Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Berpura pura


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Pria dengan seragam satpam, berdiri di depan pintu besar yang sudah terbuka lebar, suara dentuman musik yang amat keras, langsung terdengar di telinga.


Sodik menatap art yang berdiri tidak jauh dari Sifanye duduk.


Pluk pluk pluk.


Sodik menepuk nepuk bahu art yang usianya tidak jauh berbeda dengan Sifanye, hanya nasibnya saja yang kurang beruntung menjadi art, sedangkan Sifanye menjadi Nyonya.


"Mati lu!" ucap art dengan spontan.


"Gua masih pengen idup! Nyonya besar kenapa? Di luar ada nyonya Tati yang lagi teriak teriak minta di bukain gerbang. Gua bukain kaga ya?" tanya Sodik dengan setengah berteriak, lantaran suaranya yang kalah dengan suara musik yang masih berdentum.


"Nyonya Sifanye udah tau kalo di luar ada Nyonya Tati, makanya dia nyetel musik kaya orang kesetanan." ucap art yang tidak lain adalah Sulastri, istri dari sodik.


"Lah terus gimana ono, kalo di diemin, yang ada nanti mancing penghuni kompleks yang merasa terganggu." ucap Sodik lagi, ia menggaruk kepalanya dengan frustasi, aduuuuh gua bingung ngadepin orang banyak duit, gini amat ya!


Sulastri mengerdikkan bahunya. "Lu tanya Nyonya aja gih!" Sulastri hendak mengayunkan kakinya, ingin meninggalkan Sodik.


Grap.


Sodik menggenggam tangan Sulastri, sambil bertanya. "Mau ke mana lu?"


"Kuping gua budek lama lama di mari, mending gua ke taman belakang, adem lietin aer di kolem!" ucap Sulastri.


"Kita ngebak bae yuk kalo lu mau ke taman belakamg liet aer di kolem!" tawar Sodik dengan kerlingan matanya.


"Ngebak sono gidah lu ama ikan lele!" Sulastri menutup wajah Sodik dengan telapak tangannya, lalu berlalu meninggalkan sang suami yang mendengus kesal.


"Dasar bini ora punya akhlak, tangan lu bekas megang apa kali, bau besi gitu!" sungut Sodik yang tidak di dengar lagi oleh Sulastri.


Sifanye tampak duduk dengan tenang di sofa, sambil melihat lihat layar hape-nya, banyak menampilkan barang barang branded. Alih alih terganggu dengan suara musik yang ia setel dengan keras, ia justru tampak menikmatinya.


Sodik membuang nafasnya dengan kasar, memberanikan diri untuk menghadapi macan wanita yang sulit di tebak moodnya.


"Nyonya! Nyonya Sifanye!" seru Sodik dengan suara nyaringnya saat sudah berdiri di samping Sifanye.


Sifanye mengibaskan tangannya, mengusir Sodik dari hadapannya.


"Ke luar kamu, biar nanti ayah Noval yang menghadapi wanita gila itu!" sarkas Sifanye, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar hape-nya.


Sodik kembali ke markas, tempat ia bekerja, mana lagi kalo bukan pos yang sudah lama ia huni selama menjaga rumah Noval dan Sifanye.


"Apa kata Nyonya?" tanya Soleh.


"Kayanya bos Noval bakal pulang cepat hari ini!" ucap Sodik dengan mendudukan dirinya di dalam pos.


"Lah terus onoh, gimana nasibnya?" Soleh menatap arah gerbang yang masih berbunyi nyaring, lantaran masih di gebrak gebrak Tati.


"Kita lietin aja lah!" ucap Sodik dengan santai.


Sementara sebuah mobil mewah sedang melaju, memecah jalan ibu kota yang tampak sibuk dengan kendaran lain yang ikut berlalu lalang.

__ADS_1


"Maaf ya nak Danu, om jadi merepotkan mu." ucap Noval yang kini berada di dalam mobil Danu.


"Gak apa om." ucap Danu singkat.


"Bisa kita mampir ke toko buah dulu nak! Ada yang ingin om beli untuk Layla." ucap Noval saat mobil yang Danu kemudian hendak melewati toko buah.


"Boleh om." tanpa banyak bertanya, Danu memarkirkan mobilnya di bahu jalan.


"Apa kamu gak mau ikut turun? Mungkin ada yang ingin kamu beli juga?" tawar Noval setelah membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.


"Biar Danu tunggu om di dalam mobil aja!" tolak Danu.


Noval hanya tersenyum tipis, lalu ke luar dari mobil, kalo Danu sampe nikah sama Layla, aku yakin. Danu bisa menjaga putri ku itu, dia bisa memberikan apa yang selama ini tidak bisa aku berikan pada Layla.


Sambil menunggu Noval yang membeli buah, Danu mengeluarkan hapenya yang ada di dalam saku celananya.


"Ihs kenapa juga aku harus menemukan note ini!" Danu meremasss kertas yang ia temukan di dalam saku celananya, lalu melemparkannya ke dasboard mobil.


Grup alumni SMP di hapenya begitu ramai. Banyak chat yang masuk saat Beni mengirim sebuah kunci dan foto sebuah villa ke dalamnya.


