Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Nyawa di bayar nyawa


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Apa yang terjadi sama kamu, Mery? Siapa yang tega ngelakuin ini sama kamu?" tanya Layla, meski tau Mery gak akan menjawab pertanyaan nya.


Dengan ke dua mata nya, Layla melihat luka bekas tamparannn di ke dua pipi Mery, wajah Mery tampak pucattt seakan gak ada sel darah merah yang mengalir di wajah nya.


"Apa yang sebenar nya terjadi sama Mery?" tanya Layla pada diri nya sendiri.


Layla membuang nafas nya dengan kasar, mengajak Mery bicara dengan tangan yang terus menggenggammm jemari Mery.


"Aku gak tau siapa yang ngelakuin ini ke kamu, Mer. Aku juga gak tau kenapa kamu bisa kaya gini, mau sekeras apa pun aku bertanya pada Doni, tetap aja dia gak mau kasih tau aku. Poko nya, setelah kamu membuka ke dua mata kamu, aku janji sama kamu. Aku bakal bales perbuatan orang orang yang udah jahatin kamu, Mer!" ucap Layla penuh keyakinan, dengan sorot mata penuh kesal.


.


.


Di tempat lain.


"Kenapa jika langit berawan buruk? Kita harus segera sampai di sana! Mery membutuhkan ku!" teriak Arsandi dengan penuh emosi, dengan ke dua tangan mencengrammm erat kerah leher sang pilot.


"Jika penerbangan tetap di lakukan, hal buruk akan terjadi Tuan. Tunggu lah hingga beberapa jam lagi." ucap pilot panjang kali lebar, mencoba memberikan pengertian pada Arsandi.


"Kalian lanjutkan saja tugas kalian!" titah Danu datar tanpa ekspresi.


Arsandi melepaskannn cengramannn tangan nya dari kerah kemeja sang pilot.


Puk puk puk.


Danu menepukkk nepukkk bahu Arsandi sambil berseru, "Sabar, tenangkan hati mu. Semua pasti akan baik baik aja." ucap Danu, meski ia sendiri sedang berusaha menutupi rasa khawatir nya pada Mery.


"Tenang kata mu? Bagaimana aku bisa tenang, ini Mery! Hal terburuk yang paling aku takutkan pun terjadi, ini semua karena mu Danu! Harus nya kau bersabar, gunakan cara ku!" umpat Arsandi, menatap kesal Danu.


Sreek.


Arsandi mendorong lengan Danu, membuat Danu oleng namun gak membuatkan hilang keseimbangan.


Arsandi memilih duduk di ruang tunggu kelas eklusif, sambil menunggu kabar baik akan cuaca hari ini.


'Aku juga gak pernah menyangka jika pria itu benar benar nekaddd, ini benar benar di luar dugaan ku!' batin Danu sedikit menyesali perbuatan nya, yang meminta Doni untuk menggertak Roy.


Danu menghubungi Doni lewat benda pipih nya.

__ADS_1


[ "Bagaimana keadaan nya?" ] tanya Danu, saat Doni menjawab sambungan telepon nya.


^^^"Sudah di tangani dokter, Tuan. Untuk apa yang terjadi, biar dokter yang akan menjelaskan pada Tuan Muda Danu." ucap Doni sedikit sungkan dan merasa bersalah.^^^


[ "Bagaimana dengan Roy?" ] tanya Danu.


^^^"Mayat nya sudah di urus yang lain. Di rumah sakit juga sudah ada Nona Layla dan ke dua sahabat nya."^^^


'Apa yang sudah di lakukan Roy pada Mery, sampai Doni tanpa segan menghabisi Roy? Apa mungkin Roy sudah melecehkannn Mery?' tanya Danu dalam benak nya, begitu tau Roy tewas.


[ "Kau tetap berada di rumah sakit, apa pun perkembangan nya, segera hubungi nomor ku!" ] titah Danu gak mau di bantah.


^^^"Siap Tuan Muda!"^^^


Danu duduk di samping Arsandi, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.


"Apa kau ingat, bagaimana dulu mama Devinta membawa kita berdua pergi dari panti asuhan?" tanya Danu dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku pasti akan selalu mengingat nya, untuk bisa tetap saling bersama, kita bahkan rela meninggalkan gadis kecil itu di panti. Entah sudah sebesar apa gadis kecil itu!" gumam Arsandi dengan tatapan lurus ke depan.


