Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Apa hubungan nya


__ADS_3

...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Layla terus menatap kepergian mobil yang membawa Danu dan Arsandi. Mobil yang kini hilang dari pandangan Layla, seiring di tutup nya gerbang rumah yang menjulang tinggi.


Dring dring dring.


Layla merogoh saku celana nya, saat hape nya berdering.


"Paling juga ka Danu yang telpon, baru juga beberapa menit gak ketemu. Dasar ka Danu bucin!" umpat Layla, yang mengira jika yang menghubungi nya adalah Danu.


Layla mengerut kan kening nya, dengan penuh tanya dan penasaran. "Eh, nomor gak di kenal... nomor siapa ya?" tanya Layla pada diri nya sendiri.


^^^"La, apa Arsandi masih di tempat lo?"^^^


'Ini kan suara Mery, dia pake nomor siapa buat telpon gue? Gak mungkin nomor cowok itu kan?' pikir Layla dalam hati, setelah mengenali suara yang tengah bicara dengan nya lewat sambungan telepon.


^^^"La, Lo masih di sana kan? Lo denger gue kan La? Arsandi ada gak di rumah lo?" tanya Mery lagi dengan nada kesal, saat Layla gak merespon pertanyaan nya.^^^


"Ah Mery, itu bang Arsandi sama ka Danu ... baru aja jalan, kenapa Mer? Lo pake nomor siapa Mer? Jangan bilang lo semalam gak pulang ke rumah!" tebak dan tuduh Layla.


^^^"Sialannn lo, mulut kalo ngomong di jaga dong! Gue dari semalam di rumah. Ini nomor bibi, tapi ngapain juga gue jelasin ke lu! Rese lo!" sungut Mery dengan kesal lalu memutuskan sambungan telepon nya.^^^


Layla kembali menatap layar hape nya dengan tertegun, "Mery lagi ke napa sih? Tadi telpon, sekarang di matiin. Dasar aneh... lagi berantem lagi kali ya sama bang Arsan?"


.


.


Ke dua nya telah tiba di kota C, Danu dan Arsandi langsung menuju hotel tempat mereka tinggal selama di kota C.


"Apa kau sudah mengabari kaka ipar Layla, kaka ipar Danu?" tanya Arsandi yang duduk di depan samping kemudi.


"Nanti aja kalo udah di hotel. Kau jangan lupa persiapkan berkas yang harus kita bawa untuk pertemuan dengan pihak kontruksi." ucap Danu dengan kaki kanan menyilang, dan bertumpu pada kaki kiri, duduk di kursi penumpang bagian belakang.


"Sudah saya persiapkan semua nya." ucap Arsandi.


"Bagaimana dengan penginapan? Selama kita tinggal di kota ini?" tanya Danu.


"Semua nya sudah saya urus, dari mulai penginapan, dan juga transportasi selama kita di sini." jekas Arsandi lagi.


"Kau memang bisa di andalkan." puji Danu dengan senyum mengembang.


"Jika saya tidak bisa di andalkan, kaka ipar Danu akan mengandalkan siapa lagi kalo bukan saya?" goda Arsandi.


"Dasar besar kepala, baru juga di puji sedikit. Kau biasa aja, cara kerja mu biasa aja! Gak ada hebat nya!" sungut Danu, memalingkan wajah menatap luar jendela.


Ting ting ting ting.


Beberapa notifikasi pesan masuk pada aplikasi hijau Danu terus berbunyi.


..."Ka Danu, udah sampai mana?"...


..."Ka Danu, apa kalian udah sampai?"...


..."Tadi, gak lama kalian meninggalkan rumah. Mery menghubungi ku, pake nomor bibi."...


..."Aku merindukan mu, ka Danu 😘😘"...


"Kau tau Arsandi, hadir nya seseorang dalam hidup ku. Memberikan warna yang berarti dalam hidup ku yang datar." ujar Danu, dengan sesekali melirik Arsandi lewat kaca spion.

__ADS_1


"Beruntung nya, jika cinta yang kita miliki terbalaskan oleh orang yang kita cintai." ujar Arsandi, mewakili perasaan nya dengan apa yang ia katakan.