Beni




Jelita


Apaan tuh maksudnya, Ben?


^^^Ajimmmm, bayar berapa itu buat nyewa villa segede gaban?^^^


Luki


Gak kira kira lu, Ben... ngajakin reuni di tempat mahal kaya gitu! Gaji gue sebulan gak cukup buat bayar sewa 🤣🤣


^^^Beni^^^


^^^Gue cuma minta, kalian pada dateng, kapan lagi kita reuni, ketemu teman lama. Inget kan lu pada gak kalah dekil dari gua 🤣🤣^^^


Hakim


Anjimmm banget lo, Ben!


^^^Jelita^^^


^^^Banyak yang ikut gak? Kalo banyak yang gak ikut, gak seru lah.^^^


Beni


Yang laen mana suaranya? Gak usah pada mikirin sewa, itu ada bos Danu yang siapin tempat eklusif buat kita. Bilang makasih lu pada sama bos Danu! Bos besar gue.


^^^Luki^^^

__ADS_1


^^^Keren lu, Danu. Makin sukses yo! Jangan lupa acara reuni bawa pacar lo!^^^


Beni


Jangan bahas pacar woy! Bos gue belom bisa move on dari ayang beb!


Danu tampak mengerutkan keningnya, senyum yang sempat terukir di bibirnya, dalam seketika lenyap begitu saja saat membaca chat Beni yang terakhir.


"Sialannn si Beni, minta di pecat itu anak!" sungut Danu dengan tangan mengepal.


Noval kembali masuk ke dalam mobil, menyimpan parsel buah di atas pangkuannya. "Ada apa nak? Apa ada yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Noval melihat Danu mengepalkan tangannya.


"Tidak ada, om... apa ada tempat lain yang ingin om kunjungi?" Danu kembali melajukan mobilnya, setelah menyimpan kembali hapenya ke dalam saku celananya.


"Tidak ada, om rasa saat ini pasti Layla sedang bingung untuk melanjutkan hidupnya." terang Noval dengan hembusan nafas yang panjang, Noval menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil yang ia duduki.


"Bingung kenapa? Harusnya tidak ada yang membuatnya bingung, jika Layla masih memiliki orang tua yang lengkap, tidak seperti ku yang hanya memiliki papa." terang Danu, sesekali melirik pria paruh baya yang duduk di sampingnya.


"Layla tidak bahagia jika tinggal bersama dengan om, Layla juga tidak akan merasa bahagia jika tetap tinggal di rumah ibu kandungnya. Sementara om tidak bisa membiarkan Layla tinggal seorang diri tanpa pengawasan om."


"Kenapa tidak om biarkan saja Layla tinggal di apartemen, pekerjakan seorang asisten untuk membantu om dalam mengawasi Layla!" ucap Danu dengan entengnya.


Noval menggelengkan kepalanya. "Andai semudah apa yang kamu katakan, Danu!"


"Mudah om, om punya uang. Selama orang punya uang. Kita mau melakukan apa pun, tidak akan sulit kan!" ucap Danu sinis.


"Sayangnya almarhumah mama mu pasti tidak akan membiarkan itu terjadi pada Layla." ucap Noval dengan tersenyum sinis pada Danu.


Danu membatin tanpa menoleh, sialll perkataan yang menjebak. Bilang aja kalo om Noval masih berharap, gue nikah sama putrinya!


"Kamu mau kan menikah dengan Layla? Demi om, om tidak tahu sampai kapan bisa menjaga Layla! Sementara Layla kurang akur dengan istri om." Noval mencengrammm dadanya yang terasa sesak, nafasnya mulai tersengal sengal.


"Om? Om kenapa?" Danu panik dengan situasi yang ia hadapi, ia menepikan kembali mobilnya ke bahu jalan.


Cukup lama Danu menepi, membantu memulihkan Noval dengan mengarahkannya dalam mengambil dan menghirup nafas.


"Om, punya penyakit jantung, nak! Penyakit om bisa kapan saja mengintai nyawa om. Entah apa yang akan terjadi pada Layla tanpa om." terang Noval, aku harap rencana ku berhasil, maaf jika om harus berpura pura sakit, ini demi menarik simpati mu, Danu.


"Om jangan banyak berfikir, lebih baik aku antar om pulang." Danu kembali melajukan mobilnya, dengan melesat kencang, ingin rasanya cepat sampai pada tujuan orang yang menumpang di mobilnya.


Tanpa Danu sadari, sepasang mata terus saja mengawasi apa yang di lakukan Danu pada Noval. Lewat benda kecil yang terpasang di parsel yang ada di atas pangkuan Noval.


Baskoro menarik sudut bibirnya tipis, aku harap, Danu mau melakukannya.


Lama mobil berpacu dengan jalan, akhirnya sampai pada tempat tujuan. Danu berhenti di depan sebuah gerbang yang tampak seorang wanita paruh baya tengah duduk di pinggir terotoar.


"Wanita itu siapa, om?" tanya Danu dengan menatap wanita paruh baya, yang langsung berdiri hendak menghampiri mobilnya dengan tanya.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu...


__ADS_2