Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Parfum kematiannn


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Lo gak apa Nin?" tanya Layla cemas, menoleh ke belakang, dengan ke dua tangan berada di sandaran kursi.


"Gak apa kok, La! Emang ada apaan sih? Kita udah sampe?" tanya Nina.


"Belum sampai, tapi gak tau kenapa Arsandi menghentikan laju kemudi nya." cicit Danu, tatapan nya gak lepasss dari mobil yang ada di depan nya.


"Apa Arsandi dan Mery, bertengkar ka?" tebak Layla.


"Kalo mereka bertengkar, pasti salah satu dari mereka ada yang sudah turun. Biar aku hubungi Arsandi." Danu baru akan merogoh saku jas nya, namun urung. Karena ada melihat ada yang mencurigakan.


"Kalian tunggu lah di sini, jangan ke luar sebelom aku kembali! Kalian mengerti kan!" titah Danu mengelusss pipi Layla lalu mengecup nya dengan nada datar.


"Emang kenapa ka? Mobil bang Arsandi kenapa?" tanya Layla ingin tau.


"Kunci mobil dari dalam!" titah Danu, gak lagi perduli dengan ucapan Layla, ia ke luar dari mobil dengan tergesa gesa.


"Astagfirullah La! Liet itu, orang orang itu dateng dari mana, mereka tau tau banyak La!" Nina menunjuk ke depan dengan terperangah.


"Apa?" Layla mengerutkan kening nya, gak nyangka dengan apa yang ia lihat.


Mobil Arsandi di kepung beberapa orang berpakaian preman.


Bugh bugh bugh prang trang crang.


Beberapa orang mengarahkan kayu balok ke arah mobil Arsandi, ada yang mengenai kap mobil, kaca samping dan kaca depan.


Berkali kali di arahkan, hingga membuat kaca mobil pecah berserakan.


"Akkkhhhh! Mimpi apa gue semalam." pekik Mery, memunggungi pintu mobil dengan menyembunyikan kepala nya dengan ke dua tangan nya.


"Sialll, kenapa jadi begini! Siapa mereka? Apa mau mereka!" gerutu Arsandi, menoleh ke arah Mery yang tampak ketakutan.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku nakalll, tapi baru kali ini aku mengalami hal seperti ini!" ucap Mery, gak berani menunjukkan wajah nya.


"Ke luar lo, Arsandi! Serahin itu anak, kalo lo pengen pergi hidup hidup dari sini!" seru salah seorang dari mereka dengan tawa bahagia.


Danu menatap mobil Arsandi dengan kilatan kemarahan. "Dasar bodohhh! Harus nya langsung putar balik, bukan berhenti di tempat!" umpat Danu, melihat Arsandi gak ada inisiatif untuk melajukan kendaraan nya.


Sreek


Bugh bugh prak tak.


Danu menarikkk orang yang paling dekat dengan jangkauan nya, lalu memberikan nya pukulannn pukulannn, menjatuhkan nya satu persatu.


"Gila, keren. Itu baru pak Danu. Tapi apa yakin La, pak Danu bisa ngalain itu orang orang? Pak Danu kalah jumlah La! Gimana kalo pak Danu sampe di keroyokkk! Ancur itu muka bengeppp bengeppp!" seru Nina dengan heboh, ke dua tangan nya mencengramm sandaran kursi yang di duduki Layla, tatapan Nina tertuju pada pak guru nya.


"Aku harus telpon pak polisi!" Layla mengeluarkan benda pipih nya dari dalam saku seragam nya.


"Cepetan La! Jangan sampe terlambat. Kalah jumlah itu pak Danu La!" cicit Nina gak sabar.


"Iya sabar, ini juga lagi berusaha cepat kok!" Layla mendiel nomor kantor polisi, menunggu panggilan nya tersambung.


"Terus pak, hajarrr pak, tendanggg pak. Awas di belakang pak! Bagus, tinjuuu pak! Uuhhh pengen gue unyenggg unyenggg itu orang." seru Nina dengan gemasss, tangan nya mengepalll angin, sesekali bergerak seakan ikut larut melihat gerakan Danu.


