
...🥀🥀🥀...
"Aku di mana? Apa yang terjadi pada ku?" tanya Mery dengan suara lemah.
"Kamu di rumah sakit, Mer. Kemarin kamu baru aja menjalani operasi di kepala setelah insiden yang kamu alami. Boleh aku tau, siapa yang melakukan ini pada mu?" tanya Arsandi pura pura gak tau siapa pelaku nya.
Mery tampak berfikir dengan kerutan di kening nya, 'Terakhir aku bersama dengan Roy, dia yang melakukan ini pada ku! Jadi itu bukan mimpi? Roy yang hampir memaksakannn tubuh nya pada ku? Apa lagi setelah itu, apa Roy benar benar melakukan nya pada ku?' batin Mery dengan penuh tanya.
Flashback Mery
Sreek.
Roy menjambakkk rambut Mery dengan kencanggg, sementara satu lutut nya ia tekannn pada punggung Mery.
"Aakkhhh sakit, lepaskannn tangan mu dari rambut ku! Ini sakit Roy!" pekik Mery, memegangi rambut nya yang di jambakkk Roy.
"Tenang sayang, pasti akan aku lepaskannn!" tangan Roy mulai bergeriliaaa di balik bluse yang di kenakan Mery.
"Jangan sentuhhh aku, singkirkan tangan mu Roy! Akkhhh!" Mery kembali memekik, saat tangan Roy semakin kencanggg menarikkk rambut Mery.
Mery merasakan sentuhannn tangan hangat Roy di punggung nya, Roy berhasil melepasss pengaittt pada gundukannn kembar nya, membuat si kembar ambyarrr tanpa kain penutup nya.
"Kita bersenang senang dulu sayang, jangan lupa kan aku yang kau bilang teman mu, maka jadi kan aku teman ranjanggg mu hanya sekali ini saja, sebelum aku mencampak kan mu Mery!" ucap Roy yang langsung mengukunggg Mery di bawah tubuh nya.
"Jangan lakukan ini pada ku Roy!" pinta Mery dengan ke dua tangan menyilang di depan dada, mempertahannn kan si kembar agar tak terjamahhh tangan nakalll Roy.
Roy tidak hilang akal, tangan nya bergerak liarrr di paha Mery, bibir Roy mendekat menyusuriii leher jenjang Mery.
"Akkkkhhh lepasss, menjauh dari ku! Bajingannn kau Roy!" teriak Mery dengan memberontakkk.
Dugh.
Flashback Mery and.
Arsandi gak tega melihat Mery yang tampak ketakutan, meringisss seakan merasakan sakit pada kepala nya, seiring tangan kiri Mery yang memegangi kepala belakang nya.
Dengan terus menggelengkan kan kepala nya, tangan kanan Mery menjulur ke depan, seakan menghentikan seseorang yang ingin mendekati nya.
'Apa yang sedang Mery ingat? Bukan hanya fisik yang Roy sakiti, kesakitan pun begitu jelas nampak dari wajah Mery yang ketakutan, mana tega aku melihat nya seperti ini!' batin Arsandi.
Grap.
Karena terkejut di tambah Mery yang mengira jika yang mencekalll lengan nya itu adalah Roy, Mery menepis tangan Arsandi dengan kasarrr di sertai dengan teriakan dan omelan.
"Akkkhhh menjauh dari ku Roy! Kau bajingannn! Laki laki berengsekkk!"
__ADS_1
Arsandi mengerutkan kening nya, 'Jadi Mery bersikap seperti ini karena mengira aku ini adalah Roy?'
"Tenang Mery, ini aku. Suami mu! Kamu sudah aman sekarang! Jangan takut! Ini aku, kau lihat... aku Arsandi!" jelas Arsandi, mencoba menenangkan Mery yang ketakutan.
'A- aku sudah aman? Aku gak lagi sama Roy? Arsandi menyelamat kan ku lagi? Pria yang aku pikir memanfaatkan ku beneran tulus pada ku? Ini nyata? Aku gak lagi berhalusinasi? Roy yang selama ini sudah memanfaatkan ku hanya demi dendam? Ada hubungan apa Roy dengan Julia?' batin Mery menatap Arsandi dengan tatapan yang sulit si artikan.
Grap.
Arsandi menarikkk Mery ke dalam dekapan nya, "Aku gak tau apa yang sudah kamu lewati, yang aku tau... aku gak akan membiarkan mu kembali dalam bahaya, apa pun akan aku lakukan untuk membuat mu merasa aman." jelas Arsandi dengan sungguh sungguh.
Ke dua tangan Mery melingkar di pinggang Arsandi, dengan erat meremasss kemeja yang di kenakan Arsandi.
"Maaf, ini semua salah ku! Aku yang terlalu bodohhh, percaya gitu aja sama pria yang baru aku kenal, pria yang aku pikir tulus pada ku. Justru dia yang menghasuttt ku untuk membenci mu, meninggal kan mu!" ujar Mery dengan tangis nya dalam dekapan Arsandi.
"Apa masih ada niatan dalam benak mu untuk meninggalkan ku?" tanya Arsandi dengan menarikkk ke dua lengan Mery untuk menjarak dari tubuh nya.