"Sabar lah, mungkin ini ujian cinta kalian. Mery pasti akan kembali pada mu, jika kalian berjodoh." terang Danu, mencoba menghibur Arsandi.


"Semoga saja." ucap Arsandi.


3 hari berlalu, Danu dan Arsandi di sibukkan dengan pekerjaan. Meski begitu, Danu masih sempat meluangkan waktu nya untuk menghubungi Layla sesekali waktu.


Berbeda dengan Arsandi, yang memilih memutuskan komunikasi dengan Mery. Hingga Mery kesulitan untuk sekedar menghungi nya. Meski begitu, Arsandi masih melakukan pengawasan pada Mery di bawah pengawasan Doni.


.


.


Hari ke 4, setelah keberangkatan Danu dan Arsandi ke kota C.


Di kantin kampus.


Layla, Nina, Mery dan Angel, mengisi perut mereka yang telah keroncongan dengan makanan yang ada di kantin kampus. Di selingi canda tawa dan obrolan.


"Akhir nya kita bisa kumpul juga ya! Lo si, sibuk mulu kalo di ajak kumpul." seru Nina, menatap jengkel Mery yang jarang nongkrong di kantin bersama nya dan Layla.


"Kita bukan lagi jaman nya anak SMA, yang harus ngumpul. Lo lupa, gue ini sekarang siapa? Sorry nih, gue harus cabut!" Mery beranjak dari duduk nya, setelah menghabiskan makanan dan minuman yang ia pesan.


"Loh Mer, mau ke mana? Cepat banget udah mau balik lagi aja! Gue baru juga dateng Mer!" seru Deri, yang kini berdiri di belakang Nina.


"Gue ada janji, buat apa juga gue nungguin lo dateng!" ucap Mery dengan ketus.


"Mery! Jaga bicara kamu!" seru Layla, dengan gelengan kepala.


Deri mendudukkan diri nya di sisi Nina, menanggapi ucapan Mery dengan sindiran.


"Udah La, nama nya juga anak orang kaya baru. Jadi ya begitu... beda sama orang yang udah kaya dari masih orok nya! Lebih terjaga sikap nya." ucap Deri dengan senyum sinis di bibir nya.


Layla beranjak dari duduk nya, menahannn kesal melihat sikap Mery yang berubah 180 derajat.


"Cukup Mery! Ini kampus, kita di sini buat belajar, nuntut ilmu. Lo salah kalo nilai Deri buruk, justru Deri yang bisa di andelin sama ka Danu. Sedangkan lo, apa yang bisa ka Danu harapin dari lo, Mer?" tanya Layla dengan mata melotot.


Mery mengedarkan pandangan nya, mendapati tatapan dari para mahasiswi yang ada di kantin tengah menatap nya sinis.


'Sialannn Layla udah buat gue malu di depan anak anak!' umpat Mery dalam hati dengan tangan mengepalll.


Mery mendorong Layla dengan tangan kanan nya, sambil berseru, "Apa maksud lo ngomong gitu, La?"


Sreeek.


"Akkhhh!" pekik Layla yang kaget mendapati Mery yang mendorong nya.


Dugh.


Layla jatuh terduduk di kursi yang tadi ia duduki sebelum nya.


"Mery! Lo keterlaluan!" seru Nina beranjak dari duduk nya untuk menghampiri Layla.


Nina gak nyangka Mery berlaku kasar pada Layla. Terlebih Layla adalah kaka ipar nya, meski gak ada hubungan darah secara langsung, antara Mery dan Danu.


"Asal lo tau, hidup gue berantakan dari kecil, ini semua juga ada hubungan nya sama Danu! Dia bukan pahlawan buat gue! Tapi ancaman buat gue! Dia yang udah rebut papa dari gue! Jadi lo gak usah sok tau!" sungut Layla dengan tatapan penuh kesal, berlalu meninggalkan yang lain nya.


Nina mengelusss bahu Layla, "Mery cuma lagi emosi, nanti juga baik lagi!" seru Nina.

