Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Mau uang, anda selamat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu mengerdikkan bahu nya.


"Astagaaa, sudah aku bilang. Jangan ikut campur, aku bisa menyelesaikan nya sendiri!" gerutu Arsandi, dengan ke dua tangan yang mencengrammm angin di atas kepala Danu.


"Jaga sikap mu! Kau lupa aku ini siapa mu?" Danu menyilangkan ke dua tangan nya di depan dada, menatap Arsandi dengan tatapan mengejek.


"Sialll, selalu saja menggunakan kekuasaan dan jabatan untuk melakukan apa yang kau mau!" Arsandi memalingkan wajah, lebih memilih menatap ke luar jendela pintu nya.


"Kau lihat saja, setelah kembali ke kota asal. Kau pasti akan berterima kasih pada ku!" ucap Danu dengan yakin.


'Mudah mudahan aja, Doni bisa menyelesaikan masalah yang di hadapi Arsandi dan Mery. Tapi jika cara ku tidak berhasil juga, dengan terpaksaaa harus mengorbankan satu nyawa.' batin Danu penuh tekad.


Arsandi menoleh wajah Danu, "Kita lihat saja! Apa Mery membenci ku karena ulah mu!" ucap Arsandi tampak gak percaya dengan apa yang di katakan Danu.


Mobil berhenti, tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota C.


"Tunggu apa lagi, ayo turun! Aku tidak mengundang mu ke sini hanya sekedar lihat lihat aja! Tapi ada tujuan lain!" Danu turun dari mobil setelah membayar ongkos taksi yang ia dan Arsandi tumpangi.


"Kenapa harus menggunakan monil lain? Bukan mobil dan supir yang sudah aku sewa?" protes Arsandi, karena Danu menggunakan taksi on line.


"Mau bagaimana lagi, sudah menjadi keinginan ku!" Danu berjalan lebih dulu di ikuti Arsandi yang berjalan mengekori nya.


Beberapa tatapan pengunjung wanita, yang ada di pusat perbelanjaan membuat Danu merasa risih berada di pusat keramaian.


"Kenapa? Menyesal? Terlambat, bukan aku yang mengajak mu ke sini?" ucap Arsandi dengan kata kata yang menohok Danu.


"Kita tidak sedang membahas pekerjaan, buat apa kau berjalan mengekori ku? Ayo sama kan langkah kaki mu dengan ku!" seru Danu, meski tengah memerintah Arsandi.


"Dasar pria bayak ngatur! Kenapa pula kaka ipar Layla bisa tahannn berada di dekat mu terus? Jika aku yang menjadi kaka ipar Layla, sudah lama aku mencampak kan mu!" dumel Arsandi dengan tatapan jengkel.


"Sudah jangan banyak bicara! Aku tidak butuh protes mu!" ke dua nya menaiki eskalator yang membawa ke dua nya naik satu lantai.


"Pilih lah barang yang kau suka, terserah mau kau berikan untuk Mery atau untuk mu sendiri. Aku yang akan membayar nya!" seru Danu, memasuki sebuah toko pakaian.

__ADS_1


"Iya iya iya, kau bos nya! Aku hanya memilih barang yang ku suka dan beberapa barang untuk Mery. Bagaimana kabar Tuan besar? Apa baik baik aja? Gak ada kendala kan dengan pengobatan yang sedang di jalani Nyonya besar?" tanya Arsandi yang tiba tiba ingat Baskoro dan nenek Dahlia.


Ke dua nya akhir nya memilih pakaian, untuk di beri kan pada Layla dan Mery dengan tipe dan model serta warna yang berbeda.


"Lihat ini, Layla pasti akan sangat menyukai nya!" Danu memperlihatkan dress panjang selutut dengan warna biru langit, dengan tangan sebatas siku yang terdapat renda di ujung nya, dengan corak bunga kecil yang menghiasi ujung dress.


"Itu terlalu feminim untuk Mery!" ucap Arsandi.


"Siapa juga yang akan memberikan ini untuk Mery, sudah pasti ini untuk Layla!" Danu mrmilih beberapa dress lagi untuk ia berikan pada Layla, dan beberapa setel pakaian untuk ia berikan pada Mery.


