Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Kembali saja


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Danu membaringkan Layla dengan hati hati di atas ranjang.


Layla mengerutkan kening nya, menatap bingung pada ruang kamar yang gak asing di mata nya.


"Kita pulang ke rumah, atau kaka hanya memindahkan ku ke rumah sakit lain? Aku mau pulang!" ucap Layla dengan tatapan memohon.


"Ini kita udah di rumah La... kamu udah berada di tempat yang aman. ujar Danu, berdiri di samping Layla, mengelusss kepala Layla dengan penuh kasih sayang.


Layla menggelengkan kepala nya, "Ini bukan kamar kita ka! Ini bukan di rumah. Aku tau ini bukan kamar yang ada di rumah kita ka!" kekeh Layla.


'Aku tau ka Danu pasti lagi bohong, ini bukan kamar yang ada di rumah. Ini rumah sakit, aku cuma di pindah rumah sakit. Ka Danu gak sudi bawa aku pulang.' pikir Layla, berprasangka buruk akan Danu.


Arsandi dan seorang dokter menghampiri ke dua nya.


"Ini benar di rumah, Nona. Tuan yang meminta saya untuk menyiapkan kamar ini. Kamar yang fasilitas nya gak jauh berbeda dengan rumah sakit." ujar Arsandi, seolah menjawab kebingung di hati Layla.


"Kenal kan Nona, saya Agus... dokter psikolog yang akan menangani anda." ucap Agus, dengan mengulur kan tangan kanan di depan Layla.


"Dokter psikolog?" Layla menoleh ke arah Danu dengan kening yang mengkerut.


"Maksud nya apa ini ka? Kaka pikir aku gila, sampe harus pake dokter psikolog?" tanya Layla dengan nada meninggi, ia bahkan beranjak dari tidur nya, menatap nyalang Danu.


Danu mengernyit, lalu menepis tangan pria yang mengaku Agus itu.


"Ada apa Tuan? Apa yang salah dengan perkataan saya?" tanya dokter Agus dengan wajah bingung.


"Nanti aku jelaskan pada mu ya! Sekarang kamu istirahat dulu ya! Tubuh mu itu masih lemas La!" titah Danu tegas, tanda jika ia gak mau di bantah.

__ADS_1


Melihat sorot mata tajam Danu, nyali Layla menciut, apa lagi dengan tubuh nya yang masih lemas.


Membuat Layla dengan terpaksaaa menuruti Danu, saat ke dua tangan Danu mendorong tubuh nya perlahan, hingga ia berbaring kembali di atas ranjang.


Kini Danu menatap ke dua pria yang ada di hadapan nya itu dengan tatapan memburu.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian di luar! Sekarang dan saat ini juga!" titah Danu dengan suara datar, tanpa ekspresi.


Danu berjalan lebih dulu, dengan di ikuti ke dua nya yang gak lain adalah Arsandi dan Agus.


Arsandi menelan saliva nya dengan sulit, 'Apa lagi kesalahan ku sekarang? Perasaan aku sudah melakukan seperti apa yang Tuan minta kan!'


Dokter Agus sendiri berusaha bersikap biasa, meski jauh di lubuk hati nya. Merasa bingung dengan sikap yang di tunjukkan Danu pada nya.


Ceklek.


Danu menatap tajam wanita muda itu, "Kau yang akan merawat istri ku?" tanya Danu datar.


"Iya Tuan. Apa ada yang salah Tuan?" tanya perawat itu dengan menatap tampilan nya sendiri, merasa gak ada yang salah dengan apa yang ia kenakan.


'Aku gak boleh sampe salah memperkerjakan orang lagi, aku gak mau apa yang di alami nenek Dahlia... kembali terulang terhadap Layla.' pikir Danu.


"Maaf Tuan, saya harus memeriksa keadaan Nona!" seru perawat wanita yang belum juga di perbolehkan masuk, lantaran Danu yang berdiri di ambang pintu.


"Kalian bertiga ikut aku! Dan kau Adi, tunggu di sini sampai aku kembali!" titah Danu dengan menatap Adi yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Tapi Tuan, saya ___" baru juga ingin menolak, tapi Danu langsung memotong perkataan si perawat.


"Di sini aku Tuan nya! Tidak ada alasan apa pun yang bisa membuat kalian membantah ku!" sarkas Danu.

__ADS_1


Danu berjalan dengan langkah lebar, menuju ruang kerja nya yang ada di lantai bawah, samping kamar yang di huni Layla saat ini.


Si perawat menghembuskan nafas nya dengan kasar, dengan malas ia mengikuti langkah kaki Arsandi dan dokter Agus.


"Kata mu Tuan Danu itu orang nya baik dan dingin, tapi kenapa aku lihat dia seperti nya tidak menyukai ku!" gumam perawat pada Arsandi.


"Gak usah banyak tanya!" sungut Arsandi dengan acuh.


Danu langsung mendudukan diri nya di kursi kebesaran nya. Menatap ke 3 orang yang tengah berdiri di depan meja kerja nya.


"Kau dokter Agus? Aku tidak ingin Layla di tangani oleh mu! Aku mau kau kembali saja ke rumah sakit tempat mu bekerja sebelum nya. Dan kau perawat!" ucap Danu dengan tegas menatap Agus dan kini beralih pada perawat.


'Apa... aku belum mulai bekerja. Tapi sudah di berhenti kan? Yang benar saja! Ini sama aja dengan mempermainkan profesi ku sebagai seorang dokter!' gerutu dokter Agus dengan tangan mengepalll, gak terima dengan keputusan yang di ambil Danu.


Perawat tertegun, mendengar keputusan yang di ambil Danu untuk dokter Agus, calon rekan kerja nya.


"Apa kau benar seorang perawat?" tanya Danu, menatap tajam si perawat wanita.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Berawal dari kehaluan, dengan jemari tangan menari nari di atas papan ketik. Jadi lah tulisan.


Yuk komen yuk! Biar tambah semangat buat update 🤭 nya.


...💖💖💖...


...Kehaluan semata...

__ADS_1


__ADS_2