Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Mery bersikap aneh


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Kalo bapak gak beri saya pekerjaan sekarang, buat apa bapak belain saya dari orang orang bermuka dua seperti mereka!" ucap Angel dengan kesal, menatap nyalang Arsandi.


Arsandi yang sudah beberapa langkah dari Angel, menghentikan langkah nya, lalu berbalik badan menatap datar Angel, dengan satu tangan yang ia masuk kan ke dalam saku celana nya.


"Apa di rumah mu gak ada cermin? Apa beda nya diri mu dengan mereka? Sama kan! Manusia bermuka dua!" ucap Arsandi yang menohok Angel, lalu pergi dan gak perduli lagi dengan teriakan, umpatan Angel pada nya.


"Sialannn, woy! Dasar orang kaya baru! Orang baru punya jabatan! Ke luar kalian, seenak nya aja mecat orang. Mentang mentang lo jadi bos nya! Gue sumpain lo, bangkrut! Woy! Gue masih pengen kerja! Balikin pekerjaan gue!" Angel terus berteriak dan mengumpat bak orang yang hilang akal.


"Selamat pagi pak!" seru security Boni, menyapa Arsandi yang hendak memasuki lobby utama.


Danu berdiri tegak di depan pak security, berkata dengan datar, "Kalian berdua, apa Danu membayar kalian hanya untuk melihat wanita gila itu membuat kegaduhan?" tanya Arsandi yang lantas melangkah masuk.


Arsandi menunggu Danu di depan lift, setelah melihat jam arloji mewah yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya.


"Sebentar lagi, Danu pasti tiba di kantor!" seru Arsandi, merapihkan kembali kemeja dan jas yang ia kenakan.


.


.


Danu turun dari mobil.


"Memang bisa di andalkan! Apa sih yang gak bakal beres kalo ada Arsandi! Semua yang sulit dan pelik, pasti bisa ia atasi." puji Danu, dengan senyum terukir di bibir nya.


Danu melenggang masuk ke dalam gedung tanpa ada nya hambatan.


"Selamat pagi Tuan!" sapa security dengan membungkuk hormat pada Danu.


"Hem!"


"Pak Danu, kian hari, kian bersinar aja di lihat nya!" bisik Reina di telinga Nami, dengan tatapan berbinar saat melihat Danu yang melamgkah memasuki lobby, melewati meja resepsionis.


"Iya, siapa dulu dong istri nya. Pasti pandai menyenangkan hati suami nya." ujar Nami, mengikuti pergerakan Danu dengan tatapan mendamba.


'Kapan gue bisa di pertemuin sama jodoh gue, gak muluk muluk Tuhan, cukup seperti pak Danu. Baik, setia, sayang istri, kaya harta dan kaya hati hehehe!' Nami terkekeh dalam hati dengan do'a nya sendiri, dengan ke dua tangan mengadah di depan wajah.


"Do'a apa lo?" tanya Reina, menyenggol lengan Nami dengan siku nya.


"Hehehe rahasia!"


"Eh tunggu dulu, apa hubungan nya wajah pak Danu yang bersinar, dengan istri yang pandai menyenangkan hati suami?" tanya Reina, menatap Nami penuh dengan tanda tanya, menggaruk kepala nya yang gak gatal.


"Jelas ada lah. Kalo suami senang di rumah, pasti bakal berdampak sama di mana pun suami berada, bakal happy. Coba kalo suami di rumah di buat jengkel, marah, kesel sama istri. Pasti kalo udah nyampe tempat kerja, suami jadi marah marah, muka nya murung, aura nya gelap, gak ada cerah cerah nya sama sekali. Suami jadi sosok yang jengkelin." terang Nami.


"Terus menurut lo, kalo suami dengan wajah kumelll, lecekkk, kusuttt, itu lu artiin suami gak bahagia gitu kalo di rumah?" seru Reina ingin tau.


Nami mengangguk dengan cepat, "Betul sekali itu!" seru Nami dengan yakin.

__ADS_1


Tak.


"Awhhhh sakit bege lo!" sungut Nami, saat kepalan tangan Reina mendarat di puncak kepala nya.


"Ya lagi lo! Gue rasa, yang menarikkk kesimpulan kaya gitu, cuma lu doang! Secara gak mungkin gitu juga kali, lu lagi Nami jadi orang... mudah banget ngambil kesimpulan! Kesimpulan yang lo ambil itu, belum tentu benar!" Reina gak setuju dengan jawaban Nami.


"Serah lu deh, mau percaya apa gak, gue gak maksa!" Nami melenggang, berjalan ke luar dari meja resepsionis.


"Mau ke mana lo?" seru Reina menatap aneh Nami.


"Mau ke toilet, buang hajattt... kenapa? Mau ikut lo?" oceh Nami, dengan tangan melambai tanpa menoleh ke belakang.


"Dasar bocah aneh, untung gue yang jadi rekan kerja lu, coba kalo sampe Nona Angel yang jadi rekan kerja lu! Udah sesat lu, di jadiin cewek gak bener!" Reina menggeleng kan kepala, mengingat bagaimana cara Angel mendekati Danu yang ia lihat dari CCTV.


"Kenapa dengan pipi mu? Apa wanita penipu itu menampar mu? Memberi mu salam perpisahan?" tanya Danu, melirik sekilas pipi Arsandi yang tercetak telapak tangan yang ia pikir itu milik Angel.


"Terserah apa kata mu aja lah Tuan!" ucap Arsandi acuh, gak mau peduli dengan perkataan Danu.


Arsandi menyentuhhh pipi nya yang di tampar Mery, 'Pada hal ini hasil karya Mery, wanita yang sudah jelas adik angkat mu, wanita yang kau bilang wanita penipu.'


