Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Mimpi apa berhayal


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Apa?" tanya Mery dengan terkejut, memperlihat kan wajah nya yang lucu di mata Arsandi.


Cup.


"Aku mimpi?" Mery menyentuhhh pipi nya dengan jemari nya.


"Lusa kita akan menikah! Kau tidak akan menolak ku kan bocah?" tanya Arsandi dengan senyum devil nya.


"A- aku belum siap untuk menikah! A- aku juga belum siap untuk menjadi seorang ibu." cicit Mery dengan menelan saliva nya dengan sulit.


Pikiran Mery melayang jauh, di bawah alam hayalan nya yang akan sangat sulit nya menjadi seorang istri sekaligus ibu.


...Pagi hari yang melelahkan dalam hayalan Mery....


^^^"Yank! Tolong ambilkan aku dasi!" seru Arsandi yang bersiap hendak ke kantor.^^^


Sementara Mery berada di kamar putra putri nya yang tengah sibuk dengan ke dua anak nya.


^^^"Ada di laci, ambil aja dulu sendiri pak suami!" bantah Mery sambil menggendong sang baby yang masih menor. Dan kali nya di peluk seorang bocil yang baru berusia 4 tahun tengah menagis.^^^


^^^"Yank! Kopi ku mana? Aku gak bisa berangkat kerja sebelum minum kopi!" seru Arsandi berjalan ke meja makan.^^^


^^^"Aku belum sempat buatkan. Anak mu dari tadi nangis terus." teriak Mery.^^^


Sementara dalam kenyataan nya.


Tak.


Arsandi menyentilll kening Mery dengan jari telunjuk nya cukup kencanggg. Saat Arsandi melihat Mery sesekali bergidik dengan tatapan ngeriiii.


"Awwwhhhh sakit! Apa yang kau lakukan pak suami?" sungut Mery dengan kesal, mengelusss kening nya yang terasa sakit.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Arsandi dengan kening mengkerut.


"Tadi kamu bilang apa? Pak suami?" tanya Arsandi dengan mengingat kembali panggilan apa yang di berikan Mery untuk nya barusan.


"Pak suami! Ada apa?" Mery mengulang kembali panggilan yang ia berikan untuk Arsandi.


"Aku gak lagi bermimpi kan? Ini nyata? Beneran kamu memanggil ku pak suami?" tanya Arsandi gak percaya apa lagi dengan status mereka berdua.


"Iya lah, mau tidak mau... aku harus membiasakan diri untuk memanggil mu pak suami? Kita kan emang udah suami istri." ucap Mery dengan santai nya, mengingatkan Arsandi akan status mereka berdua.


Arsandi menahan tawa, menyadari perubahan sikap Mery.


"Pfuuhhh ahahahahahah menikah? Kita sudah suami istri? Jadi menurut mu kita ini sungguh sudah menikah? Kamu gak lagi bergurau kan sayang?" cecar Arsandi dengan tergelak gak bisa lagi menahannn tawa.

__ADS_1


"Ada apa Arsandi?" tanya Danu, heran dengan sikap Arsandi.


"Tidak ada Tuan." ucap Arsandi dengan senyum mengembang.


Mery mengerutkan kening nya, menatap Arsandi dengan sorot mata tajammm, meminta penjelasan atas sikap Arsandi yang mencurigakan di mata Mery.


Belum hilang keterkejutan nya atas muncul nya pak Danu, ia kembali di sadarkan dengan banyak nya teman teman Mary dan keberadaan mereka yang ada si sekola.


"Jangan bilang tadi aku, kita ada di sekolah? Bukan nya aku dan pak Arsandi lagi di rumah? Pak Arsandi tadi mau berangkat kerja. Kenapa sekarang kita bisa ada di sekolah?" tanya Mery dengan menggaruk kepala nya yang di liputi kebingungan.


"Jadi tadi kamu itu lagi asik ngelamun, Mery? Apa yang kamu lamunkan Mery?" tanya Danu, ikut nimbrung dalam obrolan Mery dan Arsandi dengan tatapan menyelidik.


"Anu pak, tadi saya lagi di rumah. Tapi kenapa saya bisa ada di sini ya? Kenapa kamu juga di sini? Bukan nya kerja! Lalu aku kenapa pake baju ini?" Mery menatap sekitar nya yang ternyata di sekolah, dan pakaian adat dari salah satu suku


"Mer, kita ini lagi ada di acara perpisahan sekolah. Apa kamu lupa? Apa yang kamu pikirkan sejak tadi Mery?" kini gantian, Layla yang menyembulkan kepala nya di balik tubuh mungil nya yang terhalang tubuh atletis Danu.


Merry mencerna perkataan Layla, mencoba nya untuk mengerti.


"Layla? Jadi tadi aku ini lagi mimpi apa berhayal?" Mery bertanya pada Arsandi, setelah melihat keberadaan Layla.


"Mimpi atau hayalan?" Arsandi mengulang perkataan Mery.


Mery mengagguk kan kepala nya. Membenarkan apa yang di katakan Arsandi.