Mery menunduk kan kepala nya, 'Aku sungguh menyesal, sudah termakan ucapan Roy! Aku bahkan sudah terang terangan menyakiti hati Arsandi, tanpa perduli dengan perasaan nya! Aku gak pantas untuk Arsandi. Apa Roy beneran memaksakannn tubuh nya pada ku?' batin Mery penuh tanya dengan tatapan sedih.
Arsandi mencapittt dagu Mery, membuat Mery menatap wajah Arsandi.
"Apa yang membuat mu semudah itu percaya dengan Roy?" tanya Arsandi dengan tatapan menyelidik.
"Mungkin karena kami sama sama anak yang di campakkan orang tua, aku jadi mudah percaya pada nya." terang Mery dengan jujur.
Arsandi menghembuskan nafas nya dengan kasar, dengan raut wajah yang gak bersahabat, kecewa nampak di wajah Arsandi pada Mery.
Mery terpaku di buat nya, isi kepala nya mencerna perkataan yang baru aja Arsandi katakan pada nya.
'Apa maksud pak Arsandi berkata seperti itu?' batin Mery.
"Tunggu, apa maksud mu pak Arsandi? Katakan pada ku dengan jelas!" pinta Mery, dengan menatap Arsandi yang hanya tinggal beberapa langkah ke pintu.
Arsandi menghentikan langkah kaki nya, berkata tanpa menoleh ke belakang.
"Aku rasa kau butuh waktu, salah ku yang terlalu memaksaaa kan mu untuk menikah dengan ku tanpa memberikan mu waktu. Biar sekarang ku berikan kau waktu, ingin bertahannn dan merubah pola pikir mu, atau kita akhir nya saja sampai di sini!" ucap Arsandi dengan tegas.
"Jangan pergi! Aku mohon!" seru Mery dengan tangan terulur ke depan, jemari nya mencoba meraih tangan Arsandi.
Tanpa perduli, Arsandi melanjut kan langkah kaki nya. Dengan mantap ingin memberikan waktu untuk Mery, dalam mengambil langkah selanjut nya untuk rumah tangga nya bersama dengan Arsandi.
Mery membola dengan gelengan kepala, seakan hati nya gak siap jika harus kehilangan Arsandi, pria yang selama ini sudah mau melakukan banyak hal untuk nya.
"Arsandi!" seru Mery yang nekattt turun dari berangkar lantaran melihat tangan kanan Arsandi terulur hendak meraih hendle pintu.
Bugh.
__ADS_1
Kreeek.
Mery jatuh terduduk di atas lantai, dengan kepala belakang yang membentur tepian berangkar. Bertepatan dengan Danu dan Layla yang membuka pintu dari luar.
"Awhhhhhhh!" pekik Mery merasakan nyeriii di kepala belakang nya, dan sakit yang menyiksaaa dengan bagian inti nya.
"Astagaaa Mery!" seru Danu dengan mata membola, melihat Mery jatuh terduduk di lantai.
Layla dan Danu langsung berlari menghampiri Mery, begitu pun dengan Arsandi yang langsung menoleh saat mendengar suara benda jatuh.
"Kau cari mati hah! Mau apa kamu meninggalkan berangkar!" omel Danu dengan wajah khawatir.
"Jangan ngomel dulu, angkat Mery kembali!" titah Layla, yang langsung menekan tombol nurse cal di atas kepala ranjang.
Brugh.
"Biar aku aja!" Arsandi mendorong Danu ke samping, hingga Danu jatuh terduduk di lantai, lalu Arsandi menggendong Mery, membaringkan tubuh nya dengan hati hati.
'Astagaaa Arsandi, bisa bisa nya dia mendorong ku!' gerutu Danu.
Danu di bantu Layla, beranjak dari posisi ia terjatuh.
"Jangan membuat ku semakin buruk di mata Tuan Danu!" ucap Arsandi, kembali sungkan memanggil Danu dengan sebutan kaka ipar.
'Kenapa bang Arsan ngomong gitu sama Mery?' tanya Layla ingin tau meski dalam hati.
"Apa yang kamu katakan Arsandi? Kalian sedang bertengkar?" tebak Danu, dengan tatapan menyelidik.
"Aku sudah putuskan, aku yang akan ke kota C, mengurus masalah yang terjadi di sana." ucap Arsandi yang berlalu pergi, dengan cepat berubah pikiran.
"Hei! Mana bisa begitu! Kau bilang aku dan Layla yang pergi untuk mengurus masalah nya kenapa berubah pikiran?" tanya Danu dengan nada meninggi, berharap Arsandi berbicara baik baik dengan nya.
"Tolong cegah pak Arsandi untuk pergi, aku mohon! Jika kau benar mengaggap ku adik!' pinta Mery dengan tatapan memohon, ke dua tangan menangkup di depan wajah nya.
"Tolong temani Mery! Biar aku bicara pada Arsandi!" ucap Danu pada Layla dengan tatapan memohon, lalu ia mengejar Arsandi setelah Layla mengangguk kepala nya.
Mery ingin mengatakan ketakuannn atas prasangkaaa diri nya yang merasakan sakit pada inti nya.
"La, aku___" dengan tatapan kosong, Mery menatap langit langit kamar nya.
"Aku sudah tau, Mery!"
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
__ADS_1
...Jangan baper, kehaluan semata 🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️...
Jangan lupa ⭐⭐⭐⭐⭐