Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Ajaran sesat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu mendudukan dirinya di kursi, mulai menikmati sarapan yang Layla buat, lewat earphone yang terpasang di telinganya, ia bicara pada orang kepercayaannya.


[ "Iya pak Danu, ada yang bisa saya bantu?" ] tanya seorang pria dari sebrang sana.


"Tolong bapak cek lewat CCTV, anak sekolah yang belum lama ini ke luar dari unit apartemen saya, berangkat naik apa!"


[ "Baik pak, sebentar saya cek dulu." ]


Beberapa menit menunggu, akhirnya Danu mengetahui juga apa yang ingin ia tau. Dengan sudut bibir yang mengembang. Ia melangkah meninggalkan unitnya dengan perasaan senang.


...----...


"Pagi bos! Bos tidak apa apa kan? Apa bos sakit?" Arsandi menempelkan telapak tangan kanannya pada kening Danu saat ke duanya tengah berada di dalam lift.


Sreek.


Danu menyingkirkan telapak tangan Arsandi dari keningnya dengan kasar.


"Jauhkan tangan mu itu dari kening ku!" ucap Danu dengan datar.


"Cihs si bos. Oh iya bos, bagaimana dengan Nona Layla? Bos pasti sudah mengantarkannya dulu kan ke sekolah." ujar Arsandi.


Bukannya menjawab, Danu malah memberikan pertanyaan pada Arsandi, sekretarisnya itu. Dengan melangkah ke luar dari lift.


"Apa kau sudah siapkan materi untuk meeting kali ini? Bagaimana dengan hasil peninjauan lokasi yang di lakukan Bayu dan Wisnu? Tidak ada kendala kan?"


"Semuanya sudah siap bos, untuk peninjauan... apa bos tidak ingin terjun langsung untuk melihat lokasinya?" tanya Arsandi.


Danu mengerutkan keningnya, menghentikan langkah kakinya, menatap tajam Arsandi. "Apa kau meragukan hasil peninjauan yang di lakukan Bayu dan Wisnu?"


"Saya tidak mengatakannya begitu lo bos, bos sendiri yang ngomong." ucap Arsandi dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.


...---...


Sementara di sekolah Sepanjang Layla melangkah menuju kelasnya, tidak sedikit pasang mata yang menatap Layla dengan sorotan aneh, bahkan ada yang berbisik bisik tidak jelas, namun nyelekit saat terdengar di telinga.


"Permisi, ka!" ucap Layla saat melewati kaka kelas.


Bukannya menjawab sapaan Layla, kaka kelas itu malah berbisik pada rekannya.


'Ooowwh itu anaknya, astaga... gak nyangka gue!'


'Iya, tampangnya aja ya yang terlihat anak baik baik, gak taunya anjiiim banget itu anak.'


'Sssstttt jaman sekarang, tampang bisa menipu, asal bisa menuhin dompetnya sendiri! Peduli amat sama harga diri!' cibir Nugi dengan tatapan sinis, saat Layla melewati Nugi dan teman sekelasnya yang tengah berdiri di depan kelas 3 IPA.


'Segitunya lo, bukannya dulu lo ngejer ngejer banget itu anak ya?' ledek Desta.

__ADS_1


'Gwe ngejer adek kelas? Bocah item keling kaya gitu! Sorry ya, kemaren kemaren mata gue lagi siwer! Sekarang mata gue udah terbuka!' kilah Nugi.


Arsan berbisik pada Nugi. 'Jangan gitu, lo inget gak, kemaren kita kena apesss, gara gara nietan lo buat ngerjain itu anak! Yang ada malah orang tua kita pan di panggil ama itu satpam bioskop.'


'Diem deh lo, gak usah bacottt!' Nugi meninggalkan kerumunan temannya, memilih pergi ke kantin.


Layla langsung mendaratkan bobot tubuhnya di kursi yang biasa ia duduki, menganggap Sopur tidak ada, meski dalam hatinya sangat ingin bertanya. Lalu mengeluarkan alat tulis dan buku mata pelajaran pertama dari dalam tas ke atas meja.


Sopur langsung menundukkan kepalanya, menyibukkan dirinya dengan buku yang ada di atas mejanya, begitu melihat Layla masuk ke dalam kelas, berpura pura tidak menyadari kehadiran Layla.


Sebenarnya Layla di bawa sama siapa sih kalo bukan sama Nugi, malah Nugi gak kenal ama itu orang! Layla bakal nanya gue gak ya? batin Sopur.


"Sebenarnya apa yang lagi mereka omongin sih! Mereka lagi bahas gue, apa siapa ya?" monolog Layla sendiri.


"Pasti lo belum liet mading, La!" Mery melangkah menghampiri Layla, mendarat bobot tubuhnya di kursi yang bisa di duduki Nina.


Layla menggelengkan kepalanya. "Gak penting, ngapain juga liet mading. Mending baca ulang pelajaran yang sebelumnya. Kali aja ulangan dadakan lagi gitu!" ucap Layla acuh.


