
...🥀🥀🥀...
Tok tok tok.
"Waduh, ka ada yang ngetok pintu! Udah udah!" dengan wajah panik, Layla langsung mendorong bahu Danu.
Bugh.
"Awwhhhhhhh astagaaa!" pekik Danu, memegangi daging kenyal tanpa tulang milik nya yang baru aja mencium dingin nya lantai.
Layla membekappp mulut nya sendiri dengan mata membola, gak nyangka jika Danu sampai terjungkal karena dorongan tangan nya.
"Ma- maaf ka, a- aku gak sengaja hehehe!" ucap Layla pada akhir nya dengan gugup.
Danu mengerut kan kening nya, "Tidak sengaja kata mu? Kalo gak sengaja, pasti gak sekuat itu tenaga mu sayang! Ini sakit sekali." Danu pura pura meringisss kesakitannn.
Layla mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya ke depan Danu.
"Sungguh aku gak sengaja ka, a- aku refleks, beneran!" ucap Layla dengan sungguh sungguh.
"Sudah lah, percuma aku jelaskan sakit. Kamu gak tau gimana rasa nya di dorong kan! Huh... gimana kalo tulang ekor ku sampai patah, aduuuhhh aku gak bisa gerak La! Tolong aku La!" Danu terus ngedumel, tanpa melihat ekspresi wajah Layla.
Layla yang sudah siap beranjak dari tempat tidur, melawan rasa perih di area inti nya, di buat terpaku dengan ucapan Danu.
Deg.
'Siapa bilang aku gak tau gimana rasa sakit nya di dorong? Rasa sakit nya di jambakkk, di injak kaki dan tangan pun, aku tau. Mau meringisss, mengeluhhh sakit pun seakan gak ada lagi arti nya.' bqtin Layla dengan tanpa terasa ke dua mata nya mengembun, menganak sungai yang siap menerjanggg dan terjun bebas dari pelupuk mata Layla.
Tok tok tok.
"Tuan, sarapan sudah siapa. Mau di antar ke atas atau Tuan dan Nona yang akan turun ke meja makan?" tanya tanya pak Dedy.
Danu melirik sekilas ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Layla, saat ia sudah berdiri dengan sempurna.
"Ada apa La?" tanya Danu dengan cemas, menangkup wajah sang istri.
__ADS_1
Danu mencoba mencari jawaban nya lewat tatapan Layla yang menyiratkan kebencian, kesakitan yang teramat dalam.
'Sialll, aku salah bicara!' umpat Danu, menyadari kesalahan nya.
'Andai aja dulu ayah Noval dan ibu Tati gak berpisah. Hidup yang aku lalui gak akan sesakit dan sesulit ini. Gak harus merasakan sakit nya memiliki mama sambung dan bapak sambung.' monolog batin Layla, dengan bulir bening yang meluncurrr tanpa ada lagi suara yang mampu terucap dari bibir Layla.
Grap.
Danu membawa Layla ke dalam pelukan nya. "Ambil hikmah nya sayang, anggap itu ujian untuk mu! Jika tidak ada masa lalu, mungkin kita gak akan bersatu. Ayah Noval gak akan meminta ku dengan segera menikahi mu, benar kan apa yang aku bilang?" seru Danu, dengan tangan nya yang mengelusss puncak kepala Layla, sesekali tangan nya mengelusss punggung Layla.
Layla hanya diam, gak menanggapi apa yang Danu katakan.
"Kita harus bisa berdamai dengan masa lalu La, biar gak ada beban, gak ada dendam yang tersisa di hati kamu. Terlebih pada seseorang yang sudah menyakiti dan melukai hati mu!" seru Danu lagi.
Pagi itu Danu gak berangkat ke kantor, ia memilih menyelesaikan pekerjaan nya dari rumah.
Usai menghabiskan sarapan nya, Danu menggendong Layla dari kursi.
"Aku bisa jalan sendiri!" tolak Layla dengan menelan saliva nya dengan sulit, saat Danu menggendong nya kembali.
Layla membola, langsung menolak untuk menemani Danu.
"A- apa? Temani ka Danu ke kantor gitu maksud nya? Gak, a- aku gak mau! Aku mau di rumah aja, ka Danu kalo mau ketja, kerja aja sendiri!" seru Layla, mengatakan apa yang ada di dalam pikiran nya.
Danu terkekeh mendengar jawaban Layla yang tampak lucu dengan ekspresi wajah nya.
"Phufff apa kau pikir aku akan berangkat ke kantor, hem?" tanya Danu dengan menahannn tawa.
Layla mengagguk dengan cepat, memasang wajah polos nya.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dari rumah. Maka nya, temani aku. Kau duduk manis di ruang kerja ku!" seru Danu, menginjakkan kaki nya di ruang kerja nya.
Beberapa minggu kemudian.
Danu menemani Layla, membeli keperluan kuliah Layla yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
__ADS_1
"Tinggal beli alat tulis nya aja ka." ucap Layla dengan senyum mengembang.
"Kaya nya kamu harus beli laptop La, buat menunjung belajar kamu di kampus." pikir Danu.
"Eh, belum ka. Nanti aja beli laptop nya." tolak Layla.
"Gak apa, kita beli sekarang aja. Mumpung kita masih di mall." Danu menggiringgg Layla menuju toko yang menjual laptop.
Tanpa ke dua nya sadari, 2 pasang mata terus aja mengawasi Danu dan Layla dari jarak yang gak mereka sangka.
"Kenapa sih, mereka lengkettt banget, gak tau apa ini tempat umum!" sungut Reina dengan tangan mengepalll.
"Sabar sayang, ingat... kita harus berhati hati. Jangan sampai rencana yang sudah kita susun dengan rapih, jadi kacau berantakan karena kecerobohan mu!" sindir Leo di balik kaca mata hitam dan topi berwarna hitam.
"Jangan salah kan aku, salah mu sendiri yang terlalu lelet untuk menangi bocah kecil seperti Layla!" sungut Reina gak mau kalah dengan suara meninggi.
Sementara Danu menajamkan indra pendengaran nya, saat ada suara wanita yang sangat familiar di telinga nya menyebut nama Layla.
'Apa aku gak salah dengar, itu suara Reina kan? Apa Reina ada di sini? Merencanakan hal buruk untuk Layla?' batin Danu berusaha tenang.
Danu menoleh ke belakang.
Sreeeeek.
Leo menarikkk lengan Reina, dan bersembunyi dengan menempelkannn punggung nya pada dinding toko yang ia lewati.
Leo menghembus kan nafas nya dengan kasar, "Sssttt aku bilang apa barusan! Karena kecerobohan mu, kita bisa aja gagal dengan kecerobohan mu ini Reina!" sungut Leo dengan penuh penekanannn, wajah kesal gak bisa lagi ia sembunyikan dari sang istri.
"Kenapa ka?" tanya Layla, menatap penuh tanya Danu yang menghentikan langkah kaki nya.
...🥀🥀🥀...
Bersambung...
...Kehaluan semata...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐ kalo mau update banyak 🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️🤸🏼♀️