Gadis Malang Milik CEO

Gadis Malang Milik CEO
Layla gak salah bu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Tunggu apa lagi! Cepet sono liet anak gua!" bentak Yanto.


Pria berwajah sangar, berperawakan tinggi kurus, dengan lengan penuh tato. Tidak bisa lagi berkompromi jika menyangkut putri kecilnya.


"Huaaaaa gak mau, huaaaa Dea gak mau sama kaka, kaka nakal, kaka jahat!" ucap Dea di sela sela tangisannya.


Tati menatap tajam Dea yang tersungkur di lantai, ke dua kakinya terus bergerak naik turun, sementara ke dua tangan mungilnya meronta ronta, berusaha menyingkirkan tangan Layla yang ingin membantunya beranjak.


Sreek.


Bugh.


"Akkkhhh!" pekik Layla.


Tati menarikkk bahu Layla dengan kasar, hingga Layla jatuh terjungkal di lantai.


Suara Tati yang mengomel di dalam rumah, memancing rasa penasaran Yanto.


"Apa lagi yang kamu lakukan kali ini, Layla! Astagaaa, ibu gak habis pikir sama kamu!" Tati menggaruk kepalanya dengan frustasi.


Ke dua tangan Tati terulur di sela ketiak Dea, lalu menggendong Dea yang masih menangis dengan sesenggukan. Mencoba menenangkan putri kecilnya.


Layla beranjak dari posisinya, merasakan sakit pada bokongggnya yang mencium lantai.


"Layla gak apa apain Dea, bu... Dea jatuh sendiri kesandung kaki kursi." terang Layla dengan jujur.


"Bohong kamu! Dasar anak gak tau diri! Masih aja membela diri. Kamu pasti mendorong Dea kan sampai dia terjatuh!" tuduh Yanto dengan sarkasnya, memperhatikan ke dua lutut Dea yang memerah.


Layla menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak pak, Layla gak dorong Dea. Dari tadi Layla ngerjain pr, Dea beneran kesandung. Bapak sama ibu bisa tanya sama Dea, kalo kalian gak percaya sama Layla."


Yanto mengusap usap lutut Dea, lalu meniupnya. "Kasian anak bapak, apa benar kamu jatuh sendiri, Dea?" tanya Yanto dengan tatapan menyelidik, ia merebut Dea dari gendongan Tati.


Dea menatap sekilas wajah Layla, sebelum akhirnya membuka mulutnya, mengatakan apa yang ingin ia katakan. Tanpa berfikir panjang, apa yang akan di terima Layla nantinya.


"Katakan sayang, apa yang sudah kaka kamu lakukan sama kamu? Apa kaka Layla nakal sama Dea? Ayo ngomong sama ibu sama bapak!" desak Tati, menuntut putri kecilnya untuk bicara, tangannya terulur menyapu bulir bening yang membasahi pipi chubbynya.


"Kaka Layla nakal bu, kaka Layla gak mau main sama Dea, kaka Layla ----"


Belum selesai Dea bicara, Tati yang mendengarnya langsung tersulut emosi.


"Layla! Ibu gak ngajarin kamu buat kasar sama adek kamu!" omel Tati dengan mata melotot.

__ADS_1


"Jangan cuma di omelin, kasih pelajaran buat anak kamu, biar dia ngerti arti sayang sama sodara, Tat! Apa perlu... gua yang kasih pelajaran buat anak kesayangan lu, Tat!" Yanto membentak Tati, namun tatapan tajam ia berikan pada Layla.


Layla merasakan panas di ke dua matanya, menahan sesuatu yang akan menerobos, dan kini menggenang dengan deras di pelupuk matanya.


Detak jantung Layla berpacu lebih cepat, merasakan sesak di dada atas ucapan yang terlontar pahit dari bibir pria yang berstatuskan ayah tirinya.


"Layla gak salah, pak, bu! Layla gak apa apain Dea!" ucap Layla dengan tatapan mengiba.


Dea yang mendengar suara bentakan Yanto, kembali menangis. Namun di salah artikan oleh Yanto dan Tati. Mereka mengira jika Dea menangis karena sakit, karena telah di sakit oleh Layla.


Tati menelan salivanya, melihat wajah Layla dan Dea secara bergantian.


Di satu sisi Layla adalah anak kandung gua dari pernikahan sebelumnya dengan Noval, dan satu sisi adalah anak gua Dea... dari pernikahan gua yang sekarang dengan Yanto.


"Tunggu apa lagi, Tati!" bentak Yanto dengan mengelusss kepala Dea dengan kasih sayang, mencoba menenangkan putri kecilnya. Yanto membawa Dea masuk ke dalam kamar.


Bukannya berhenti menangis, suara Dea semakin kencang, ia mencengrammm baju yang di kenakan Yanto dengan kencang.


"Huaaaa, huaaaa, huaaa."


Prak, bugh, prak.


Tangan Tati melayang di lengan, bahu, dan punggung Layla dengan keras.


"Anak nakal, kalo di kasih tahu orang tua gak pernah nurut, dasar anak pembangkang kamu! Mau jadi apa kamu Layla!" jerit Tati dengan tangannya yang terus memukulll Layla.


