
...π₯π₯π₯...
"Enak juga, lo bawa sarapan buat kita... minum nya mana?" tanya Layla dengan menoleh ke kiri dan kanan, seakan mencari cari sesuatu yang tidak nampak di depan mata nya.
Namun sayang nya tidak di hiraukan oleh Danu, ia terlalu larut dalam buayan memuja Layla dalam pandangan nya.
Layla gak putih putih amat, tapi setiap apa aja yang dia pake, enak aja gitu di lietin nya, gak ngebosenin! Kenapa ya? Apa cuma pandangan gue aja! Layla nyadar gak sih kalo dia ini sebenar nya cantik! Meski udah tau gue ini calon suami nya, tapi dia gak minta yang aneh aneh sama gue. Bisa aja kan dia minta barang barang mahal.
Layla mengerutkan kening nya, menunggu jawaban yang tidak kunjung di berikan Danu, ia menjentikkan jemari nya berkali kali di depan wajah Danu.
Clek clek clek.
"Halooo! Danu, lo denger gak sih, gue lagi ngomong sama lu!" seru Layla dengan kesal.
"Ah i- iya lo tadi ngomong apa La?" tanya Danu dengan tergagap, tersadar dalam lamunan nya.
"Ihs sempet sempet nya ngelamun lagi lo! Ngelamunin apa si lo? Efek telat sarapan lo tuh, jadi ambyar pikiran lo!" gerutu Layla dengan beranjak dari duduk nya.
"Bukan telat sarapan, La... tapi karena lo! Lo yang udah buat pikiran gue ancur lebur. Lo mau ke mana, La? Sarapan lo belum habis... abisin dulu!" titah Danu, mengikuti arah langkah kaki Layla.
"Leher gue seret, gue butuh air, gue mau ambil minum dulu di dapur!" tangan kanan Layla menyambar hendle pintu, dan membuka nya.
"Gue aja yang ambilin, lo tunggu di kamar!" cegah Danu, dengan beranjak dari duduk nya.
"Gak perlu, gue bisa sendiri!"
Layla menghilang di balik pintu, tidak menghiraukan permintaan Danu. Sementara Danu di buat kacau, menggaruk kepala nya dengan frustasi.
"Dasar bego, kenapa gue pake ngaku... Layla udah berhasil buat pikiran gue ancur lebur! Itu anak denger gak sih, tadi gue ngomong gitu!" dumel Danu, merutuki kebodohan nya.
Bruk.
Layla buru buru menutup pintu kamar setelah berhasil ke luar, ia menyandarkan punggung nya di balik pintu. Jantung nya seakan ingin lompat, berlari ke luar, entah kenapa ia merasakan ada banyak bunga bermekaran di hati nya, ada banyak kilau bintang bintang di kepala nya.
__ADS_1
"Gue gak lagi mimpi kan? Telinga gue juga gak salah denger kan? Tadi Danu bilang." gumam Layla dengan pipi merona karena malu, kata kata yang ke luar dari bibir Danu, berhasil memporak porankan hati nya.
...πΉBukan telat sarapan, La... tapi karena lo! Lo yang udah buat pikiran gue ancur lebur. πΉ...
Layla mengerjapkan ke dua mata nya, dengan kepala mengadah sedikit ke atas, ya Allah... apa benar yang Danu ucapin itu? Apa itu bisa di bilang cinta? Cinta dateng cepat banget, apa gue juga cinta sama Danu?
Ceklek.
Pintu di buka tanpa sepengetahuan Layla yang masih anteng menyandarkan punggung nya. Membuat Layla ikut tertarik ke belakang.
"Ee eehhhh kyaaa!" pekik Layla yang tubuh tumbang ke belakang.
Bruk.
Tangan kekar menahan tubuh Layla yang hampir terjereb di atas lantai, membuat posisi Layla menjadi kayang, dengan Danu yang menahan punggung nya.
"Kamu belum ambil minum? Dari tadi jadi kamu masih di depan pintu? Ngapain bae La?" cecar Danu dengan menatap wajah Layla dengan intens.
