
...🥀🥀🥀...
"Sejak kapan kalian tunangan? Kalian bukan nya sepupuan?"
Dari arah pintu masuk restoran, suara seorang laki laki yang di kenal Danu dan Layla, menatap nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sejak kapan, kalian berada di sana?" tanya Danu dengan datar.
Layla membuang nafas nya kasar, menggaruk kening nya, astagaaa kenapa jadi sesulit ini sih. Udah ada aja lagi masalah baru.
Danu, Helen dan Layla menoleh ke arah asal suara. Danu melihat ke 3 murid nya sedang menatap ke arah nya. Jika Nina dan Mery menatap nya dengan biasa saja, beda hal nya dengan Deri yang tampak terkejut dengan pengakuan Danu dan Layla.
Layla langsung menghampiri ke tiga nya. "Kalian kenapa cepat banget nyampe nya?" tanya Layla dengan canggung pada Deri.
"Maaf La, Deri pengen banget ketemu sama lo." cicit Nina dengan wajah menyesal, ekor mata nya melirik ke arah Deri.
"Jangan bilang kalo kalian udah tau? Kalian sembunyiin ini dari gue?" Deri menatap ke tiga gadis itu, dengan tatapan menyelidik.
Danu membiarkan Layla menyelesaikan masalah nya, dan membeli apa yang akan mereka berdua makan. Bahkan kini Danu, tanpa di minta pun, memesan makanan untuk ke 3 sahabat Layla.
Dengan di bantu pelayan restoran, Danu membawa makanan nya ke meja yang tadi mereka berdua pilih.
Sementara Helen sudah pergi dari restoran itu, setelah mendapatkan panggilan telepon.
Grap.
Danu menarikkk pinggang Layla ke dalam rengkuhan nya. Gak tau apa kalo situasi yang di hadapi 4 bocah seumuran ini, sedang gersang, tegang setegang tegang nya.
"Kalian, ikut lah bergabung bersama kami. Aku sudah memesankan makanan untuk kalian bertiga juga!" ucap Danu dengan datar.
Deri mengerutkan kening nya, menatap heran pria yang berstatus kan guru pengganti di sekolah nya. Berkali kali, Deri menatap Layla dan Danu secara bergantian, mencari kebenaran dari kecurigaan nya.
Ini beneran pak Danu? Guru pengganti gue di sekolah? Kenapa beda banget perlakuan pak Danu ke Layla. Kali ini jelas banget kalo pak Danu mencintai Layla. Layla juga, punya perasaan yang sama ke pak Danu. Bener, mereka saling cinta, tapi sejak kapan?
Nina menelan saliva nya dengan sulit, jiwa jomblo nya meronta ronta, menangis iri melihat kemesraan yang Danu perlihatkan untuk Layla.
Anjimmm banget Layla. Gak nyangka gue, pasti udah nganu ini bocah, bisa bisa nya pak Danu mesra banget ke Layla. Bikin gue iri, pengen banget punya suami kaya pak Danu hiks.
__ADS_1
Mery menggaruk kepala nya yang tidak gatal. "Apa gak ngerepotin kalo kita gabung pak?"
"Saya tidak merasa di repot kan, kalian kan punya tangan dan kaki sendiri. Apa yang harus di repot kan?" Danu balik bertanya.
"Udah udah, dari tadi debat gak ada udah nya. A- ayo kita makan dulu! Biar sekalian ada yang perlu gue jelasin sama lo, Deri!" ucap Layla.
"Ayo Der, saya juga ada yang mau di bicarakan dengan kamu!" ucap Danu menimpali nya.
"Udah nurut aja ayo! Mau kejelasan kaga sih lo!" Nina menarikkk lengan Deri, dengan menggandeng lengan nya.
Mery menggelengkan kepala nya, menatap penuh harap pada pemilik punggung Deri, sahabat nya. "Mudah mudahan aja, dengan Deri dengerin penjelasan dari pak Danu, Deri jadi ngerti posisi Layla."
"Lebih baik kita makan dulu, baru setelah itu saya jelaskan apa yang ingin Layla katakan pada mu!" terang Danu dengan bijak.
"Aku bisa jelasin sambil makan, ka! Biar cepat clear masalah nya." terang Layla.
Layla menjelaskan panjang lebar, alasan diri nya menikah dengan Danu. Dengan di saksikan Mery dan Nina saat hari pernikahan nya.