"Aakkkkhhh ampun buuu... ampun, Layla gak salah buuu, akkhh sakit bu, hiks." jerit tangis Layla pecah, air mata terus mengalir deras di ke dua pelupuk mata sayu Layla, saat tubuhnya kini merasakan perih dan panasnya pukulan yang di berikan Tati padanya.


Jerit dan tangis Layla, seakan membutakan ke dua mata Tati dan Yanto. Kasih sayang yang mereka miliki untuk Dea, seakan menutup telinga ke duanya.


Ke dua orang tua, yang seharusnya memberikan perlindungan untuk sang anak. Justru memberikan luka yang akan membekas di hati Layla seumur hidupnya.


Sreeek.


Tati menyeret tangan Layla, dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Sakit bu... ampun bu!" rengek Layla.


Gubrak.


Tati menutup pintu kamar mandi dengan kasar, dan menguncinya dari luar.


Maafin ibu, Layla. Anggap aja ini pelajaran buat kamu biar lebih sayang lagi ke depannya sama adik kamu, Dea.

__ADS_1


Tati meninggalkan Layla begitu saja di dalam kamar mandi, setelah mengunci pintu kamar mandi dari luar.


Bugh bugh bugh.


Layla menggedor gedor pintu kamar mandi, dengan berseru. Berharap sang ibu mau membukakan pintu untuknya.


"Buka buuu, Layla bener gak apa apain Dea... Dea jatuh sendiri bu kena kaki kursi!" ucap Layla dengan lirih, menjelaskan apa yang terjadi, namun tetap saja tidak akan ada yang perduli dengannya.


Tubuh Layla beringsut ke bawah, hingga ia terduduk di atas lantai kamar mandi yang dingin. Tangannya memukul mukul pintu.


Bugh bugh bugh.


"Buka pintunya bu, bapak, Layla beneran gak salah!" ucap Layla dengan tangis yang masih terdengar. Layla menyandarkan kepalanya pada pintu. Rasa dingin kini menyeruak di kulitnya. Membuatnya memeluk erat tubuhnya sendiri.


Kenangan manis saat masih bersama dengan keluarga yang utuh, melintas di kepalanya. Membuat senyum terukir di bibir Layla dengan tulus.


Aku rindu ayah yang dulu, aku rindu ibu yang dulu. Kalian dulu begitu menyayangi ku. Memperdulikan ku, tapi sekarang... setelah kalian memiliki Dea dan Lulu. Kasih sayang kalian untuk ku seakan lenyap dan terbatas.


Di saat Dea maupun Lulu menangis, yang bukan karena kesalahan ku. Kalian tidak segan memukul ku, apa aku ini bukan anak kandung kalian? Siapa aku di mata kalian? Apa aku bukan akan yang di inginkan untuk lahir ke dunia? Hingga dengan mudahnya kalian memukul ku, menyalahkan ku, memaki ku, aku ingin bahagia bersama dengan kalian. Aku ingin di sayang juga bu, pak, ayah, mama.


Kasih sayang yang dulu pernah kalian berikan pada ku, hingga kasih sayang itu semakin lama semakin hilang dan hampir tidak aku rasakan lagi setelah kelahiran Lulu dan Dea di dunia ini. Kehadiran ke duanya membuat jarak antara aku, ibu dan ayah semakin terlihat jelas.


Di ruang depan, Yanto terus mengomel, dengan tatapan jengkel pada Tati. Melihat wanita yang kini menjadi istrinya tengah mengolesi salep pereda lebam pada ke dua lutut Dea.


"Gak usah perdulikan dia! Lihat nih, gara gara anak lu! Anak gua jadi nangis! Mana lututnya merah! Kurang ajarrr itu anak, didik tuh yang bener Tati!" omel Yanto.


"Gua kurang keras apa lagi sama Layla, Yan! Gua udah marahin itu anak, gua pukul itu pake tangan gua, sekarang gua konciin itu di kamar mandi. Kurang keras apa lagi gua didik Layla?" tanya Tati dengan tatapan nanar.


Yanto beranjak dari duduknya, menunjuk nunjuk Tati dengan jari telunjuknya. "Kurang keras lah! Kalo keras, itu anak gak bakal tega sama adenya! Mentang mentang bapak kandungnya kaya, punya duit. Bisa seenaknya aja gitu sama anak gua... gua nyadar kalo gua bukan bapak yang bisa di andelin ama anak lu! Tapi seenggaknya, anak lu nyadar kalo gua ini bapaknya sekarang! Dea adenya!"


Yanto lantas menyambar jaket yang aa di balik pintu kamar, konci motor yang ada di atas meja.


"Mau ke mana lagi lu Yanto?" tanya Tati dengan tatapan penuh curiga.


"Tongrongan, pengap gua di rumah. Lu urus tuh anak lu!" sungut Yanto dengan menatap kasihan pada Dea yang pulas di pangkuan Tati.


"Jangan pulang malam malam lu, jangan gunain barang haram itu lagi lu!" pesan Tati meski Yanto tidak akan mendengarkan ucapannya.


Bersambung...


...🥀🥀🥀...


Menuangkan segala kehaluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2