Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Terpesona


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Buat apa gantian, toh kita berdua bisa mandi bareng kan? Kita cuma mandi bareng La! Emang kamu pikir mau ngapain hem?" Danu belum menyerah untuk membuka kembali pintu kamar mandi.


Brak.


Pintu berhasil di buka Danu.


Bugh.


"Awwwhhh!" pekik Layla.


Tubuh Layla yang hampir jatuh terjerembab ke belakang, namun berhasil Danu tarik ke depan dengan tangan besar nya, hingga Layla jatuh dalam dekapan Danu.


Untuk sesaat ke dua nya saling tatap tanpa mengedip, ada perasaan yang aneh saat Layla berad di dekat Danu, sementara Danu yang sudah menyadari perasaan nya, berusaha menekan nya. Mengingat janji yang sudah ia ucapkan pada Layla.


Layla mendorong dada Danu. "Kau saja lah yang mandi duluan, aku bisa setelah nya!"


Grap.


Danu menahan langkah Layla. "Kan sudah aku katakan, kita mandi bersama, aku tidak akan macam macam La! Hanya mandi, setelah itu kita makan." bujuk Danu.


"Kita itu di kamar mandi cuma berdua, gimana kalo setan lewat. Merasuki pikiran mu! Gak lah, aku mau cari aman aja!" Layla mencoba melepaskan tangan nya dari genggamannn tangan Danu.


"Kau pikir aku mau melihat tubuh mu yang gak bagus bagus amat! Sorry ya, di luaran sana... masih banyak wanita wanita lain yang ingin mandi dan bahkan mereka menyerahkan tubuh nya pada ku dengan suka rela, tidak seperti mu yang besar kepala, sok jual mahal!" sungut Danu dengan perasaan kecewa, bagi nya Layla menolak keinginan nya.


Layla membuang nafas nya dengan kasar. "Jangan sama kan aku dengan wanita yang kau sebutkan itu, jelas aku berbeda dari mereka yang tidak punya harga diri!" ucap Layla dengan mantap, berlenggang ke luar dari kamar mandi dengan menutup pintu secara kasar.


Blam.


"Dasar Danu brengsekkk! Bisa bisa nya aku punya pikiran untuk setuju menikah dengan nya! Pria tidak bisa menghargai perempuan!" sungut Layla, memilih menghempaskan bobot tubuh nya di tepian kasur, menatap jengkel pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Danu sendiri di dalam kamar mandi langsung menendang angin, selepas pintu tertutup dengan keras.


"Dasar pria bodohhh, kenapa aku harus mengatakan hal yang tidak tidak. Layla pasti berfikir buruk terhadap ku, menganggap aku sering mempermainkan wanita. Sudah jelas jelas aku tidak begitu! Itu bukan sifat ku!" umpat Danu untuk diri nya sendiri.


15 menit setelah mengguyur kepala dan tubuh nya dengan air dingin, Danu langsung ke luar dengan handuk kecil di kepala, ia gunakan untuk mengeringkan rambut dengan tangan kanan nya. Sementara bagian pinggang sampai paha nya ia lilittt dengan handuk.


Ceklek.


Danu ke luar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, namun berusaha nampak cold meski hati nya masih mengumpat, karena kebodohan nya mengatakan yang tidak sepantas nya pada Layla.

__ADS_1


Layla menelan saliva nya dengan sulit, melihat buliran bening menetes dari rambut depan Danu, turun ke kening, merosot ke hidung nya yang mancung, mendarat di bibir yang tampak seksiii.


Belum lagi bulir bening yang tepat mengalir di dada bidang Danu, menampilkan roti sobek yang tampak menantanggg.


Layla tersentak kaget, saat hembusan nafas segar menyeruak di depan wajah nya. Pipi nya tanpa bisa di kendalikan langsung merona, ia kepergok memadangi roti sobek milik Danu.


"Tidak heran jika wanita di luaran sana bisa memuja ku, kau saja sudah mulai terpesona dengan bentuk tubuh ku bukan?" Danu menatap genit Layla, dengan alis yang naik turun.


Layla mengepakan ke dua tangan nya, kenapa gue gak nyadar kalo Danu udah di depan gue? Ini bocah bisa ngilang apa gimana sih?


"Ada ya, cowok yang pede gila kaya lo!" celetuk Layla.


"Ahahaha gue gak peke gila, tapi kenyataan nya emang gitu, La!" ucap Danu tersenyum puas melihat Layla yang tampak salah tingkah.


Layla mendecih. "Cihhhs ge'er banget lo! Gak nyadar lo, tingkah lo ini udah buat mata gue yang polos ini tercemar dengan ngelietin bentuk tubuh lo yang gak ke tutup handuk!" cici Layla dengan bibir mengerucut.


