Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Bikin iri


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Gak jelas banget sih ini orang!" gumam Layla, yang masih bisa di dengar oleh Danu.


Danu menghentikan langkah kaki nya, berbalik badan, untuk melihat wajah Layla.


Bugh.


Brak.


"Akhhhh!" pekik Layla.


Layla yang tidak menyadari Danu menghentikan langkah kaki nya, dan berbalik menghadap nya, justru menubruk dada bidang Danu. Membuat buku buku yang ada di tangan nya berjatuhan di atas lantai, entah bagai mana, Layla yang ingin melangkah justru menginjak tali sepatu nya yang lepasss dari ikatan nya, membuat nya terhuyung ke belakang.


Grap.


Tangan kokoh Danu, dengan sigap menahan tubuh Layla yang hendak menyentuh lantai.


Gigi Danu menggeretuk, rahang nya mengeras, udah tangan nya di sentuh bocah tengik, sekarang mata nya pake buat mandang cowok lain, keterlaluan banget Layla! Gak bisa menghargai gue sebagai tunangan nya!


Layla memejamkan ke dua mata nya, membayangkan betapa sakit punggung nya menyentuh lantai dengan keras.


Ko gak sakit ya? Harus nya kan sakit banget? Malu nya gak ketulungan! teriak batin Layla.


"Kalo jalan tuh lihat ke depan! Punya mata bukan nya di jaga, malah di pake buat ngelirik cowok!" ucap Danu dengan ketus, otak nya mulai bergeser negatif pada Layla, meyakini Layla tengah melirik Juni yang duduk tidak jauh dari Ratna, membuat Danu kurang nyaman melihat nya.


Layla membuka ke dua mata nya dengan lebar, kamprettt, ternyata Danu yang nopang gue biar gak jatuh. Tapi bibir nya pedes banget sih ini orang!


Layla langsung menyingkirkan tangan Danu dari pinggang nya, ia berjongkok dan mulai memunguti buku buku yang berserakan di atas lantai.


"Siapa juga yang ngelirik cowok! Bapak aja tuh yang kalo berenti gak bilang bilang! Gak tau apa dada nya keras gitu kaya tembok!" gerutu Layla dengan bibir mengerucut.


Jangan kan bibir, bahkan dalam hati pun Layla ikut menggerutu.


Udah berbesar hati mau bantuin bawa ini buku ke ruang guru. Sekarang malah gue di tuduh ngelirik cowok! Haloooo situ waras, apa lagi miring!


"Tidak usah memaki ku dalam hati! Cepat ikuti aku, jika tidak... waktu istirahat mu akan habis hanya untuk memunguti buku buku itu!" gerutu Danu.

__ADS_1


"Udah, saya duluan yang jalan. Kalo bapak jalan duluan, saya gak yakin bapak gak ngulangin hal yang sama! Secara bapak ini pasti lagi modus sama saya!" ucap Layla dengan ketus, ia bahkan menghentakkan ke dua kaki nya, berjalan mendahului Danu.


Juni dan Ratna menatap ke arah ke dua nya, dengan tatapan heran di liputi tanda tanya besar.


Juni mengerutkan kening nya, kenapa gue ngerasa pak Danu kaya gak suka gitu ya sama gue, apa karena Layla? Apa karena gue di panggil pak kepsek? Tau lah! Jadi bingung sendiri gue!


Ratna membatin, kenapa lagi tuh sama Layla? Kemaren kemaren bermasalah sama ka Nugi, belum lagi Sopur, dan sekarang pak Danu. Masalah kaya gak bisa jauh dari Layla.


Danu hanya menoleh sesat pada Ratna dan Juni, ia melangkah dengan langkah kaki yang lebar, berusaha menyamakan langkah kaki nya dengan Layla.


Danu mengepakkan tangan nya, saat melihat Layla yang akan ke luar dari ruang guru, ke dua nya berpapasan Danu yang hendak masuk ke ruang guru, dan Layla akan berjalan ke luar.


"Saya permisi pak! Buku buku sudah saya letakkan di atas meja bapak!" cicit Layla dengan menatap lantai, enggan menatap wajah Danu yang berdiri di depan nya.


