Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Tugas kelompok


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Sialannn kau! Apa kata warga sekitar?" Danu mengalihkan perhatiannya pada lokasi yang tengah ia tinjau.


"Bos belum menyetujui proposal pengembang itu kan?" tanya Arsandi dengan serius.


"Mana mungkin aku langsung menyetujui tanpa meninjau ulang apa yang mereka janjikan pada ku, kau ini! Memang kenapa? Apa mereka ingin menipu kita?" Danu memicingkan matanya, mencoba mencari tahu jawabnya lewat mata Arsandi.


Arsandi membuang nafasnya dengan lega. "Untung lah bos, ternyata mereka sudah banyak melakukan penipuan. Investasi bodong."


Tak.


Danu mendaratkan kepalan tangannya di kepala Arsandi dengan keras.


"Awhhh, sakit bos!" pekik Arsandi, mengelusss kepalanya yang sakit.


"Kau hampir membuat ku rugi ratusan juga, Arsandi!" sungut Danu, melangkah meninggalkan Arsandi.


"Jadi kita langsung kembali ke kantor nih, bos?" tanya Arsandi yang kini berada di belakang setir kemudi.


"Berhenti di SMA Pelita." titah Danu.


"Ciyeee yang mau jemput ayangk!" ledek Arsandi.


Bugh.


Danu menendang kursi belakang yang Arsandi duduki dengan kakinya.


"Uuhhhh pasti sakit ya, bos?" Arsandi pura pura kesakitan.


"Kepala mu!"


Beberapa menit sebelum bel pulang, di sekolah Layla.


"Jadi gimana? Lo bisa kan La... ke rumah gue, kita ngerjain tugas bareng." tawar Nina.


Deri yang duduk di sebelah Nina, ikut menimpali pembicaraan Nina dan Layla.


"Masa di rumah lo si Nin! Di kafe aja deh yuk, lagi juga kenapa sih gue pake satu kelompok sama lo! Kenapa gak sama Layla aja, iya gak La!" Deri mengerlingkan matanya pada Layla.


"Eh dodol, kenapa tadi lo gak minta pindah kelompok aja sama Irvan. Geng lo kan ada di Irvan." ketus Nina.


"Tau nih, tau gitu tadi gue yang minta Eli pindah kelomlok kita." sungut Mery.


"Lo lagi, mending lo aja Mer, tuker sama Irvan." tawar Deri.


"Sorry gays, gue aman di kelompok gue, udah gak bakal bisa di ganggu gugat." ucap Irvan dengan senyum mengembang.


"Ah kamprettt lo pada, gak asik lo!" sungut Deri, yang tidak ada seorang pun mendungnya.


"Ahahhaha cucian deh lo." ledek Nina dengan tertawa puas.


Sopur menatap tajam pada Nina, Layla, Mery dan Deri, sialannn... harusnya kan gue yang satu kelompok sama Layla, kalo kaya gini caranya. Gimana bisa gue ngerjain tuh anak.


Kreek.


Pulpen yang di genggam Sopur, patah menjadi 2.


"Wissh gila, mau maen debus lo, Pur?" Deri menggelengkan kepalanya, melihat pulpen yang patah menjadi 2 bagian.


"Bukan urusan lo!" Sopur beranjak dari duduknya, meninggalkan kelas.


"Gak mau pada balik lo pada?" tanya Andri, ketua kelas.

__ADS_1


"Emang udah bel? Belom kan?" celetuk Mery dengan acuh.


"Kirain mau pada nginep lo pada di mari!" ledek Andri.


Sreek sreek.


Mery menowel nowel bahu Nina yang duduk di depannya.


"Kenapa lagi?" Nina menoleh ke belakang, menatap Mery dengan tanya.


"Lo gak curiga sama Sopur? Sohib lo udah liet foto yang di mading, belom sih?" Mery melirikkan ekor matanya pada Layla, tampak sibuk dengan coretan coretan buku yang ada di hadapannya.


Nina mengerdilkan bahunya, menoleh Layla sejenak, fokus kembali pada Mery.


"Kayanya belom." ucap Nina.


Teng teng teng teng.


Bel sekolah berbunyi, mengakhiri jam pelajaran. Sementara guru yang mengisi mata pelajaran di kelas Layla, sudah menghilang lebih awal, setelah membagi muridnya menjadi beberapa kelompok.


"Jadi kita ngerjain di mana nih?" tanya Nina, melihat Layla baru merapihkan alat tulisnya ke dalam tas.


"Yang lain maunya di mana?" Layla bertanya balik pada temannya. "Aku telpon ayah dulu deh, mau ngabarin pulang telat." Layla mendiel nomor Noval di hape-nya.


Mery, Nina dan Deri sibuk berunding. Layla sibuk bicara pada Noval lewat sambungan teleponnya.


"Assalamualaikum ayah."


[ "Waalaikum salam, La... ada apa La?" ]


"Aku izin ya yah, pulang telat... aku mau ngerjain tugas kelompok, di mana ngerjainnya masih di rundingin sama temen temen. Gak apa kan yah, aku pulang telat."


[ "Loooo, Danu belom ngabarin kamu, La! Tadi Danu izin sama ayah buat jemput kamu. Ayah juga udah minta tolong nak Danu buat jemput adik kamu Lulu sekalian." ]


Mau ngapain lagi itu anak jemput? Jangan bilang itu anak udah di depan pager. Jemput pake apaan ini si Danu! Aduuuh pusing kan nih gue jadinya. Layla menggaruk kepalanya dengan frustasi.


[ "Kamu dengar ayah kan La?" ]


"Iya yah. Ya udah, nanti Layla kabarin ya yah! Kalo Layla udah ketemu Danu."


