Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Permintaan kaka ipar


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"La, kamu kenapa La? La?" Danu di buat kalanggg kabuttt, melihat Layla yang kembali pinsan.


.


.


Layla mengerjapkan mata nya, mengedarkan pandangan nya mencari sosok Danu.


"Aku di kamar? Kapan ka Danu membawa ku pulang?" tanya Layla pada diri nya sendiri, tangan kanan nya terulur hendak memijattt kening nya sendiri yang masih berdenyuttt.


"Aku di infus? Kenapa? Kan cuma pusing, istirahat sebentar paling mendingan." pikir Layla, melihat selang infus tertancappp di tangan kiri nya.


Ceklek.


Danu ke luar dari dalam kamar mandi, dengan menggunakan bath robe, menampilkan sebagian dada bidang nya yang masih tampak tetesan air di sana.


"Kamu udah sadar La? Jangan banyak gerak dulu La!" ujar Danu, sembari melangkah menghampiri Layla.


"Kapan ka Danu bawa aku pulang? Bukan nya tadi masih di kantor ka Danu?" tanya Layla, menelan saliva nya dengan sulit, saat tatapan nya mengarah pada dada bidang Danu yang tampak menggoda.


"Aku bantu kamu menyandar ya!" Danu membantu Layla menyandar di kepala ranjang dengan menyelipkan bantal di punggung Layla.


Layla memejamkan ke dua mata nya, wangi sabun yang menyeruak di indra penciuman Layla membuat nya tenang, mengurangi sedikit sakit di kepala nya.


"Jangan menggoda ku La! Aku harus menahannn diri dengan kondisi mu saat ini!" Danu menatap wajah Layla yang tampak masih pucattt.


Layla mengerutkan kening nya, mencerna perkataan Danu.


"Kenapa harus menahannn diri ka?" tanya Layla pada akhir nya.


"Karena tubuh mu sedang lemah, sayang! Butuh istirahat yang cukup, aku sudah meminta koki menyiapkan makanan yang bergizi untuk mu!" Danu mengelusss pipi Layla.


'Beberapa hari ini, Layla pasti sedang tertekan dengan kesibukan nya di kampus baru nya. Belum lagi kejadian terakhir di kampus, entah apa yang sudah Layla lalui.' batin Danu berusaha menahannn diri nya sendiri, meski di hati nya banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Layla.


Layla menggenggammm jemari Danu yang sejak tadi bermain di pipi nya, membawa nya ke dalam pangkuan nya.


"Tapi gak perlu di infus juga, cuma butuh istirahat, nanti juga tubuh ku pulih lagi, besok juga kan aku harus balik kampus, ada pelajaran yang harus aku ikutin." terang Layla dengan tatapan sayuuu nya.


"Kita lihat besok ya! Aku gak bisa putuskan sekarang! Ingat La, kesehatan mu nomor 1 dari hal apa pun! Jadi lekas lah sembuh!" Danu mengelusss puncak kepala Layla, mengecup kening Layla. Sebelum akhir nya meninggal kan Layla dan menghilang di balik walk in closed.


'Seperti nya hati ku udah terpaut dengan nya, aku gak ikhlas melihat ada wanita lain dekat dengan ka Danu! Apa aku jadi wanita yang egois, ingin menguasai nya seorang diri? Apa aku salah, bersandar pada diri nya? Bergantung pada nya?' tanya Layla pada hati nya, menatap pintu walk in closed tempat Danu menghilang dari pandangan nya.

__ADS_1


Layla membuang nafas nya dengan kasar, mencari keberadaan benda pipih milik nya.


"Kalo bukan Nina, siapa yang kasih tau ka Danu kalo aku pinsan? Apa maksud tatapan sekretaris nya ka Danu di kantor? Apa ada maksud lain, selain wanita itu bekerja sebagai sekretaris ka Danu? Apa wanita itu juga sama dengan Aleta? Terobsesi dengan ka Danu, menggunakan segala cara untuk menyingkirkan ku?" gumam Layla, menatap langit langit kamar yang berwarna putih.


"Siapa wanita itu, wanita yang gak berhasil aku lihat wajah nya... saat itu aku seperti berada di tempat lain, tempat yang begitu asing di mata ku. Makhluk makhluk aneh dan menyeramkan itu, kaya nyata." gumam Layla dengan tatapan kosong nya.


Danu ke luar dari walk in closed, tatapan nya tertuju pada Layla.


"Apa ada yang kamu pikirkan La? Masalah almarhumah mama Sifanye? Atau ibu Tati? Atau kamu lagi mikirin nasib Lulu? Kita udah lama gak dengar kabar Lulu, apa kamu mau aku minta ayah Noval untuk ke sini La?" oceh Danu melangkah menghampiri Layla.


Sampai Danu duduk di dekat nya pun, Layla belum juga menyadari nya, Layla sudah terlalu larut dengan pertanyaan pertanyaan yang berseliweran di kepala nya.


Grap.


