
Keesokan harinya, Abella
buru-buru bangun untuk memasak dan juga menyiapkan air untuk anaknya mandi.
“Aduh aku keenakan tidur, kenapa
aku bangun kesiangan dan sekarang sudah jam 6 lagi.” Gerutu Abella di dapur.
“Mbak biar saya saja yang masak
untuk sarapan.” Kata mbak Ayu.
“Jangan mbak, kalau urusan
makanan biar aku saja. Tolong pergi ke pasar ya belikan bahan-bahan yang ada di
catatan ini.” Kata Abella.
“Baik mbak, ada lagi mbak?
Barangkali ingin beli sesuatu sekalian saya belikan nanti.” Kata mbak Ayu.
“Nggak usah mbak, cukup belikan
itu saja yang ada di catatan. Di catatan itu kan banyak sekali yang harus
dibeli.” Kata Abella.
“Baik mbak, kalau begitu saya
permisi dulu mbak.” Kata mbak Ayu.
Tidak lama kemudian Darel
terbangun dan menangis, Abella pun segera menghampiri anaknya dan menggendongnya.
“Darel sayang sudah bangun ya,
good morning sayang. Kok nangis sih? Manggil mama sama papa ya, papa masih
tidur. Tadi Darel tidur disamping papa loh, sekarang kita bangunin papa yuk.
Papa ayo bangun pa.” Kata Abella.
“Hoam, eh Darel sudah bangun ya?”
Kata Adriano.
“Sudah pa, Darel ingin
jalan-jalan sama papa sambil digendong papa.” Kata Abella.
“Biar aku yang gendong Darel, aku
__ADS_1
ingin mengajaknya ke teras depan sambil menghirup udara segar di taman yang aku
buat. Kamu yang masak ya.” Kata Adriano.
“Iya mas, aku hangatin susunya
Darel dulu ya sekalian.” Kata Abella.
“Iya sayang.” Kata Adriano sambil
mencium kening istrinya.
**
Beberapa bulan kemudian.
Adriano bersiap-siap untuk pergi
bekerja sedangkan Abella sedang menyusui anaknya.
“Enak ya sayang minum susunya
mama? Papa saja ketagihan loh, tapi papa rela mengalah demi kamu sayang.” Kata
Adriano.
“Ini yang satunya nganggur loh
mas.” Goda Abella.
semakin nikmat haha.” Goda Adriano.
“Dasar, kamu hari ini tidak ada
jadwal terbang kan mas?” Tanya Abella.
“Tidak, aku hanya menghadiri
meeting saja dengan atasanku. Nanti malam kita makan diluar yuk, Darel kita
titipkan ke mbak Ayu saja.” Kata Adriano.
“Tapi jangan terlalu lama mas,
aku khawatir kalau meninggalkan Darel terlalu lama.” Kata Abella.
“Iya, kita hanya makan malam saja
setelah itu langsung balik kok.” Kata Adriano.
“Iya sayang, sarapan dulu mas
sebelum berangkat. Tadi aku masak nasi goreng karena buru-buru dan Darel juga
__ADS_1
nangis jadi aku masak nasi goreng.” Kata Abella.
“Tidak apa-apa yang penting
masakanmu, aku tidak mau makan masakan pembantu. Lebih baik aku makan mie
instan tapi buatanmu daripada makan enak buatan pembantu.” Kata Adriano.
“Iya mas, cepat makan sana, aku
masih menyusui Darel.” Kata Abella.
“Aku makan dikamar saja sekalian
mau menyuapi kamu sayang.” Kata Adriano.
“Tidak usah, aku bisa makan
sendiri nanti setelah menyusui Darel.” Kata Abella.
“Kapan memangnya? Iya kalau Darel
sedang tidur, kalau kamu masih repot lalu kapan kamu sempat untuk sarapan. Sudah
jangan banyak alasan, aku saja yang menyuapimu.” Kata Adriano.
“Hmmm baiklah kalau gitu.” Kata Abella.
Kemudian Adriano mengambil
makanan dan membawanya ke kamarnya lagi.
“Darel sayang, papa mau menyuapi
mama ya.” Kata Adriano sambil melihat ke arah anaknya.
“Eh Darel senyum-senyum, seneng
ya liat papa menyuapi mama?” Kata Abella.
“Akhirnya kita sarapan bersama.” Kata
Adriano.
“Kita sarapan bertiga sayang,
liat deh mas Darel aja senyum-senyum melihat kita.” Kata Abella.
“Kalau begini aku jadi tidak
ingin pergi bekerja, ingin bersama Darel terus.” Kata Adriano.
“Papa harus kerja keras demi
__ADS_1
Darel sama mama.” Kata Abella.