[ "Jangan Danu, La... pake kaka gitu sama Danu, usia kalian kan beda 5 tahun!" ] suara Noval yang protes, mendengar Layla memanggil Danu tanpa embel embel.


"Iya ayah, Layla ngerti ko. Dah ayah, assalamualaikum ayah!" Layla berkata selembut dan semanis mungkin, untuk mengakhiri panggilan teleponnya.


Layla membuang nafasnya dengan kasar, menyandarkannya punggungnya dengan sandaran kursi yang ia duduki.


"Kenapa, La? Lo gak di izinin sama ayah lo buat ngerjain tugas kelompok?" tebak Mery.


"Ngerjain di rumah lo aja La, kalo ayah lo gak kasih izin buat ngerajin di luar." cicit Nina.


"Asiiiik ketemu calon mertua, beloh tuh La." jawab Deri dengan semangat 45.


Semakin bingung Layla buat jelasin sama ke tiga temannya.


Layla menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue ngomong dulu deh sama orang yang jemput gue ya!"


Layla langsung berlari ke luar dengan tas di punggungnya, meninggalkan ke tiga temannya di dalam kelas.


"Aneh banget sih sohib lo!" celetuk Mery.


"Udah ayo kita susul aja. Pengen tau gue siapa yang jemput Layla." Nina menarik tangan Mery, menyusul langkah kaki Layla.


"Woy, jangan ninggal lo pada!" Deri ikut berlari mengekor ke duanya.

__ADS_1


Di belakang dinding toilet putri, Sopur meremasss tangannya sendiri dengan kencang.


"Jawab gue, Sopur! Lo tau kan siapa itu cowok!" tanya Nugi dengan tatapan menyelidik, jari telunjuk kanannya menunjuk di depan wajah Sopur.


Deg.


Wajah Sopur semakin pias, takut menghadapi kemarahan Nugi.


"Gue be- bener gak tau, Gi! Kalo gue tau, pa- pasti gue bakal kasih tau lo! Sekarang biarinin gue pergi!" pinta Sopur dengan ke dua tangannya mengatup di depan wajah.


Nugi mencengram wajah Sopur dengan tangan kanannya. "Lo jangan berani bohongin gue ya Sopur! Lo tau kan siapa gue! Kalo gue mau, sekarang juga lo bisa di keluarin dari sekolah. Ngerti lo!" ancam Nugi.


"Jangan Gi, jangan lakuin itu ke gue! Gue bakal cari tau siapa itu cowok. Setau gue, Layla emang gak punya cowok. Bisa aja kan itu teman ayahnya." jawab Sopur sekenanya.


Nugi mengerutkan keningnya, bisa jadi sih. Tuh cowok juga kemaren setelannya orang kantoran. Bisa juga karyawan ayahnya Layla.


"Pergi lo!" Nugi mengusir Sopur dengan gerakan kepalanya.


Tidak jauh dari gerbang sekolah.


Arsandi berdiri di depan mobil, menunggu Layla ke luar dari sekolahnya. Sementara Danu tengah mengatur kata demi kata, menjadi kaliamat yang pas untuk ia katakan pada Layla saat bertemu nanti.


Wajah Danu tampak tegang, dengan duduk tegak, kaki kanannya menepuk nepuk kecil pada pijakan mobil.


"Gue jemput lo, tadi udah bilang sama paman. Mau makan siang dulu?" Danu menggelengkan kepalanya, berfikir jika kurang pas kaliamatnya.


"Lama banget sih lo! Kita cari makan dulu, lo pasti laper!" Danu menggelengkan kepalanya lagi, apa gak ketus itu gue!


"Non Layla!" Arsandi melambaikan tangannya, saat melihat orang yang ia tunggu, akhirnya ke luar juga dari gerbang sekolah.


Layla menyunggingkan senyum, berlari kecil ke arah Arsandi. "Mudah mudahan si Danu gak ke luar dari mobil, bisa berabe kalo anak anak tau." gumam kecil Layla.


"Selamat siang, Non!" sapa Arsandi, membungkuk hormat lalu membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Layla.


"Siang, ka." jawab Layla singkat.


"Gue bisa kan gak ikut lo pulang bareng! Gue ada tugas kelompok sama temen temen gue. Lu jemput aja Lulu. Oke!" Layla membungkukkan tubuhnya, menatap Danu yang tengah duduk di dalam mobil.


"Gak bisa! Lo harus ikut gue! Berapa orang dalam satu kelompok lo?" tanya Danu yang tidak mau dengar penolakan.


"4 orang sama gue, tapi nanti mereka tau hubungan kita, gimana? Berabe kan!" jelas Layla.


Danu menyembunyikan mata tajamnya dengan kaca mata hitam. "Suruh mereka ikutin kita! Gue tau tempat yang pas buat belajar kelompok." Danu ke luar dari mobil.


Layla mengerutkan keningnya, dengan berdiri tegak, menatap Danu dengan tanya. "Maksud lo, gimana sih Dan!"


"Layla, ayo!" Nina melambaikan tangannya, dengan duduk di bonceng Mery.


Deri nampak anteng duduk di atas motornya.


"Samperin sana, teman kamu!" titah Danu.


"Ihs nyeselin banget si lo!" gerutu Layla, menghentakkan ke dua kakinya meninggalkan Danu.


Danu membuka pintu mobil. "Ke luar lo!" titah Danu pada Arsandi yang duduk di belakang kemudi.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


...Jangan lupa tinggalin jejak, like, rate 😅 komen dah kalo perlu....

__ADS_1


...Makasih yooo ☺️☺️...


__ADS_2