
Satu minggu kemudian.
Polisi menemukan mayat Fardan di sungai, berita tersebut pun masuk menjadi viral dan masuk berita. Nadia pun terkejut dengan berita tersebut dan dia langsung pergi menuju ke rumah sakit untuk mengecek keadaan Fardan.
Di rumah sakit.
Ternyata disana juga ada Kevia dan Daniel. Nadia menjerit melihat jasad Fardan dan dia langsung menangis.
“Mas kamu kenapa mas? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu pergi begitu saja? Sayang bangunlah, jangan tinggalkan aku sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu. Siapa pelakunya pak? Tolong tangkap pelakunya, aku akan membunuh pelakunya.” Kata Nadia sangat marah dan penuh emosi.
“Pa ayo kita pulang.” Bisik Kevia kepada Daniel.
“Iya tunggu sebentar.” Kata Daniel.
Kevia diam-diam pergi ke suatu tempat dan menelfon ibunya.
Setelah kejadian tersebut, Tiara pergi menghilang tanpa jejak, bahkan Daniel pun tidak tau keberadaan istrinya. Meskipun Kevia masih berkomunikasi dengan Tiara namun dia tidak tau keberadaan ibunya.
“Ada apa kamu menelfonku? Bukankah mama sudah bilang jangan pernah menelfon mama apalagi mencari mama.” Kata Tiara.
“Mama dimana sekarang?” Tanya Kevia.
“Mama ada di suatu tempat yang kalian tidak akan pernah bisa menemukannya.” Kata Tiara.
“Jasad om Fardan ditemukan di sungai, dan hari ini akan dimakamkan ma. Tante Nadia baru mengetahuinya dan dia serta polisi akan mulai menyelidiki siapa pembunuh om Fardan, aku takut ma, aku takut sekali ma.” Kata Kevia.
__ADS_1
“Hanya kita berdua yang mengetahui kejadian itu, selagi kamu tutup mulut maka semua masalah kelar.” Kata Tiara.
“Bagaimana jika polisi menggeledah rumah om Fardan ma?” Tanya Kevia.
“Mama sudah membereskan masalah itu, rumah itu sudah terjual atas nama om Fardan dan tante Nadia yang mewarisinya, sebelum kejadian itu om Fardan memang sudah menjualnya jadi kamu jangan khawatir masalah ini, jaga dirimu dengan baik ya.” Kata Tiara.
“Kapan mama kembali pulang?” Tanya Kevia.
“Kevia kamu sedang apa?” Tanya Daniel tiba-tiba menghampiri Kevia, Kevia pun segera mematikan ponselnya.
“Tidak kok pa, aku sedang menghirup udara segar saja.” Kata Kevia.
“Ayo kita pergi.” Kata Daniel.
“Kita ikut ke pemakaman om Fardan, bagaimanapun juga dia dulu dekat dengan mama dan papa dan dia banyak membantu mama kamu.” Kata Daniel.
“Baiklah pa.” Kata Kevia.
“Kamu tadi menelfon seseorang ya?” Tanya Daniel.
“Bukan siapa-siapa kok pa.” Kata Kevia.
“Pemakamannya sudah selesai, ayo kita kembali pulang.” Kata Daniel.
“Baik pa.” Jawab Kevia.
__ADS_1
Daniel dan Kevia ke tempat parkir, namun Nadia mengejar Daniel dan Kevia.
“Tunggu.” Kata Nadia.
“Ada apa? Oh iya aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Fardan.” Kata Daniel.
“Turut berduka cita ya tante.” Kata Kevia sambil memeluk Nadia.
“Dimana ibumu?” Bisik Nadia.
“Maaf, aku dan anakku harus segera kembali, permisi.” Kata Daniel menarik tangan Kevia.
“Terima kasih telah datang, aku tidak melihat Tiara? Dimana dia?” Tanya Nadia.
“Permisi, aku pergi dulu.” Kata Daniel langsung pergi dengan anaknya.
Diperjalanan,
Kevia tampak cemas dan merasa bersalah dengan dirinya sendiri, dia juga sangat khawatir dengan keberadaan ibunya.
“Bagaimana ini? Akulah penyebab kematian om Fardan tapi anehnya dia ditemukan di sungai, apa yang telah dilakukan sama mama terhadap om Fardan? Kasihan tante Nadia kehilangan om Fardan, Tuhan apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku mengaku dan menceritakan semuanya kepada papa? Tapi aku sangat takut, aku tidak mau masuk penjara.” Kata Kevia dalam hati.
“Pa sebenarnya mama dimana? Kapan mama akan kembali pulang?” Tanya Kevia kepada Daniel.
“Mama akan kembali diwaktu yang tepat, bersabarlah.” Kata Daniel.
__ADS_1