"Eeet bujuk, seneng amat sama ulangan dadakan lu, La! Gue sih ogah dah ulangan dadakan mulu! Pusing pala gue! Ngerti juga kaga kalo si pak botak jelasin materi." terang Mery yang membuat Layla terkekeh.


"Hehehe jangan gitu lo, makanya pikiran lo harus tenang kalo lagi di terangin pelajaran, jangan mikirin yang kaga ada di depan mata!" ledek Layla.


"Ngemeng ngemeng soal mata, itu kantong mata gede amat! Miara di mana lo? Hahaha." ledek Mery dengan tawa yang pecah.


"Anjim banget lo jadi temen. Gue gak bisa tidur semalam. Pikiran gue melalang buana ke mana tau." terang Layla.


"Lagu lo pera La, udah kaya orang gede yang pusing sama urusan mereka! Nikmatin masa remaja La, masa remaja gak dateng 2 kali." celetuk Mery.


"Udah tau masalah berat, ya hidup jangan di bawa berat lah, yang ada setres lo! Bawa santai aja, kaya gue." Mery mendekatkan kepalanya pada Layla, lalu berbisik. "Mau nyobain gak? Biar gak penasan, di jamin kaga bakal deh lo mikirin lagi itu masalah berat lo!"


Layla menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Gue toilet dulu!" ucap Layla yang melangkah pergi meninggalkan Mery.


"Temen kalo di kasih saran begitu tuh! Maen kabur gitu aja!" sungut Mery dengan melangkah kembali ke tempat duduknya.


"Ya lo temen model apa dulu!" celetuk Deri yang mendengar ocehan Mery.


"Temen ajaran sesat!" timpal Sopur yang ternyata menguping ocehan Mery dan Layla.


"La! Lo mau kemana?" tanya Nina yang berpapasan di depan pintu kelas dengan Layla.


"Toilet, mau ikut?" jawab Layla tanpa menghentikan langkah kakinya.


Bugh.


Nina meletakkan tasnya di atas meja, lalu melangkah dengan cepat menyusul Layla.


"La! Lo kemaren pergi sama siapa? Lo kenal sama orang yang ngambil tas lo? Nietnya kan tas lo mau gue yang anterin sama Sopur ke tempat ayah kamu." terang Nina begitu sudah menyamai langkah kakinya dengan Layla.


"Kalo gue kasih tau lo, lo bakal ember gak nih!" tanya Layla dengan jari telunjuk kanannya mengarah pada Nina.

__ADS_1


Grap.


Nina menyembunyikan jari telunjuk kanan Layla dengan genggaman tangan kirinya.


"Lo kaya baru kenal gue aja sih, La!" ucap Nina dengan bibir mengerucut.


"Itu temennya temen lama gue." ucap Layla.


"Lo gak pernah cerita, La... punya temen yang lebih dewasa dari kita?" tanya Nina dengan menghilang di salah satu bilik toilet putri.


Layla langsung memutar keran air di westafel begitu selesai membasuh wajahnya.


"Oh iya La, jadi kemaren gimana ceritanya dengan ka Nugi sama ka Arsan, kan mereka berdua yang janji sama gue and Sopur... mau anter lo pulang." tanya Nina dengan perasaan yang sangat ingin tau.


Layla mengerdikkan bahunya. "Gue gak tau."


"Lo gak di marahin kan sama ayah Noval?" Nina menatap Layla dengan tatapan khawatir.


"Kenapa ayah marah?"


"Ya kali lo pulang ke rumah tidur udah kaya orang pinsan. Susah di banguninnya lo di dalam bioskop." terang Nina.


Bukannya masuk ke dalam kelas, Layla malah mendudukkan dirinya di depan kayu panjang yang ada di depan kelas.


"Kenapa lo, La?" tanya Nina.


"Kayanya ada yang aneh sama minuman yang gue minum kemaren, minuman yang di kasih ka Nugi. Masa gue langsung ngantuk gitu. Terus gak inget apa apa lagi." ujar Layla dengan polosnya.


Layla dan Nina sama sama mengerutkan keningnya, berfikir keras, lalu jari telunjuk kanannya sama sama mengacung.


"Jangan jangan!" seru ke duanya secara bersamaan.


Teng teng teng teng.


"Ah elah! Lo jangan bilang pikiran lo sama kaya gue!" celetuk Nina dengan melangkah masuk ke dalam jelas setelah masuk berbunyi.


"Gak jadi deh, gue gak mau nuduh. Itu kan sama aja nuduh kalo gak ada bukti " Layla mengerucutkan bibirnya, duduk dengan tenang di kursinya.


"Kita bukan nuduh, La... tapi apa lagi kalo bukan di campur obat!" sungut Nina.


"Apaan yang di campur obat?" tanya Mery dengan alisnya yang naik turun.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....

__ADS_1


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2