya ini!" ucap Baskoro dengan tegas pada Keli.
"Baik pak, saya permisi!" ucap Keli dengan patuh setelah menunduk hormat pada atasnya.
"Apa aku bilang!" sungut Sifanye dengan mata melotot pada Keli.
"Sudah lah Noval, biarkan istri mu bergabung dengan kita." cicit Baskoro, mempersilahkan tamu tidak di undangnya untuk duduk di sofa.
"Tuh lihat, calon besan saja menyuruh ku untuk duduk, yah!" cibir Sifanye, dengan menuntun Noval untuk kembali duduk di sofa.
Baskoro terperangah. "Hah? Calon besan?"
"Layla dan Danu akan menikah kan? Jadi kita ya baru calon besan." terang Sifanye dengan mendudukkan bobot tubuhnya di sofa, Noval ikut duduk di sampingnya.
Baskoro mengangguk mengerti.
"Jadi ayah gak curiga, kenapa Layla gak pulang ke rumah semalam? Gimana sih kamu yah! Gak ada rasa khawatirnya sedikit apa sama anak kamu yang satu itu?" tanya Sifanye, yang tidak lagi memperdulikan tempat dan ada siapa saja di sekitarnya.
"Bukan begitu, mah! Kan Layla pulang bersama dengan Danu, bisa juga kan mereka gak sengaja bertemu, karena sudah malam jadi Danu mengajak Layla ke apartemennya." terang Noval tidak ingin membuat Sifanye punya asumsi buruk untuk Layla.
"Nyonya tenang saja, saya pasti akan mempercepat pernikahan ke duanya, jika sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Layla." Baskoro menyunggingkan senyumnya, mungkin itu yang di takuti istri mu, Noval.
"Lalu calon besan percaya begitu saja, jika benar Layla dung, dan itu anak nak Danu?" Sifanye memberikan isyarat dengan gerakan tangannya pada perutnya yang datar.
Sementara di tempat lain.
"Buka pintu aja lama sekali!" gerutu Danu.
__ADS_1
"Maaf bos. Lagi dateng bulan ya bos? Sensi amat bawaannya!" celetuk Arsandi.
"Bukan urusan mu! Di mana sih lokasinya! Bukannya lokasi itu berada tepat di depan jalan raya?" gerutu Danu, menutupi matanya dari silaunya matahari dengan telapak tangannya.
"Kan saya bilang juga apa, bos! Lebih baik bos tinjau ulang, benar gak itu lokasinya sesuai dengan gambaran dari pengembang." ejek Arsandi.
"Berani kau menyalahkan ku? Yang mengenalkan aku dengan pengembang bodohhh itu memang siapa? Kau kan!" bela Danu yang tidak ingin di salahkan.
Arsandi menelan salivanya dengan sulit. "Maaf bos! Ini salah saya, tapi tidak sepenuhnya ya bos hehehe!" kekeh Arsandi.
"Mencari alasan saja kau ini!"
"Lebih baik kita bertanya aja bos sama warga sekitar, kali aja mereka tau lokasi yang kita cari." Arsandi menyuarakan pendapatnya.
"Kau tanya saja sana! Biar aku tunggu di sini!" Danu menarik lengan bajunya, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sedikit lagi dia pasti pulang sekolah, aku tanya paman Noval aja kali, Layla biasanya di jemput apa gak.
"Halo paman, begini paman. Apa paman sudah menyuruh orang paman untuk menjemput Layla? Kalo belum, biar saya aja paman yang jemput, sekalian lewat." terang Danu bohong, saat sambungan telponnya sudah tersambung dengan Noval.
[ "Belum nak, tapi apa tidak merepotkan mu. Paman takutnya malah membuat mu repot." ]
"Gak kok paman, kalo gitu biar saya yang jemput ya paman. Biar nanti Layla saya langsung antar ke rumah paman."
[ "Boleh nak, boleh... sekalian ya kamu jemput adiknya Layla, Lulu." ]
"Iya paman. Kalo begitu saya langsung jalan ya paman! Assalamualaikum paman." Danu langsung mengakhiri panggilan telponnya setelah mengucapkan salam.
"Ehem ehem, katanya gak cinta, cuma kasian, tapi kayanya udah mulai naro perhatian nih ciyeee si Danu ahahahay!" ledek Arsandi yang ternyata sudah berdiri di belakang Danu dengan terkekeh.
"Sejak kapan kau berdiri di sini?" Danu menatap tajam Arsandi.
Sejak cinta monyetnya kandas dengan Aleta, ia memilih fokus pada pendidikannya sendiri, pada hal hatinya masih belum bisa terima. Di tinggal begitu sama sama Aleta, secara Aleta cinta pertamanya.
Tapi dengan posisi Danu yang sekarang, Danu jadi tahu alasan di balik keputusan Aleta dulu. Yang mendorongnya untuk menerima Layla.
"Yakin mau tau sejak kapan saya berdiri di sini, bos?" ledek Arsandi.
"Sialannn kau! Apa kata warga sekitar?" Danu mengalihkan perhatiannya pada lokasi yang tengah ia tinjau.
Bersambung...
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....
__ADS_1
...Makasih yooo ☺️☺️...