Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Ratna, Julia


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Gue yakin tuh, pasti ada om om perut buncit plusss berduit yang ada di dalam mobil sana, yang biasa kasih duit buat Layla." cibir Ratna, yang kini mengikuti mobil yang di tumpangi Layla.


"Ah masa sih, gimana kalo pemikiran lo itu salah, Na!" ujar Julia, yang duduk di samping Ratna.


"Kita liat aja nanti, ucapan gue ini udah pasti bener. Lo liet dong, itu mobil keluaran terbaru, dan yang mampu itu beli mobil... udah pasti cuma orang orang berduit." ucap Ratna kekeh, gak mau ngalah.


'Gue pastiin, hidup lo gak akan bisa tenang setelah gue tau kenyataan nya Layla! Anggap aja gue ini neraka buat lo! Ahahah, abis lo besok di sekolah! Satu sekolah pasti bakal ngehujat lo, setelah tau lo itu beneran seorang pelakor, simpenannn pria berumur!' batin Ratna dengan seringai di bibir nya.


"Gila, yakin ini rumah Layla? Anjiiim gede banget!" seru Julia, menatap takjub pada rumah yang di masuki mobil yang membawa Layla.


"Aissss lo bisa liet gak itu cowok yang baru aja turun dari kursi penumpang? Kaya gak asing kalo di liet dari gestur tubuh nya! Kaya siapa ya?" gumam Ratna, dengan ke dua mata memicing tajam.


"Yah lo, mana bisa gue liet. Gak nyadar lo, jarak kita nih jauh banget sama mereka!" gerutu Julia.


Tok tok tok tok.


Terdengar suara ketukan kaca mobil samping kemudi milik Ratna.


"Siapa sih nih orang, pake berani banget ngetok kaca mobil gue, gak tau apa gue nih lagi ngintai si Layla!" protes Ratna, yang terpaksa menurunkan kaca mobil nya.


"Ia pak, ada apa ya?" tanya Ratna, menatap pria berseragam satpam, yang tadi mengetuk kaca mobil nya.


Julia menelan saliva nya, menatap takut pada pria berseragam satpam yang tampak sangar dengan tubuh yang besar dan tinggi.


"Ade ngapain berhenti di sini? Apa ada yang ade cari? Atau ada yang bisa saya bantu?" tanya pak satpam dengan suara dingin.


Dengan tergagap, Ratna membuka suara nya, memberanikan diri. Untuk bertanya pada pria yang baru saja bertanya pada nya.

__ADS_1


"I- itu pak, emmm i- itu ta- tadi kaya temen saya. Sa- saya cum- cuma mau kasih kejutan sama temen saya itu. Nama nya Layla, apa Layla beneran tinggal di rumah itu pak? Dengan siapa Layla tinggal pak?" Ratna menunjuk jari nya pada rumah besar yang berdiri megah di depan nya.


'Ini anak seperti nya mencurigakan, jika benar mereka berdua ini teman Nona Layla, untuk apa mereka berdua mengikuti nya? Saya harus laporan nih sama Tuan Danu.' batin pak satpam, mengamati ke dua bocah berseragam sama dengan Layla.


"Maaf adek, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Jika kalian benar teman dari Nona Layla, harus nya anda tau tanpa bertanya pada saya! Bisa tolong lanjutkan perjalanan anda! Mobil di larang parkir sembarangan di area ini!" ucap pak satpam dengan tegas.


"Cihhhss pelit banget lo pak! Nyesel gue nanya sama lo! Awas lo, gue aduin sama Layla. Biar lo langsung di pecat! Satpam gak guna!" maki Ratna dengan penuh emosi, wajah nya merah padam, apa yang di inginkan tidak berhasil ia dapatkan.


Julia mengerut kan kening nya, telinga nya seakan sejalan dengan hati nya yang tidak membenarkan perkataan Ratna.


Puk puk puk.


Julia menepuk nepuk lengan Ratna, sambil berujar, "Na, Ratna... sejak kapan Layla mau dengerin ucapan lo? Kita bahkan di kelas gak saling tegur sapa lo!"


Ratna mengepalkan tangan nya, menatap tajam Julia. "Dasar begooo, gak harus lo omongin juga kali!" ucap Ratna dengan penuh penekanan.


"Ehem ehem, saya mendengar nya!" suara deheman dan seruan pak satpam pun terdengar jelas di telinga Ratna.


"Makin penasaran gue, itu pasti rumah yang di beliin sama om om, secara sekarang Layla udah jadi selingkuhan nya!" pikir Ratna.


"Jangan asal jeplak lo Na, belom ada bukti!" protes Julia.


Ciiit.


Ratna menghentikan laju mobil nya setelah menginjak pedal rem.


"Serius lo, Na? Gak ada angkot Na di sini! Turunin gue di depan aja deh! Gitu aja pake ngambek si lo, sama gue!" Julia memperhatikan jalan yang merupakan masih kawasan perumahan elit, yang gak memungkinkan ada kendaraan umum yang bisa ia jumpai.


"Gue gak perduli, cepat lo turun!" usir Ratna dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Ia ia, gue turun!" mau tidak mau, Julia pun turun dari mobil Ratna dengan terpaksa.


"Makanya punya nulut yuh di jaga, siapa suruh lo bikin gue kesel!" umpat Ratna, melajukan kembali mobil nya. Meninggalkan Julia di jalan yang sepi.


Layla dan Danu, yang baru pulang langsung di sambut nenek Dahlia yang duduk di kursi roda, dengan suster yang mendorong kursi roda nya.


"Siang nenek tersayang! Nenek mau jalan jalan sama Layla?" Layla mencium punggung tangan kanan sang nenek.


"Ne- nek mau ja- lan ja- lan sam- ma ka- lian ber- dua!" ucap nenek Dahlia dengan terputus putus.


"Kita jalan ke taman belakang aja ya nek!" ajak Danu, melepasss jas yang ia kenakan, dan menyerahkan nya ke pak Didi.


Suster pun mengambil alih tas sekolah Layla. "Biar saya bawakan Nona!" seru suster.


"Maaf ya sus, merepotkan suster!" ucap Layla, yang gak enak hati.


"Sudah tugas saya Nona!" seru suster.


"Maaf Tuan mengganggu!" ucap pak satpam, yang kini berdiri di depan Danu.


"Kamu duluan aja, La!"


...💖💖💖...


Bersambung...


Like dan komentarnya dong, 😅😅


...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


__ADS_2