"Kamu melamun, apa yang kamu lamunkan Mery? Katakan pada ku?" cecar Arsandi ingin tau.


"Aahahhahahhahh." Danu tertawa terbahak bahak mendengar pengakuan Mery.


Arsandi mengerutkan kening nya gak percaya. "Jadi kamu pikir, aku ini suami yang sangat merepot kan? 2 anak yang lucu dan merepotkan juga? Aku suami yang suka berteriak teriak? Astagaaa mimpi buruk ku adalah hayalan mu itu Mery!" ucap Arsandi dengan gelengan kepala, dengan tatapan sulit di artikan, dengan pandangan yang sangat mengenaskannn.


Prak.


Layla menggeprak lengan Arsandi.


"Apa yang udah bang Arsandi katakan pada Mery? Kenapa Mery jadi jauh bangat hayalan nya?" tanya Layla ingin tau dengan tatapan memburu.


"Sayang! Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri! Kita cukup dukung aja ya!" ucap Danu, mengalihkan perhatian Layla pada nya seorang.


"Dukung gimana sih ka? Aku aja gak tau apa yang di katakan bang Arsandi, sampe buat Mery kaya gitu! Gak liet tuh! Mery tampang nya cape bener!" Layla menujuk Mery dengan jari telunjuk kanan nya.


"Gak apa sayang." ucap Danu.


"Heh kalian berempat, kenapa pada sibuk sendiri? Gak menyaksikan pertunjukan dadakan kami bertiga!" omel Baskoro dengan ke dua tangan di pinggang, berdiri di depan Danu dan Layla.


"Tau nih kalian, apa yang sedang kalian bicarakan? Bagi lah pada bapak! Bapak juga kan ingin tau!" timpal Yanto.


"Apa ini ada hubungan nya dengan rencana masa depan kalian berempat?" tebak Noval dengan tatapan menyelidik, menatap bergantian pada ke empat orang beda usia ini.

__ADS_1


Arsandi dan Danu, menanggapi nya dengan biasa aja. Berbeda dengan Layla yang masih bingung dengan Mery.


Sementara Mery, menatap Noval dengan bingung, ia menggaruk kepala nya sendiri yang gak gatal.


"Arsandi bawa Mery dulu ya paman paman, takut ganggu acara keluarga besar kalian!" Arsandi beranjak, membawa Mery undur diri dari mereka.


"Tapi acara nya belum selesai!" seru Mery dengan menoleh ke arah Layla dan keluarga nya.


"Udah sayang, ada yang ingin aku perlihat kan pada mu!" bujuk Arsandi lagi, menggiringgg Mery ke luar dari tempat acara berlangsung.


"Apa lagi? Pulang? Kau benar pak suami, kita emang harus pulang pak suami, kasian anak anak. Pasti lagi pada nangisin kita berdua." cicit Mery yang ingat akan anak dalam hayalan nya tadi.


Arsandi membuang nafas nya dengan kasar. "Apa pun itu lah sayang, terserah kau saja!" ucap Arsandi setengah putus asa.


Arsandi membawa Mery pulang ke rumah bibi nya, rumah yang selama ini menjadi tempat untuk Mery pulang dan berlindung.


Tok tok tok.


Kreeeek.


Pintu kayu terbuka lebar, saat ada wanita paruh baya namun tampak cantik di usia yang gak lagi muda.


"Assalamualaikum bibi!" seru Arsandi yang meraih dan mencium punggung tangan kanan bibi nya Mery.


"Apa acara nya udah selesai nak Arsan?" tanya bibi, dengan gerakan tangan nya mempersilah kan tamu nya untuk masuk.


"Mery buatkan minum dulu! Kamu omongin aja sama bibi!" Mery berlalu, meninggalkan Arsandi bersama dengan sang bibi.


"Omongin? Apa yang mau kamu omongin nak?" tanya bibi, begitu ke dua nyanduduk di kursi kayu, dengan rumah yang sederhana.


"Begini bibi, nanti malam saya akan membawa atasan saya. Mendampingi saya untuk meminang Mery sebagai istri saya. Apa bibi gak keberatan dengan niat saya ini?" tanya Arsandi dengan tatapan penuh harap.


"Apa bibi gak salah dengar? Nak Arsandi ini pria baik, berpendidikan, seseorang yang sangat berbeda dengan Mery. Apa gak akan menjadi masalah di kemudian hari jika kalian sampai menikah?" tanya bibi yang segan pada Arsandi.


"Arsandi gak permasalah kan itu bi, cukup Mery cinta, setia dan menerima Arsandi apa ada nya. Itu udah cukup buat Arsandi." ucap Arsandi dengan yakin dan mantap.


"Bibi terserah pada Mery, Mery yang akan menjalani nya dengan mu." ucap bibi.


Mery menyodorkan teh hangat, di depan Arsandi dan sang bibi.


"Gimana Mer! Kamu mau dengan keputusan nak Arsandi?" tanya bibi dengan penuh selidik.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


...Kehaluan semata, jangan baper!...

__ADS_1


...Hayo lah jempol nya mana ini, ⭐⭐⭐⭐⭐ biar banyak updat....


__ADS_2