Danu melirik ke dalam ruang guru, hanya ada pak Asep yang sedang menyeduh kopi dengan air dispenser.


Cup.


Danu mengecup sekilas pipi Layla, membuat Layla membola dan menatap sepasang mata tajam Danu.


"Kamu!" seru Layla dengan penuh penekanan, sengaja banget ini orang! Gak liet apa kalo ada pak Asep di dalam! Kalo pak Asep sampe liet, gimana? Cari mati ini!


"Tapi kan! Sa----"


Grap.


Tanpa basa basi lagi, Danu menarik pergelangan tangan Layla, tidak perduli dengan kata kata yang belum Layla selesaikan. Danu membawa nya masuk ke dalam ruang guru, dan menekan bahu Layla, hingga gadis itu duduk dengan terpaksa di kursi yang ada di depan meja Danu.


"Saya bisa makan di kantin, pak! Gimana kalo guru guru lain pada bertanya, karena melihat saya di sini?" Layla tidak bisa menutupi rasa gelisah nya. Berkali kali ia menoleh ke arah pintu, yang berada di belakang nya.


Danu mendudukan diri nya di kursi nya, kursi yang ada di depan Layla dengan meja sebagai jarak ke dua nya.


"Santai aja, La! Guru guru tidak akan kembali sebelum bel masuk berbunyi." cicit pak Asep, duduk kembali di meja nya dengan menyantap makan siang nya, di temani secangkir kopi buatan nya sendiri.


"Kok bisa pak?" tanya Layla.


"Permisi pak, ini makanan yang bapak pesan tadi." ibu kantin mengantarkan sendiri makanan yang di pesan Danu, ia meletakkan nya di depan Layla dan Danu.

__ADS_1


"Terima kasih ya, bu!" ucap Layla, sementara Danu hanya tersenyum tipis.


"Sama sama, neng!" ucap bu kantin, pasti ada hubungan di balik guru dan murid. Pak guru pengganti ini kaya nya mengistimewakan banget neng Layla.


"Bisa tinggal kan kami?" cicit Danu, melihat ibu kantin yang malah terpaku di tempat nya.


"I- iya pak guru, nanti biar saya ambil mangkuk nya." cicit bu kantin, menghilang di balik pintu ruang guru.


"Bisa kau jelaskan pada ku, pak?" Layla memajukan kepala nya, lebih dekat dengan Danu, menatap nya dengan tanya.


"Makan saja makanan mu! Apa kau mau membiarkan guru guru kembali dan melihat kita makan bersama dalam satu meja?" ucap Danu dengan dingin, menyantap makan siang nya.


"Ihhssss nyeselin banget si lo! Itu ada pak Asep, liet kita makan berdua, lo gak masalah!" Layla mulai menyantap makanan nya, menunjuk pak Asep dengan bibir nya yang bergerak gerak ke atas.


"Jelas aku tidak masalah, pak Asep itu paman ku!" ucap Danu.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk, a- apa kau bilang? Pa- paman?" Layla terbatuk batuk karena tersendak bakso yang ia makan, saking terkejut nya mendengar pengakuan Danu.


"Minum dulu!"


Bukan hanya mengambilkan minum untuk Layla, Danu bahkan tanpa sadar mendekat kan botol mineral dan menempelkan bibir botol ke bibir Layla. Hingga gadis itu berhasil meminum nya beberapa teguk.


"Kalian berdua, belum sah saja udah bikin iri orang tua!" gumam pak Asep dengan gelengan kepala, menatap ke dua nya dengan bibir tersungging ke atas.


"Maka nya, jangan terlalu jadi pria pemilih di usia yang tidak lagi muda, paman!" celetuk Danu.


"Dasar kau, ponakan kurang ajarrr! Tau gitu aku memilih ikut dengan guru lain makan di luar!" gerutu pak Asep dengan wajah penuh sesal.


Di tempat lain, resto yang tidak berada jauh dari sekolah. Di sana lah guru guru serta kepsek menghabiskan jam istirahat mereka, menikmati makan siang dengan gratis. Karena apa yang mereka nikmati, akan masuk dalam bil Danu.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....

__ADS_1


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2