Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Permintaan terakhir


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Jadi begini, papa dan om Noval... berencana untuk melanjutkan ucapan kita... ucapan waktu kamu dan Layla masih kecil dulu." terang Baskoro dengan menoleh sekilas wajah Noval lalu menatap wajah Danu dengan penuh harap.


"Apa hubungannya dengan ku dan Layla?" tanya Danu.


Baskoro berfikir dalam diam, mencoba merangkai kata dalam hati sebelum ia mengatakan pada Danu.


Jadi begini, papa sangat ingin... emmm berniat untuk kamu menikah dengan Layla. Tidak ada salahnya kan, jika kamu menikah dengan Layla sebelum papa menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada mu sepenuhnya!


Baskoro menggelengkan kepalanya, merasa ada yang salah jika ia mengatakan nya pada Danu.


Ah tidak, Danu pasti akan menolaknya mentah mentah, aku harus katakan apa pada Danu?


Danu mengerutkan keningnya, mulai gusar dengan waktu yang terus bergulir, menatap sebentar jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Papa mau katakan apa sih? Sebentar lagi aku ada meeting dengan beberapa kepala toko retail yang kita miliki, pah!" sungut Danu.


Baskoro membuang nafasnya dengan kasar. Merasa percuma dengan apa yang sudah ia pikirkan, pasti akan ada penolakan dari Danu, putranya.


"Kamu saja lah yang katakan pada Danu, Noval!" ucap Baskoro pada akhirnya.


Danu menggelengkan kepalanya, "Papa ini! Hanya tinggal katakan saja, kenapa jadi orang yang kebingungan gitu sih?"


"Sudah, kau dengar kan saja dulu apa yang akan di katakan om Noval pada mu! Karena ini menyangkut kehidupan mu dan seseorang." terang Baskoro.


Noval menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan, sebelum akhirnya Noval mengatakan apa yang ingin di sampaikan ke duanya pada Danu.

__ADS_1


"Om ingin kamu menikahi Layla." ucap Noval.


"Uhuk uhuk uhuk." Danu tersendat salivanya sendiri, begitu indra pendengarannya mendengar apa yang di ucapakan Noval dengan suaranya yang tegas tanpa ada keraguan.


Baskoro menyodorkan minumannya pada Danu, "Kau minum lah dulu!"


"Danu gak bisa, pah! Bagi Danu, pernikahan itu cukup sekali seumur hidup, Danu akan menikah dengan wanita yang Danu cintai. Dan itu bukan lah Layla!" tolak Danu tegas dengan beranjak dari duduknya, menumpukan ke dua tangannya di atas meja.


"Tapi ini adalah permintaan terakhir mendiang mama mu, Danu!" ucap Baskoro yang tidak mau di bantah.


"Jika mama masih hidup... mama gak akan mungkin meminta ku untuk menikahi Layla, pah!" sungut Danu dengan kesal, berjalan ke luar meninggalkan ruang kerja papanya.


Baskoro beranjak dari duduknya, dengan wajah kesal. "Danu! Papa belum selesai bicara! Danu! Ini permintaan terakhir mendiang mama mu sebelum menutup mata!"


Brak.


"Kau lihat itu, Noval! Bagaimana aku bisa memenuhi permintaan terakhir Devita, jika Danu saja menolak untuk menikah dengan Layla!" ucap Baskoro dengan putus asa, menjatuhkan bobot tubuhnya kembali di atas kursi kebesarannya dengan kasar.


Noval tampak berfikir, "Aku punya ide. Bagaimana caranya membuat Danu mau menikahi Layla!" bibir tersungging nampak di perlihatkan Noval.


"Apa ide mu, Noval?" tanya Baskoro dengan kening mengkerut, menatap Noval dengan penasaran.


Noval mengatakan apa rencananya pada Baskoro. Baskoro tampak menganggukkan kepalanya, mengerti dengan rencana apa yang di buat sahabat lamanya itu.


"Aku setuju dengan rencana mu, tapi bagaimana jika gagal?" tanya Baskoro.


"Kita coba saja dulu, tak kenal maka tak sayang. Jika Danu memiliki kepedulian yang tinggi seperti Devita, pasti ia tidak akan tega melihat Layla di perlakukan buruk di rumah orang tuanya sendiri. Ini jalan terakhir ku... untuk membawa Layla ke luar dari penderitaan, Bas!" ucap Noval.

__ADS_1


Dengan langkah pasti, Danu memasuki ruang kerjanya, wajahnya tampak kusut setelah mendengar permintaan papa dan teman papanya, apa lagi permintaan itu membawa bawa mendiang mamanya.


"Yang benar saja, ini pasti hanya akal akalan papa dan om Noval! Mana mungkin, mama bisa punya permintaan bodoh seperti itu! Itu sama saja dengan perjodohan!" sungut Danu dengan tatapan kesal pada berkas yang ada di hadapannya.


Tok tok tok.


Dari luar, pintu ruang kerja Danu di ketuk. Orang yang mengetuk pintu pun langsung masuk ke dalam, setelah mendengar seruan masuk dari sang pemilik ruang kerja.


Wanita dengan tinggi semampai, dengan heels yang membalut kaki indahnya, berdiri dengan anggun di depan meja kerja Danu.


Ia berkata dengan suara yang mendayu dayu, seolah sedang berusaha merayu pria yang ada di hadapannya.


"Maaf bos, sekedar mengingatkan... meeting dengan beberapa kepala toko akan di mulai 15 menit lagi. Apa bos membutuhkan sesuatu... aku bisa menyiapkannya untuk bos!" senyum manis nampak terbit di bibirnya, dengan warna lipstik merah menyala.


"Kau akan sangat membantu ku, jika kau ke luar dari ruang kerja ku!" sungut Danu tanpa melihat lawan bicaranya.


"Apa ada masalah, bos?" cicit Feli yang malah melangkah maju mendekati kursi yang di duduki Danu.


"Kau tidak dengar, apa yang aku katakan pada mu?" tatapan tajam di perlihatkan Danu pada Feli.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu...

__ADS_1


__ADS_2