"Bilang aja, lo bangga bisa punya calon suami yang menjaga bentuk tubuh nya, sispex lo ini! Idaman para kaum hawa!" ledek Danu menatap punggung Layla yang menjauh dari nya.


"Sebodo amat! Emang gue pikirin!" Layla menutup pintu kamar mandi dan mengunci nya dari dalam.


Danu menghembuskan nafas nya dengan kasar, bosan menunggu Layla yang belum juga ke luar dari kamar mandi, pada hal sudah setengah jam lama nya Layla berada di dalam kamar mandi. Suara gemericik air dari shower pun tidak lagi terdengar di indra pendengaran Danu. Tapi pintu kamar mandi masih tertutup rapat.


Danu menyiapkan baju untuk Layla, meletakkan nya di atas kasur.


Suster Lia menyeringai, dengan tangan kanan nya yang mengaduk cangkir teh yang ada di tangan kiri nya.


"Aku tidak bisa menunggu sampai malam, toh cepat atau lambat... Tuan Danu pasti akan menjadi milik ku! Persetan dengan gadis yang di akui nya sebagai calon istri! Hanya bocah ingusan yang tidak apa apa nya!" gumam suster Lia.


Danu berjalan ke arah dapur, dengan langkah kaki yang tidak terdengar oleh suster Lia. Membuat suster Lia tidak menyadari kehadiran Danu.


"Apa yang sedang kau lakukan, sus?" tanya Danu dengan suara bas nya.


Prang.


Gelas yang berada di genggamann tangan kiri suster Lia, terlepas dan jatuh ke lantai dengan menyiprat kan teh panas ke kaki suster Lia.


"Awwwhhh panas, panas, kaki ku panas!" pekik suster Lia dengan beringkat.


Kreek.


"Uuuwhhhh!" ringis suster Lia.

__ADS_1


Tidak cukup dengan kecipratan teh panas yang sedang di buat nya, kini suster Lia semakin merasakan perih, saat salah satu kaki nya menginjak pecahan dari cangkir yang jatuh.


"Maka nya kalo melakukan sesuatu itu jangan melamun!" ucap Danu dengan ke dua tangan meraih sarapan nya dan juga Layla yang ada di atas meja.


Dengan gemas suster Lia meremasss tangan nya, matnya melotot tajam paa punggung Danu.


"Danu sialannn, aku seperti ini karena mu. Kau yang membuat aku terkejut, semua rencana ku jadi berantakan!" suster Lia menggaruk kepala nya dengan frustasi, teh yang sudah di campur dengan obat perangsang, kini terbuang pecuma.


Danu mengerutkan kening nya, menatap pintu kamar yang kini rapat. Perasaan aku tidak menutup nya dengan rapat.


Bugh.


"Sialll, di kunci dari dalam!" umpat Danu saat kaki kanan nya mendorong pintu, namun tidak membuat pintu itu terbuka sedikit pun.


Ceklek ceklek ceklek.


Danu mencoba membuka pintu dengan punggung tangan nya, hasil nya pun sama.


"La! Kenapa pintu nya di kunci!" seru Danu.


"Tunggu sebentar!" seruan Layla dari dalam kamar.


Ceklek.


"Buka pintu aja, lama banget!" Danu menerobos masuk, setelah Layla membukakan pintu kamar untuk nya.


"Jadi cowok kok gak sabaran banget!" umpat Layla dengan bibir mengerucut.


"Ayo kita sarapan!" Danu meletakkan sarapan nya di atas meja yang tidak berada jauh dari pintu.


"Apa nenek udah sarapan?" tanya Layla yang membuat Danu menatap ke arah Layla.


"Pasti sudah, La! Ini kan sudah hampir siang, kita hampir melewat kan sarapan kita. Sudah, habiskan saja sarapan mu!" cicit Danu.


Danu mencuri pandangan nya, menatap Layla dengan pandangan yang sulit di artikan. Dengan jarak ke dua nya, Danu dapat mencium wangi harum dari rambut Layla yang masih tampak basah.


Danu memejamkan mata nya, sabar Danu, jangan sentuh, jangan sampe junior lo bertindak gegabah! Inget, lo itu harus bersabar, tunggu 2 tahun lagi, baru lo bisa mendapatkan Layla.


"Enak juga, lo bawa sarapan buat kita... minum nya mana?" tanya Layla dengan menoleh ke kiri dan kanan, seakan mencari cari sesuatu yang tidak nampak di depan wajah nya.


Bersambung...

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅


__ADS_2