Layla membola, menatap dalam wajah Danu, seolah terhipnotis dengan pria yang kini menahan bobot tubuh nya dengan tangan nya.
Danu mengerutkan kening nya. "Kamu dengar aku gak La?"
Layla diam, tanpa merespon pertanyaan Danu, dengan ke dua mata yang terus menatap dalam wajah Danu.
Cup.
Danu mengecup sekilas bibir merah muda Layla.
Layla tersentak kaget. "Danu! Lo be... mmpphhh!"
Batin Layla berteriak, seolah lupa dengan status baru nya dengan Danu, ciuman pertama gue! Buat suami gue!
Belum selesai Layla dengan perkataan nya, Danu lebih dulu menyambar dan membungkam bibir Layla dengan bibir nya. Menyesappp bibir tipis bawah Layla dengan lembut, menelusupkan lidah nya ke dalam rongga mulut Layla. Semakin dalam ciuman yang Danu lakukan semakin menuntut.
__ADS_1
Danu menatap dalam sepasang mata indah Layla yang semakin membola, mana kala Danu semakin memperdalam ciuman nya. Jadi gue, pria pertama yang ngerebut ciuman pertama nya! Udah jelas banget Layla belum pernah ciuman.
Danu melepaskan pagutan nya sebelum Layla kehabisan oksigen, tangan kekar nya membantu Layla berdiri kembali hingga seimbang dalam pijakan nya.
"Kurang ajarrr banget lo Danu! Lo itu udah nyuri ciuman pertama gue! Harus nya itu ciuman buat suami gue nanti nya! Bukan buat lo!" ucap Layla penuh kesal, berlalu meninggalkan Danu dengan menghentakkan kaki nya ke lantai.
Danu mengekori Layla dengan perasaan berbunga, senyum terus tersungging di bibir nya.
Dia bilang ciuman pertama, buat suami nya kelak, lah kapan suami nya Layla kan gue! Jadi gak salah dong, kalo gue curi ciuman itu sekarang! Toh sekarang kan gue udah sah di mata agama sebagai suami Layla. Beruntung nya gue bisa perawaninnn itu bibir! Manis lagi bibir lo, La... gue mau lagi hihihi. Danu terkekeh sendiri, menatap punggung Layla yang kini berdiri di depan lemari pendingin.
Dengan hati yang dongkol, Layla terus ngedumel, kurang asem banget si Danu, pake nyuri ciuman pertama gue, itu ciuman pertama gue spesial buat calon laki gue nanti nya! Ini malah udah di ambil duluan sama dia! Rese kan jadi nya!
Bruk.
Cup.
Layla berbalik badan dan bertubrukan dengan dada Danu yang ternyata berdiri di belakang nya. Apes nya lagi, bibir Layla mengecup dada bidang Danu.
Danu menyeringai, berniat ingin menggoda Layla. "Mau di bibir lagi? Aku gak keberatan La!" ucap Danu dengan lembut.
Semburat merah terbit di ke dua pipi Layla, membuat Layla melolot tajam. "Nyeselin lo!"
Danu kembali mengekori Layla, hendak melangkah menuju kamar mereka di villa sang nenek Dahlia.
Ke dua nya menghilang di balik pintu kamar, melanjut kan sarapan mereka yang lewat dari kata sarapan.
"Nikmati lah kebersamaan kalian yang sesaat ini, tapi setelah nya... akan aku buat kalian berpisah untuk selama nya, karena lo gak pantes buat dampingin Tuan Muda Danu, yang boleh jadi istri nya Danu itu ya cama gue!" seringai licik, terbit di sudut bibir suster Lia.
Sementara di kamar lain, seorang wanita lanjut usia, berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan bibir nya
Aku harus bisa, aku tidak boleh menyerah. Ini kesempatan ku untuk mengatakan jika suster Lia selama ini tidak merawat ku. Dia justru ingin membunuh ku! Menguras harta ku! Menikahi cucu ku, Danu! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!' tekad nenek Dahlia.
Bersambung...
__ADS_1
...π₯π₯π₯...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya π π π