
...🥀🥀🥀...
"Gue takut nanti infeksi La, harus di obatin lo!" ngotot Nina, "Mana tar pelajaran olahraga, apa lo bolos aja, gak usah ikut olahraga? Gue yang ijinin deh!" ujar Nina lagi.
'Gitu aja manja, dasar jalanggg. Lo bakal tau rasa setelah ini Layla! gara gara lo, Sopur di keluarin dari sekolah.' Irfan menatap Layla dengan tatapan penuh dendam.
Juni yang memang sudah berada di dalam kelas, mengikuti arah tatapan Irfan yang tampak tidak biasa.
'Si irfan lagi ngelietin apaan si? Ampe segitu nya amat!' batin Juni.
'Kenapa Irfan ngelietin Layla gitu banget ya? Kalo di bilang suka kaya nya gak mungkin, apa mereka berdua punya masalah? Masalah apaan ya?' pikir Juni, yang kini tau arah pandangan Irfan yang tertuju pada Layla.
Di kelas hanya menyisakan beberapa siswa, mereka menunggu giliran untuk berganti seragam sekolah dengan kaos olahraga mereka.
"Apa gak sebaik nya lo izin aja, La? Perih banget gak sih, itu dengkul lo kena celana loh!" gerutu Nina, tatapan mengarah pada dengkul Layla yang tadi luka.
"Gak apa, tadi kan udah di tutup luka nya. Tar nyampe rumah, baru gwe lepas lagi biar kena angin hehehe." Layla nyengir kuda, meyakinkan Nina jika ia tidak apa apa.
Tidak ada kejadian aneh atau pun tidak mengenakkan lagi, selama kegiatan olahraga berlangsung.
Sementara di tempat lain. Danu langsung menuju kantor. Menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tertunda.
Sudah ada beberapa berkas yang menumpuk rapih, di atas meja kerja nya.
Dengan bertemankan secangkir kopi, pena dan berkas, kesibukan Danu di mulai.
Ceklek.
Tanpa permisi atau mengetuk pintu lagi, Bayu nyelonong masuk ke dalam ruang kerja bos nya, sekaligus sahabat nya.
"Pagi bos! Udah sibuk aja bos! Tapi kok lo gak keliatan abis kecelakaan bos? Secara pemberitaan yang tersebar di media, itu keadaan lo parah banget!" cicit Bayu, yang lantas duduk di kursi yang ada di hadapan Danu, dengan meja kerja sebagai penghalang di antara ke dua nya.
"Gak usah basa basi, ada yang pengen gue tanyain sama lo!" Danu mengakhiri kesibukan nya, menatap Bayu dengan tatapan serius, dan suasana dalam ruang nampak menegang.
"Tanya apa bro? Serius banget kaya nya nih!" tanya Bayu, berusaha setenang mungkin menghadapi Danu.
Bayu mengerutkan kening nya. 'Apa yang mau di omongin sama Danu ya? Semalam nada suara nya serius banget, gue pikir cuma bercanda.' batin Bayu.
__ADS_1
"Apa yang lo tau tentang Wisnu? Lo kan lebih dekat sama itu anak, apa itu anak ada ngomong ke lo, bahas Aleta atau gue... mungkin!" tanya Danu dengan tatapan menyelidik, menyandarkan punggung nya pada sandaran kursi.
"Gue malah belum ketemu itu anak, terakhir ketemu pas ada rapat devisi di sini kan!" terang Bayu, tanpa mengalihkan perhatian nya pada mata tajam Danu.
"Lo tau kan, apa yang bisa kue lakuin kalo ada penghianat dilingkungan gue!" ancam Danu.
Bayu menelan saliva nya dengan sulit. 'Gila si Danu, ini anak lagi curiga apa gimana sih! Apa jangan jangan Wisnu buat ulah, nyinggung Danu?'
"Oke gue jujur sama lo, sebenar nya sejak dulu Wisnu naksir berat sama Aleta. Cuma karena Aleta lebih milih lu, Wisnu mundur dan tau diri, bukan apa apa kalo di bandingin sama lo! Dan udah hampir sebulan ini, Wisnu deket lagi sama Aleta." jelas Bayu tanpa ragu.
"Kenapa lo baru cerita?" tanya Danu dengan wajah datar.
"Ya gue pikir, buat apa lo tau. Toh Wisnu juga udah lupain perasaan nya sama Aleta, dan sekarang lo tanya ke gue. Ya gue jawab apa yang gue tau." cicit Bayu.