^^^"Selamat siang, dengan kantor kepolisian. Ada yang bisa kami bantu!"^^^


[ "Pak, tolong pak. Mobil teman saya tiba tiba di hampiri dengan beberapa orang gak di kenal, kami ada di jalan abcd, tolong ya pak. Kedatangan nya segera!" ] pinta Layla dengan suara panik.


^^^"Baik Nona, kami akan segera meluncur ke TKP, untuk saat ini sebaik nya Nona mencari tempat berlindung."^^^


Layla membuang nafas kasar, menyimpan benda pipih nya, melihat ke depan. Danu tengah melawan segerombol orang gak di kenal dengan tangan kosong.


"Gue gak bisa diem aja, harus bertindang meski gak bisa berbuat banyak buat ka Danu!" pikir Layla, membuka tas ransel nya, mencari sesuatu yang bisa di jadikan alat untuk nya melawan penjahat.

__ADS_1


"Tebakan lo, mereka semua siapa La?" tanya Nina dengan tatapan menyelidik.


"Gue gak tau. Gak bisa mikir " celetuk Layla.


"Kamu berlindung lah di sini!" ucap Arsandi setelah Mery pindah berjongkok di bawah dasboard mobil.


Mery hanya mengangguk patuh. 'Selamat kan aku dan teman teman ku ya allah!" do'a Mery meski dalam hati.


Ceklek.


Arsandi ke luar dari dalam mobil, ikut menyerang balik orang orang yang melakukan pengrusakan pada mobil nya.


Bugh bugh prak dugh.


Arsandi menghindar, balas mengarahkan kepalannn tangan nya pada orang orang yang hendak memukulll nya.


"Bedebahhh kalian!" seru Arsandi kesal, dengan tangan dan kaki nya yang terus bergerak melakukan perlawanan, menjatuhkan orang orang yang gak ia kenal satu persatu dengan bantuan Danu.


"Mau jadi pahlawan ke siangan lo?" tanya salah seorang, melihat Danu yang berhasil mengalahkan beberapa orang yang terkaparrr di atas aspal.


"Siapa yang menyuruh kalian!" seru Danu dengan lantang. Mengunci salah seorang yang kini berada dalam genggammm nya.


"Kami cuma orang suruhannn! Lepaskannn saya!" ucap nya mencoba melepaskannn diri dari tangan Danu yang mengunci pergerakan nya.


"Orang itu punya nama kan! Jawab, siapa orang nya!" desak Danu, menekan telapak tangan lawan nya hingga bunyi.


Kreeek.


"Uggghhh sakit, lepasss! Akkkkkkh Ju- Julia yang menyuruh kami. Sa- saya sudah katakan, sekarang lepaskannn saya!" ucap nya setelah Danu semakin kencanggg menarikkk tangan nya ke belakang punggung.


Bugh.


Danu menghempaskan nya hingga pria itu jatuh tersungkur ke aspal.


Danu dan Arsandi sama sama bersatu, menghajarrr orang orang yang melakukan tindak pengrusakan pada mobil Arsandi.


Ceklek.


"La, jangan ke luar. Kata pak Danu ___" ujar Nina dengan mata membola, melihat Layla malah nekaddd ke luar dari dalam mobil.


"Gue punya senjataaa kok!" Layla menunjukkan botol parfum yang ada di tangan kanan nya.


"Gila, laki bini sama sama nekaddd lo La!" seru Nina dengan gelengan kepala.


"Tangkap anak itu!"


"Layla! Apa yang kamu lakukan!" tatapan Danu tajam, melihat Layla yang kini di incar orang orang gak di kenal.


"Tenang ka, aku bisa melindungi diri!" ucap Layla yakin tanpa gentar.


"Ahahaha cewek itu yang bodoh, menyerahkan nyawa nya sendiri sama kita. Cepetan tangkep!"


"Ayo manis, menyerahkan diri itu jauh lebih baik. Ikut abang ya manis!" bujuk salah seorang pria yang menghampiri Layla dengan tangan merentang.