Puas dengan belanja pakaian, kini Danu membawa Arsandi ke toko perhiasan permata dan berlian.


Jika Danu memilihkan 2 set perhiasan dengan disein elegan bermata kan berlian, berbeda dengan Arsandi hanya memilih 1 set perhiasan tanpa gelang dengan disein yang lebih sederhana.


"Kita berikan ini untuk nenek Dahlia, apa kau setuju?" tanya Danu, meminta pendapat Arsandi.


"Boleh, ini untuk perawat nenek. Gak apa kan kalo kita berikan perawat nenek hadiah juga?" tanya Arsandi yang memilih sebuah gelang tangan berwarna silver.


"Gak masalah jika kau memberikan nya, tidak membuat hati seseorang terluka." goda Danu, yang menjurus dengan Mery, orang yang di maksud Danu.


"Tidak akan, ini kan dari kita berdua." ucap Arsandi dengan pikiran positif nya.


"Aku gak nyangka, bisa berbelanja sebanyak ini! Gak beda nya dengan perempuan!" gurau Arsandi dengan tangan merentang kiri dan kanan, merasa pegal.


Trangggg.


.


.


Sementara di sebuah kost khusus pria.


Mery mendudukkan diri nya di sebuah ruang tamu yang ada di sebuah rumah, namun di alih fungsi kan menjadi tempat kost kostan.


"Jangan lama lama, aku gak enak kalo ada teman mu yang lihat aku masuk ke dalam!" seru Mery, meminta Roy dengan segera mengambil barang yang ada di dalam kamar nya, barang yang di janjikan ingin Roy berikan pada Mery.

__ADS_1


"Sabar sayang, ini aku sedang mencari nya." Roy memasuki kamar kost nya.


Ceklek.


Saat Roy melangkah masuk ke dalam kamar nya, ia di kejutkan dengan sebuah moncong senjata api yang di arahkanke bagian kepala belakang nya.


Cus.


"Angkat tangan mu! Menurut jika ingin selamat!" titah pria yang menodongkan senjata api nya pada Roy.


"Siapa kau, berani nya memasuki kamar kost ku! Bagaimana cara mu bisa masuk sini hah!" tanya Roy dengan perasaan gak karuan, takut! Sudah pasti.


"Menurut lah jika ingin selamat, tapi jika kau tidak sayang pada keluarga mu, anggap ini hari terakhir untuk kau melihat mereka!"


Doni mengeluarkan benda pipih nya, memperlihat kan foto Angel dan nenek tua lain nya di foto yang berbeda. Sementara moncong senjata api, masih berada tepat di belakang kepala Roy.


"Kurang ajarrr, siapa yang sudah menyuruh mu! Berani nya kau melukai ke dua nya, ku habisi nyawa mu!" ancammm Roy dengan tangan mengepalll.


"Kau ingin mereka berdua selamat, atau mau mereka berdua jadi korban keegoisan mu yang gak tau diri, mau di peralat Aleta!" ucap Doni yang siap menarikkk pelatuk senjata api nya.


Roy tercengang, "Bagaimana bisa kau mengetahui nya?" tanya Roy dengan keringat dingin membasahi tubuh nya.


"Dari mana aku tahu, sudah pasti aku tau lah. Tidak ada seorang pun yang bisa melukai orang Tuan Danu! Kau mengerti itu! Terlebih, sasaran mu adalah adik perempuan nya! Jauhi Nona Mery, jika kau sayang nyawa!" ucap Doni dengan menghempaskan sebuah cek ke lantai.


"Apa itu?" tanya Roy menatap je lantai, tepat di mana lembaran cek itu tergeletak di dekat kaki nya.


"Mau uang, anda selamat. Mau nekat, nyawa melayang! Peluru ku ini bisa kapan saja menembusss kepala mu, jika kau belum juga menjauhi Nona Mery dalam waktu 4 jam!" ancam Doni yang langsung pergi tanpa di ketahui siapa pun.


"Sialannn Danu, bisa bisa nya dia menyuruh orang untuk mengancammm ku!" umpat Roy dengan tangan mengepalll.


Bugh.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...

__ADS_1


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2