Danu mengepalkan tangan nya. "Apa lo tau, sejauh mana Wisnu bertindak! Dia bahkan mau buat perusahaan gue bangkrut!" ucap Danu dengan penuh penekanan.
"Serius lo?" tanya Bayu dengan tatapan tidak percaya.
"Apa lo pikir gue bercanda? Gue..."
Hape Danu yang ada di atas meja berdering, membuat Danu tidak melanjutkan perkataan nya, dan langsung menjawab telpon nya.
["Selamat siang, pak Danu! Kami dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan pada anda. Bahwa kami sudah berhasil meringkus siapa saja yang terlibat atas kecelakaan yang menimpa anda."] ucap seorang pria, yang tidak lain adalah polisi.
"Terima kasih pak atas informasi nya, saya akan segera ke sana!" ucap Danu, yang lantas mengakhiri sambungan telepon nya.
"Lo mau ikut gue, atau tetap di sini?" tanya Danu dengan beranjak dari duduk nya.
"Emang lo mau ke mana? Apa perlu gue ikut?" Bayu ikut beranjak, meski tidak tau siapa yang menghubungi Danu, dan ke mana tujuan Danu kini.
"Inti nya lo gak perlu banyak tanya! Nanti lo juga bakal tau jawaban nya!" Danu melangkah, dengan Bayu yang mengekori nya.
Arsandi juga mendapat kan kabar dari pihak kepolisian, dan ingin menyampaikan pada Danu. Namun langkah nya terhenti saat berpapasan dengan Danu di depan pintu ruang kerja atasan nya itu.
"Tuan, saya baru saja ....."
"Tidak perlu di lanjutkan, aku sudah tau!" sela Danu dengan dingin, seenaknya memotong ucapan Arsandi.
__ADS_1
"Biar saya antar Tuan ke kantor polisi." tawar Arsandi, mengekori Tuan nya beriringan dengan Bayu.
Danu dan Bayu, kini di pertemukan dengan 3 orang yang terlibat dalam kecelakaan Danu, dan orang yang terlibat dalam kekacauan di gudang. Salah satu nya adalah seorang wanita.
"Sayang, aku gak tau apa apa! Wisnu menjebak ku, sayang! Tolong keluarkan aku dari sini!" rengek Aleta, dari balik jeruji besi dengan wajah frustasi.
"Aleta? Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Wisnu dengan tatapan kecewa, tidak menyangka jika wanita yang di cintai nya berkata sebalik nya.
"Diam kamu! Aku lelah terus di kendalikan oleh mu! Aku muak dengan mu Wisnu! Aku tidak ingin terus kau perintah ini dan itu! Sedangkan itu selalu bertentangan dengan hati kecil ku!" ucap Aleta, dengan pura pura marah pada Wisnu.
'Gue harus bisa manfaatin ini keadaan, gue juga gak mau nama baik gue rusak.' batin Aleta dengan tangan mengepalll.
Prom prok orok.
Danu yang mendengar perdebatan Wisnu dan Aleta, langsung bertepuk tangan, memberikan apresiasi untuk Aleta dan juga Wisnu.
"Kalian sungguh pasangan yang sangat serasi!" ucap Danu dengan penuh penekanan.
"Danu, kamu ngomong apa sih! Aku tuh cinta nya sama kamu! Aku dan Wisnu gak cocok! Aku..." Aleta menghentikan kata kata nya, saat mendapati tatapan tajam Danu.
"Lanjut kan saja drama kalian, aku pikir... bukti yang ada di tangan polisi sekarang sudah cukup membuat kalian mendekam lama di penjara!" ucap Danu yang langsung meninggalkan Aleta dan Wisnu.
"Gue gak tau apa yang udah kalian lakukan berdua, tapi satu kalimat buat kalian. Hebat, gue jadi tau wajah asli kalian berdua! Gak lebih dari pecundang!" sungut Bayu, yang menyusul langkah Danu.
Kini Danu dan Bayu, berhadapan dengan polisi yang menjadi pimpinan saat penangkapan ke tiga pelaku.
"Maaf pak, untuk pelaku satu nya... kenapa saya tidak melihat nya?" tanya Danu dengan serius.
...💖💖💖...
Bersambung...
Like dan komentarnya dong, 😅😅
...Berawal dari kehaluan, di tuangkan dalam tulisan. Jadi lah karya author dalam bentuk bacaan 😅😅...
...Kehaluan semata...
__ADS_1