"Layla! Pergi!" teriak Danu, berusaha menyusul Layla, berniat melindungi Layla. Namun di hadap yang lain nya.


Bugh bugh.


Di luar perkiraan 2 orang yang hendak meringkus Layla. Tangan kanan Layla mengarahkan sebuah benda ke mata mereka, lalu menyemprotkan nya.


Srooot srot srooot srot.


"Akkk periiiiih, perih mata gue! Sialannn nih anak!"


"Panasss, sialannn. Mata gue lo apain dasarrr bocah sialannn!"

__ADS_1


"Makan tuh parfum kematiannn!" seru Layla dengan senyum di bibir nya.


Bugh dugh.


Layla menendangg pria yang sibuk mengucek ke dua mata nya itu, hingga pria itu tersungkur ke aspal.


Di susul dengan suara sirine mobil polisi.


Wiiiiw wiiiw wiiiiw wiiiiw.


Bugh.


Danu menendang kaki Arsandi, sebelom ia menghampiri Layla.


'Sialannn, kenapa kaki ku di tendang!' Arsandi meringisss tanpa berani mengeluh, mengumpat Danu hanya dalam hati.


"Kenapa kau malah berhenti hah! Kau tau, kebodohan mu ini bisa membahayakan yang lain nya!" Danu menunjuk kening Arsandi dengan jari telunjuk nya.


"Maaf Tuan, mereka terlalu banyak, sa- saya___" Arsandi langsung diam gak berani melanjutkan kata kata nya, saat tatapan Danu berubah seakan ingin melenyapkan nya.


"Ka Danu, udah jangan marah lagi!" Layla berlari menghampiri Danu, saat melihat polisi mulai berhamburan, menangkap orang orang yang terkaparrr di aspal.


"Kamu yang menghubungi mereka?" tanya Danu dengan tatapan datar.


Layla mengangguk. "Aku hebatkan!" ucap Layla dengan bangga.


Cup.


Danu mengecup bibir Layla.


"Aku lebih bangga, jika kamu menurut! Bukan membantah! Nanti malam kamu harus terima hukuman mu!" ucap Danu dengan tatapan tajam, suara yang datar dengan wajah tanpa ekspresi.


Layla menelan saliva nya dengan sulit. 'Salah lagi, serem banget sih kalo lagi kaya gini ka Danu di liet nya! Udah kaya mau makan orang! Hukuman apaan lagi! Bukan nya makasih udah di bantuin telpon polisi!' gerutu Layla dalam hati.


Hap.


"Akkhhh!" pekik Layla, saat tubuh nya melayang karena dua tangan besar Danu menggendong tubuh nya.


"Kau urus sisa nya! Kita ketemu di rumah makan cinta Layla!" seru Danu, membawa Layla menuju mobil yang ia kemudikan


"Gimana sama Mery dan bang Arsandi ka? Lalu polisi?" tanya Layla khawatir.


"Mereka bukan anak kecil lagi, bisa mengurus diri mereka sendiri!" Danu mendudukkan Layla di dalam mobil, mengenakan sabuk pengamannn untuk tubuh Layla.


"Pak, saya udah mencegah Layla, tapi kan bapak tau sen---" Nina menunduk kan wajah, saat mendapati tatapan menyeramkan dari Danu.


Danu melajukan kembali mobil nya, meninggalkan Arsandi dan Mery dengan polisi yang tampak mengajukan pertanyaan pada Arsandi.


"Mereka siapa ka?" tanya Layla, menatap nya ingin tau.


"Suruhan teman kalian." ucap Danu singkat.


"Siapa?" tanya Layla, gak bisa menebak.


"Terakhir kamu berseteru dengan siapa, sayang?" Danu menoleh sesaat, dan fokus kembali pada kemudi.


"Julia pak!" tebak Nina gak meleset.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Like dan komentar nya dong, 😅😅


Hayo yang baca ampe scroll akhir. Kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dong, biar makin semangat updat nya

__ADS_1


__ADS_2