Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kenyataan yang lain


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Apa yang terjadi Tuan besar?" tanya seorang perawat wanita yang menghampiri sang majikan.


"Ini sus, tolong bersihkan gelas nya. Aku tidak sengaja menjatuh kan nya!" ucap Baskoro dengan perasaan yang gak karuan.


'Ada apa ini? Kenapa perasaan ku jadi gak enak gini? Apa Layla, Danu, Arsandi dan Mery baik baik aja?' batin Baskoro.


"Ada apa Baskoro?" tanya nenek Dahlia yang menghampiri menantu nya itu dengan alat bantu berjalan.


"Ini mah, hanya kecerobohan kecil. Aku gak sengaja menjatuhkan gelas. Apa yang sedang mama lakukan di sini? Kita ke taman aja yuk mah!" Baskoro mengajak sang ibu mertua meninggalkan dapur, membantu nenek Dahlia dengan alat bantu jalan nya.


"Kau jalan saja duluan Baskoro! Ada kau di sini hanya membuat lamban jalan ku aja! Sana kamu!" usir nenek Dahlia, merasa terganggu jalan nya saat Baskoro berjalan di sisi nya.


"Ah mama, makin gemasss deh aku. Ayo lah mah, cepat sedikit jalan nya! Kaki ku sudah ingin sekali duduk di kursi taman!" goda Baskoro, menyemati sang mama mertua untuk berjalan lebih cepat lagi.


"Hai kau pria tua! Gak malu sama umur, berani nya kau meledek ku! Lihat nanti, jika aku sudah bisa berjalan dengan normal, aku timpukkk kau ya dengan tongkat ku!" sungut nenek Dahlia dengan penuh emosi.


"Jangan kan nanti, sekarang aja mah. Aku sudah rela di timpukkk oleh mama. Timpukkk pake uang segepokkk mah, bukan tongkat ahahhaha!" goda Baskoro dengan tergelak.


Baskoro berjalan mengiringi nenek Dahlia, menuju taman rumah nya yang ada di Jepang.


"Hei kau pria tua. Bagaimana kabar cucu cucu menantu ku? Mereka baik baik aja kan?" tanya nenek Dahlia tiba tiba yang ingat dengan cucu menantu nya.


"Aku belum menghubungi mereka lagi, mah!" seru Baskoro dengan jujur.


"Kenapa kau belum menghubungi nya? Cepat hubungi cucu cucu menantu ku! Kau ini, ayah mertua yang tidak ada guna nya! Buat apa ada hape gak di gunain hah!" omel nenek Dahlia dengan wajah kesal nya.


"Jangan begitu mah, aku ini sangat berguna. Bukti nya aku bisa menghasilkannn seorang cucu perempuan lagi untuk mama. Gak kalah cantik dengan Layla. Bukan begitu mah? Aku berguna kan mah?" goda Baskoro, melihat wajah mama mertua nya tampak senang dengan perkataan nya.


'Dasar pria tua, Baskoro ini benar benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia menikahi Devinta di saat ia sendiri akan memiliki seorang bayi perempuan dari wanita lain? Harus nya aku menyelidiki lebih dulu, sebelum menikah kan Baskoro dengan Devinta.' umpat nenek Dahlia dalam hati, menyesali perbuatan nya yang ceroboh.


Nenek Dahlia melambaikan tangan kanan nya di depan, memberi isyarat untuk Baskoro mendekat pada nya.


'Wanita tua di hadapan ku ini emang makin lama, makin pandai aja mengelabuiii orang untuk ia tindasss. Tapi kali ini, aku gak bisa di tindasss lagi oleh nya! Enak aja mau menindasss ku! Gak bisa layauuu!' gerutu Baskoro dalam hati dengan tatapan menyelidik.


"Apa lagi mah? Katakan saja, aku hanya ingin duduk, menghirup angin yang begitu menyejukkan hati dan pikiran." gumam Baskoro, menolak untuk mendekati mama mertua nya.

__ADS_1


"Hei kau pria tua! Aku menyuruh mu untuk mendekat pada ku! Kenapa kau malah duduk di kursi? Kau sudah tiliii hah?" tanya Baskoro menahannn tawa nya.


"Gak mau mah, mama aja sini, lebih dekat lagi dengan ku! Mama lupa, aku ini bisa berjalan. Berbeda dengan mama yang jalan aja masih perlu alat bantu." sindir Baskoro, meski sebatas ingin membuat sang mama mertua semakin terpacuuu untuk kembali bisa berjalan normal.


"Dasar menantu kurang ajarrr, menantu durhaka kau ya!" umpat nenek Dahlia dengan wajah kesal.


Baskoro mencoba menghubungi Danu.