__ADS_1


Layla hanya mengagguk kan kepala nya meski ragu. 'Apa lagi sekarang yang buat Mery berubah? Kenapa Mery jadi benci gini sama ka Danu?' tanya Layla meski dalam hati.


"Apa hubungan nya, Mery dan pak Danu? Kenapa Mery malah nyalahin pak Danu, La?" tanya Deri, yang belum tau apa hubungan Mery dan Danu.


"Sssttttt, nanti aku jelasin ke kamu yank! Mending pesenin minum lagi buat kita, buat Layla juga!" titah Nina pada Deri.


"Ayo Der pesen, gue juga mau pesen sekalian." Angel beranjak dari duduk nya, dengan senyum merekah menatap Deri, tanpa di ketahui Nina.


"Lo bukan nya udah makan Angel?" tanya Nina dengan menyelidik.


"Masih laper lah." seru Angel singkat sambil mengelusss perut nya yang datar.


Grap.


"Ayo tunggu apa lagi!" Angel menarikkk pergelangan tangan Deri, membuat pria itu menepisss tangan nya dengan kasar.


"Jaga sikap lo! Gue cuma punya Nina! Dan gue bakal serius sana perkataan gue!" ucap Deri dengan sungguh sungguh, berjalan dengan pasti menuju penjual yang ada di kantin.


'Sialannn, belom apa apa gue udah di tolak. Gue harus dapetin nih si Deri!' batin Angel dengan tangan mengepalll, menatap kesal punggung Deri.


"Tunggu apa lagi, kata nya masih laper!" sindir Nina dengan memalingkan pandangan nya dari Angel.


Dengan kaki menghentakkk kesal, Angel berlalu menyusul Deri.


Pluk pluk pluk.


"Hati hati lo sama Angel!" seru Layla, dengan tangan menepukkk nepukkk tangan Nina yang sudah kembali duduk di dekat nya.


"Kalo itu, gue percaya sama Deri. Tapi kalo Deri sampe ke cantolll sama Angel, yah anggap aja Deri belum jadi yang terbaik buat gue!" ujar Nina dengan senyum di bibir nya.


"Sok bijak lo, tapi ujung ujung nya tar nangis lo. Kalo Deri beneran ke cantolll ono perempuan!" sindir Layla dengan terkekeh.


"Ah lo La, udah tau aja gue kaya gimana ahahaha." Nina tergelak, melihat Layla yang sudah gak terpengaruh dengan perkataan Mery, dan udah bisa menyindir nya.


"Kenapa? Kok muka nya cemberuttt gitu?" tanya Roy, setelah duduk di kursi samping kemudi.


"Kesel aja aku sama Layla dan Nina! Ke dua nya selalu ikut campur dengan urusan ku!" seru Mery, yang duduk di belakang kemudi.


Grap.


Ke dua nya saling berpelukan.


"Sabar, kan ada aku. Aku yang akan selalu menghibur kamu. Kita jalan yuk! Ke rumah ku, mau gak? Kebetulan aku baru beli sesuatu untuk mu, tapi aku lupa membawa nya serta." ucap Roy dengan tangan mengusappp punggung Mery lalu berseringai.


"Gak deh, kita ke pantai aja." tolak Mery.


Roy melepaskannn pelukan nya, "Boleh, tapi mampir ke rumah ku dulu. Aku harus memberi kan barang itu pada mu. Itu pasti cocok untuk mu." ucap Roy dengan bujuk rayu nya, mengelusss pipi Mery dengan tangan nya.


Mery menghembuskan nafas kasar, memejamkan mata, merasakan sentuhannn tangan Roy di pipi nya.


'Kenapa aku malah melihat nya!' umpat Mery yang membuka ke dua mata nya, saat wajah Arsandi muncul dalam benak nya.


Cup.


"Gitu dong, itu baru sayang ku!" Roy mengecup pipi Mery.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Bersambung...

__ADS_1


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak πŸ€ΈπŸΌβ€β™€οΈπŸ€ΈπŸΌβ€β™€οΈ


__ADS_2