Danu menggenggammm erat jemari Layla, menatap Layla dengan penuh selidik.


"Apa lagi yang kamu pikirin La? Aku kan udah bilang, kamu cuma perlu pikirin aku aja! Bukan hal lain yang harus kamu pikirin!" cecar Danu, mengetuk ngetuk kening Layla dengan jari telunjuk nya.


"Ihsss ka Danu udah kaya hantu aja sih! Punya ilmu menghilang ya? Tau tau bisa nongol di hadapan ku!" gerutu Layla dengan bibir mengerucut.


Tok tok tok.


"Maaf Tuan, makan siang untuk Nona sudah kami bawakan." ucap pak Dedi dari luar kamar sang Tuan.


Pak Dedi dan seorang art pun masuk ke dalam kamar Danu, setelah Danu mengizinkan mereka untuk masuk.


"Terima kasih pak, ini banyak sekali makanan nya!" ucap Layla, dengan mata membola pada hidangan yang tersaji.


"Sesuai dengan perintah Tuan Danu, Nona!" seru sang art.


'Senang rasa nya melihat Nona Layla sudah sadar.' batin pak Dedi.


"Kalian tunggu apa lagi, cepat ke luar!" titah Danu, melihat art dan pak Dedi, sang kepala pelayan rumah tangga nya masih bergeming.


"Selamat menikmati makan siang Nona, cepat lah pulih Nona. Biar Tuan Danu gak uring uringan kembali." ucap pak Dedi dengan kepala tertunduk.


"Kau sudah bosan bekerja pak Dedi!" gerutu Danu dengan tatapan tajam.


"Kaaaa!"


Art dan pak Dedi meninggalkan ke dua nya.


"Aku suapin, kau makan yang banyak!" titah Danu, mengambil piring kosong, menyendokkan nasi, lauk pauk di piring itu, lalu menyuapkan nya ke mulut Layla.

__ADS_1


"Ka Danu juga ikut makan!" Layla mengambil alih sendak, lalu gantian menyuapkan ke mulut Danu.


"Untuk sekretaris Angel, kamu gak perlu merasa khawatir lagi dengan keberadaan nya di kantor ya La!Kamu fokus aja sama tubuh kamu, harus semangat biar besok bisa balik kampus!" terang Danu, di tengah tengah makan nya Layla.


Layla membuang pandangan nya, menoleh ke arah jendela, berkata dengan lirih, "Iya, aku biasa aja sih! Kalo sekretaris Angel bisa bantu kaka dalam pekerjaan, aku gak apa ka!" ucap Layla dengan berat hati.


"Kamu ngomong apa sih La! Jangan ngomong gitu kalo bertentangan dengan hati kamu!" seru Danu setelah senyum di bibir nya.


Layla mengadahkan wajah nya, menatap Danu dengan keseriusan, "A- aku gak masalah mau ka Danu kerja dengan wanita, mau itu Angel, atau siapa pun, jika demi pekerjaan. Aku gak masalah." terang Layla.


"Kamu gak pandai berbohong La! Jangan kamu pikir, aku gak tau, kalo kamu lagi bohong!" tegas Danu mencapittt dagu Layla, dengan sorot mata yang gak bisa di artikan.


"A- aku..."


Danu mengambil obat untuk Layla, "Di minum dulu obat mu!" Danu meletakkan 2 buah obat dengan warna dan ukuran berbeda di telapak tangan Layla.


"Obat apa ini ka? Aku gak lihat ada dokter yang memeriksa ku!" tanya Layla, melihat ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.


"Jelas kamu gak lihat kedatangan dokter La, dokter datang gak lama kamu jatuh pinsan." Danu menyodorkan segelas air putih di depan Layla.


"Jadi waktu di kantor itu... ka Danu telpon orang, nyuruh datang orang dalam waktu 5 menit. Itu dokter? Bukan wanita lain?" tuduh Layla.


Danu mengerutkan kening nya. "Wanita lain apa? Jelas aku meminta dokter wanita yang memeriksa kondisi mu! Kamu ini La! Cepat habiskan obat mu!" titah Danu dengan gelengan kepala.


'Apa aku baru aja buat ka Danu marah?' tanya Layla yang pada akhir nya menurut.


.


.


"Apa? Kamu serius pak Arsandi? Kita balik hari ini? Tapi bukan nya masih ada beberapa hari buat kita tinggal di sini?" protes Mery, melihat Arsandi mengemasi pakaian nya ke dalam koper.


"Ini permintaan kaka ipar, gak bisa di bantah." terang Arsandi.


"Kaka ipar siapa maksud nya?" tanya Mery dengan kening mengkerut, penuh tanya.


"Siapa lagi kalo bukan pria itu! Pria dengan sepasang mata elang, yang mengeluarkan aura dingin saat kita berada di samping nya!" seru Arsandi.


"Apa terjadi masalah dengan Layla? Apa anak itu hanya bisa merepotkan kita aja?" tanya Mery dengan sedikit kesal.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2