"Bagaimana? Apa sudah di jawab telpon mu oleh cucu ku?" tanya nenek Dahlia penasaran.


"Belum mah, Danu gak menjawab panggilan telepon ku sama sekali." terang Baskoro dengan gelengan kepala nya, yang mengisyaratkan belum di jawab.


"Apa Danu sering mengabaikan panggilan telepon mu, Bas? tanya nenek Dahlia ingin tahu.


"Gak seperti biasa nya sih mah. Biasa nya Danu akan langsung menjawab panggilan telepon nya.


'Aneh, apa benar. Ada masalah yang terjadi di sana? Jangan kau berikan keluarga ku ini masalah yang di luar batas kesabaran dan kamapuan cucu cucu menantu hamba yq Allah.' batin nenek Dahlia.


.


.


"Aku bingung harus jawab apa, aku takut papa akan menanyakan kabar putri nya. Sedangkan kamu tau kan, Mery kondisi nya seperti apa saat ini?" terang Danu, dengan menghembus nafas nya dengan kasar.


"Semoga Mery cepat pulih ya ka!" ucap Layla penuh harap.


"Semoga sayang!" seru Danu.


Danu masuk ke dalam ruang rawat Mery, melihat Arsandi yang tertidur di sisi Mery, menyanggah kepala Arsandi di atas berangkar.


Pluk pluk pluk.


"Jika kau ingin tidur, tidur lah di sofa!" titah Danu, menepukkk nepukkk bahu Arsandi.


"Aku tidak tidur, aku melek ini!" seru Arsandi dengan wajah yang sudah muka bantal dengan suara khas orang bangun tidur.


"Dasar kau ini, ayo bangun! Pindah lah tidur di sofa, di kasur juga boleh kalo kau ingin!" titah Danu, berhasil membuat Arsandi membuka ke dua mata nya.

__ADS_1


Arsandi beranjak dari duduk nya, mata nya yang terkantuk kantuk, beberapa kali pula membuat nya menubrukkk dinding, yang ia lewati untuk menuju kamar mandi.


"Kau lihat itu Mery! Arsandi enggan meninggalkan mu dengan kondisi mu yang mengenaskannn sekali pun." cicit Danu, seakan tengah memberi tahu Mery.


"Percuma aku mengatakan ini pada mu, Mery! Anggap ini balasan untuk mu, yang selama pernikahan, sudah membuat Arsandi kecewa dengan sikap mu!" umpat Danu.


Arsandi ke luar dari dalam kamar mandi, dengan wajah yang jauh lebih segarrr.


"Apa yang kau katakan pada istri ku, kaka ipar Danu?" tanya Arsandi dengan tatapan menyelidik.


"Apa? Memang apa yang bisa aku katakan pada nya? Di katakan pun percuma. Istri mu itu gak bisa di ajak berdebat!" seru Danu seoalah sedang mengejek si Mery sendiri.


"Apa yang dokter katakan? Jangan ada yang kau sembunyikan dari ku kaka ipar Danu!" tanya Arsandi dengan tatapan menyelidik.


"Untuk luka di kepala, itu terdapat 5 jaitan, untuk pipi, pasti akan menghilang seiring berjalan nya waktu. Jadi kau cukup perhatikan cara Mery menghabiskan obat nya.


"Apa ada lagi yang tidak aku ketahui, selain yang kau tadi katakan pada ku kaka ipar Danu?" tanya Arsandi, seakan belum puasss mendengar pengakuan Danu.


"Tidak ada, aku sudah mengatakan semua yang dokter katakan pada ku." ucap Danu dengan bohong.


'Maaf Arsandi, jika aku tidak memberi tahu kenyataan yang lain, aku yakin kau pasti sangat merasa kecewa dengan apa yang di alami Mery. Biar lah ini menjadi rahasia ku, Layla dan dokter itu.' batin Danu penuh tekad.


"Ayo buka mata mu, Mer! Aku sudah membeli kan oleh oleh untuk mu! Aku harap kau menyukai nya! Aku ingin jika kau sudah sadar nanti, kau mengenakan hadiah pemberian ku." ycap Arsandi penuh harap pada Mery.


"Kau makan lah dulu, sejak kita sampai, kau itu belum makan." ucap Danu mengingatkan.


"Aku belum laper. Nanti aja, jika kau sudah laper, kau bisa memakan nya lebih dulu!" tolak Arsandi dengan halus.


"Hai kau pria bodohhh! Jangan sia siakan makanan. Aku sudah membeli mahal itu makanan, jadi kau harus habiskan! Cepat habiskan makanan mu!" titah Danu gak mau di bantah.


"Astagaaa galak sekali kau ini!" gerutu Arsandi.


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️


__ADS_2