"Jangan lupa kompres pipi mu, gak enak jika di lihat kolega, siang ini kita ada meeting di luar. Apa kau sudah siapkan bahan nya? Jangan bilang kau melupakan nya!" tebak Danu, yang berfikir jika Arsandi melupakan meeting siang nanti.


"Sudah aku persiapkan Tuan. Tapi pihak sana meminta perubahan tempat untuk meeting. Dua jam sebelum meeting, mereka akan memberikan lokasi baru untuk meeting." jelas Arsandi.


"Selamat bekerja Tuan!" ucap Arsandi saat Danu melangkah masuk ke dalam ruang kebesaran nya.


.


.


Di kampus, tepat nya di sebuah cafe yang ada di sekitaran kampus.


"Gue gak nyangka, ternyata lu anak kandung dari pak Baskoro, hebat lu Mer!" ucap Nina dengan tatapan yang gak percaya.


"Lu aja gak percaya, apa lagi gue." ucap Mery, menikmati makanan yang ia pesan.


"Kalo lu La, apa pak Arsandi emang gak ngomong apa apa sama kalian, perihal papa Baskoro?" tanya Mery, menatap penuh selidik Layla yang duduk di sisi kanan nya.


Layla menggelengkkan kepala nya, "Bang Arsan gak ngomong apa apa, cerita juga gak."


"Masa sih? Bukan nya pak Arsandi itu dekat sama lu ya La? Gak mungkin kalo pak Arsandi gak cerita sedikit pun ke lo!" tanya Mery dengan tatapan gak percaya, dengan apa yang di katakan Layla.


Layla mengangkat tangan kanan nya, mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya ke atas, "Sumpah, bang Arsan cuma bahas kerjaan sama ka Danu kalo ke rumah, itu pun di ruang kerja nya."


"Ngomong ngomong, lu jadi anak gedongan dong sekarang Mer? Secara lu kan anak nya pak Baskoro, adik nya pak Danu, secara sekarang bearti kalian itu ipar!" Nina menatap Mery dan Layla secara bergantian.


"Ia lah ipar, mang apaan lagi? Semoga hubungan kita makin erat ya, Mer! Kamu sama bang Arsandi jadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, cepet di kasih momongan!" ucap Layla dengan tulus.


"Uhuk uhuk uhuk!" Mery terbatuk batuk, tersendak minuman yang tengah ia seruput.

__ADS_1


Layla menepukkk nepukkk punggung Mery, "Pelan pelan minum nya Mer!"


Sreeek.


Di luar dugaan Nina dan Layla, Mery merespon dengan suara meninggi, di sertai dengan urat urat yang tampak terlihat mengencanggg di pipi nya.


"Gue tersendak juga karena lo La! Bisa gak sih, kalo di kampus gak usah bahas sakinah, mawadah, warohmah! Anak... apaan tuh anak. Lupain tuh hal yang berhubungan dengan rumah, kita lagi di lingkungan kampus, cukup bahas pelajaran aja, hal yang udah semesti nya di bahas!" ucap Mery dengan ngegas, meluapkan kekesalan nya.


Brak.


Mery menggebrak meja, lantas pergi meninggalkan ke dua nya dengan membawa tas milik nya.


"Mer, tunggu. Mau ke mana?" seru Layla dengan beranjak, tangan nya terulur ke depan mengajak Mery untuk kembali ke kursi nya.


"Gue udah gak berselera!" sungut Mery, mengabaikan Nina dan Layla.


"Astagaaa La, itu Mery? Salah makan atau gimana sih itu anak?" Nina menelan saliva nya dengan sulit, menatap punggung Mery yang semakin menjauh.


Dugh.


Layla mengerdikkan bahu nya, lalu menghempaskan tubuh nya kembali di kursi yang tadi ia duduki.


"Itu Mery, cuma gak tau. Kenapa hari ini Mery bersikap aneh gitu ya? Apa Mery lagi datang bulan ya?" pikir Layla, menggaruk kepala nya yang gak gatal.


"Mungkin juga sih, udah lah. Tar juga baik lagi itu anak, kaya gak tau dia aja lo La!" Nina mengelusss lengan Layla, menatap iba pada Layla atas sikap Mery barusan.


Layla membuang nafas nya dengan kasar, 'Kira kira Mery kenapa ya?'


Tanpa Layla dan Nina sadari, sepasang mata tengah menatap ke arah nya dengan bibir berseringai.


'Jadi Mery itu anak dari Baskoro, adik dari Danu, wah wah wah. Berita besar nih, tapi gue bakal jadi orang yang paling beruntung kalo bisa deketin Mery. Secara harta kekayaan pak Baskoro pasti jatuh juga ke tangan anak perempuan nya itu!' seru nya dalam hati, dengan tangan mengepalll di atas meja.


Mery kembali ke kampus, duduk di taman seorang diri. Menikmati semilir angin yang menyapa wajah dan rambut nya.


'Benar apa kata Nina, gue ini udah kaya, masa iya gue masih tinggal di rumah bibi. Apa lagi sekarang gue udah nikah sama pak Arsandi. Pak Arsandi masih marah gak ya? Papa bakal izinin gue tinggal di rumah nya gak ya?' tanya Mery, dengan pikiran yang menari nari dalam kepala nya.


Mery yang merasa terpanggil dengan panggilan alam, bergegas dengan terburu buru menuju toilet, hingga gak memperhatikan langkah nya.


Brugh.


"Akkkhhhhhh!"


...🥀🥀🥀...


Bersambung...


...Kehaluan semata...


⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️🤸🏼‍♀️

__ADS_1


__ADS_2