"Maaf ya Deri! Please jangan marah sama gue! Lo masih mau kan jadi sahabat gue?" pinta Layla dengan tatapan memohon.
Grap.
Layla menggenggammm jemari Danu yang ada di atas meja.
"Tunggu ka, maksud nya mengerahkan orang kepercayaan kaka di sekitar ku, itu maksud nya apa ya?" tanya Layla, menuntut penjelasan Danu.
"Si mbok, bapak pekerja taman dan penjaga keamanan di rumah mu, adalah orang kepercayaan saya. Mereka lah mata saya untuk tetap melindungi kamu dari mama Sifanye dan Lulu." terang Danu.
Nina menyatukan ke dua tangan nya, meremasss dengan gemas. "Ya ampun, kaga nyangka gue... pak Danu si guru dingin, galak, cuek, bisa juga bersikap manis, perhatian, perduli banget sama lo, La! Laki lo buat gue aja La!" ucap Nina dengan tatapan mendamba.
Plak.
Mery menggeprak lengan Nina dengan gemas.
"Nyadar woy! Mending lo sama Deri aja! Deri juga kan gak jelak jelek amat! Masih cocok lah sama lo!" celetuk Mery sambil menyuapkan chicken ke dalam mulut nya.
"Sialannn lo! Udah ngatain gue jelek, masih juga nyuruh ini bocah sama gue! Ogah amat! Lo bukan level gue!" sungut Deri dengan tatapan kesal pada Nina dan Mery.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau sama lo? Gue juga ogah sama lo! Lo bukan level gue!" sungut Nina.
"Jadi, saya mohon pada kalian, untuk merahasiakan pernikahan saya dan Layla dulu dari semua orang. Kecuali pak Asep dan kepala sekolah. Mereka sudah mengetahui nya!" terang Danu panjang kali lebar.
"Aku gak jamin lo pak, gimana kalo sikap kalian berdua ini. Membuat curiga anak anak yang lain." ucap Deri datar.
Danu mengerutkan kening nya. "Sikap yang mana maksud kamu, Der? Anak anak di sekolah gak akan ada yang tau, jika kalian bertiga tidak buka mulut."
Mery tidak sependapat dengan Danu, ia pun mengungkapkan ptotes nya. "Gak semua rahasia di buka dengan ada nya mulut yang bocor pak!"
"Tatapan kalian berdua itu, penuh dengan cinta, sama sama saling membutuhkan." ucap Nina, meluruskan perkataan Mery dan Deri yang sulit di artikan.
"Inti nya kalian itu anak baik, jika tidak buka mulut. Kalian bisa kan menjaga rahasia ini?" tanya Danu.
"Sampai kapan, pak?" tanya Nina.
"Sampai kalian lulus sekolah. Baru aku dan Layla, akan mengumumkan pada khalayak ramai, tentang hubungan kami berdua." ucap Danu, dengan keputusan nya.
Layla menelan saliva nya, masalah Deri kan udah selesai, terus cewek tadi itu siapa ya? Ko Danu ngenalin gue sebagai tunangan nya, kenapa bukan istri nya?
"Laen kali, jangan ada yang di sembunyiin lagi lo dari gue! Kita ini sahabat lo!" sungut Deri, menatap Layla dengan sisa kecewa.
"La! Besok lo masuk kelas kan? Jangan lupa bawa oleh oleh buat gue!" tanya Nina.
"Terus sekarang Layla tinggal di mana, pak?" tanya Mery.
Nina, Deri dan Mery saling tatap, lalu menatap ke arah Layla yang sejak tadi diam.
Danu juga kini menatap Layla, mencari tau apa yang sedang di pikirkan sang istri.
"Kamu ngelamunin apa lagi? Masalah Deri kan udah beres. Nina, Mery dan Deri, menunggu jawaban dari kamu." Danu menyempilkan anak rambut Layla yang sejak tadi terus melambai liarrr, ke belakang daun telinga nya.
"Pak, bisa tegas gak sih! Jangan lembut gitu apa sama Layla!" ptotes Nina.
...🥀🥀🥀...
Menuangkan segala ke haluan lewat kata. Dari kata menjadi kalimat. Dari kalimat yang terangkai menjadi sebuah karya 😅😅😅
__ADS_1