"Setelah itu, kita gak pernah lagi bertemu dengan nya. Karena kita langsung di bawa papa Baskoro dan mama Devinta pergi ke luar kota dan menetap di kota tersebut selama beberapa tahun lama nya." terang Danu, melanjutkan kata. kata Arsandi.


"Maka dari itu, semua yang aku lakukan saat ini, hanya ingin kau mendapat kan kebahagiaan mu!" jelas Danu.


Arsandi menghembuskan nafas nya dengan kasar. "Semoga bocah itu baik baik aja, apa pun keadaan nya. Aku akan tetap menerima nya! Baik buruk nya, Mery tetap lah istri sah ku, dan sampai kapan pun kami akan tetap bersama!" seru Arsandi dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan di mata dan hati nya.


"Kita do'akan aja Mery baik baik aja di sana, tidak ada hal buruk yang harus di khawatir kan!" ucap Danu meski terdengar memberikan harapan palsu pada Arsandi, meski ia sendiri sudah dapat menerka, jika Mery gak baik baik aja saat ini.


.


.


Di dalam sel.


"Kenapa sampai detik ini, Roy belum juga memberi ku kabar baik! Harus nya dia berhasil menakluk kan hati Mery, menghancur kan Layla, membuat Layla dan Danu terpisah. Apa yang di kerjakan Roy?" gerutu Aleta, yang berjalan mondar mandir di dalam sel dengan harap harap cemas.


.


.


Sementara di tempat lain.

__ADS_1


"Harus nya bang Roy udah tiba di rumah, tapi kenapa ini belum juga sampe rumah ya? Gak mungkin terjadi hal buruk kan" tanya Angel sesekali melirik jam digital yang ada di layar benda pipih nya.


Brakkkk.


Angel tampak terkejut, saat ke dua indra pendengaran nya mendengar pintu rumah nya di dobrakkk oleh seseorang dari luar rumah.


Beberapa orang pria berbadan besar, masuk ke dalam rumah yang selama ini di tempati Angel dan juga seorang nenek, yang gak lain adalah nenek kandungan Roy sendiri.


"Siapa kalian? Heh, sembarangan masuk dan rusak pintu rumah orang? Ke luar kalian dari rumah ku?" usir sang nenek yang muncul dari salah satu kamar, nelihat beberapa orang masuk ke dalam rumah nya.


Dugh.


Salah seorang mendorong tubuh sang nenek, hingga terjungkal ke belakang.


Dor.


"Akkkhhh!" pekik sang nenek yang mendapat tembakan di jantung dan tewas seketika.


Angel menutup mukut nya, dengan tangan nya. Dengan mata membola, melihat wanita tua yang ia anggap nenek nya di tembak pria yang gak ia kenal.


'Apa yang terjadi? Siapa mereka sebenar nya? Kenapa mereka menembak nenek? Apa salah nenek? Siapa sebenar nya yang mereka cari?' pertanyaan demi pertanyaan, berseliweran di kepala Angel. Meski gak akan mendapat jawaban nya, jika ia gak bertanya langsung pada pria yang menerobosss masuk ke dalam rumah nya.


"Cari wanita itu sampai dapat, jangan biarkan ia lolos. Nyawa di bayar nyawa, kaka nya sudah berani mencelakai Nona. Adik nya pun harus celaka?" gerutu salah satu pria berbadan besar, memberikan arahan lewat gerakan tangan nya.


Angel dapat mendengar dengan jelas, di balik dinding pembatas ruang, Angel berjongkok menghindari orang orang yang kini tengah mencari keberadaan nya.


Angel mengerutkan kening nya, mengingat kembali yang di katakan pria yang masih mencari nya itu.


'Siapa wanita yang di buat celaka bang Roy? Nona, itu berarti orang penting yang udah bang Roy singgung. Gak mungkin jika wanita itu adalah Mery kan? Mery cuma anak yang gak jelas siapa bapak nya.'


Tap tap tap.


"Hai cantik! Sedang apa kau di sini? Sedang menunggu siapa kau hah?"


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️

__ADS_1


__ADS_2