
Makan malam pun tiba. Abela dan Stella bersiap-siap lalu turun kebawah untuk makan bersama staff yang lainnya.
“Abela Stella.” Panggil Arum.
“Bu Arum, akhirnya datang juga. Naik apa kesini bu?” Tanya Abela.
“Kalian kamar berapa dan lantai berapa?” Tanya Arum.
“Aku dan Stella satu kamar, kamar kami no 45 lantai 4. Kalau bu Arum?” Tanya Abela.
“Kamarku bersebelahan dengan kalian kok, aku kamar nomor 44.” Kata Arum.
“Bu Arum kesini naik apa?” Tanya Stella.
“Aku membawa kendaraan sendiri, ayo kita makan.” Kata Arum.
“Memangnya bu Arum ada urusan apa? Kenapa tidak memberitahuku atau Stella?” Tanya Abela.
“Maaf ya, aku aku ada urusan mendadak tadi pagi.” Kata Arum.
“Apakah bu Arum sedang sakit? Atau sedang ada masalah?” Bisik Abela.
“Aku baik-baik saja, aku menemani dan mengantar anakku pertama ke suatu tempat.” Kata Arum.
“Sepertinya ada yang disembunyikan dari bu Arum. Mungkin lain kali dia akan memberitahuku.” Kata Abela dalam hati.
**
Setelah makan malam, Abela ke samping kolam renang untuk menghirup udara segar. Kemudian dia menelfon anaknya.
“Mama.” Panggil Darel.
“Darel sayang, kamu sedang apa?” Tanya Abela.
“Aku sedang makan malam dirumah nenek. Nenek membuatkanku banyak makanan.” Kata Darel.
“Wah sepertinya sangat enak, tugas sekolahmu bagaiamana? Sudah selesai belum?” Tanya Abela.
“Sudah selesai ma, mama sedang apa sekarang? Mama sudah makan malam belum?” Tanya Darel.
__ADS_1
“Mama sudah makan malam barusan sayang, sekarang mama sedang bersantai di pinggir kolam. Oh iya papa tadi berangkat jam berapa? Apakah papa menelfonmu?” Tanya Abela.
“Tadi papa berangkat jam 4 sore ma, papa barusan menelfonku untuk menanyakan apakah sudah makan malam.” Kata Darel.
“Benarkah? Baiklah kalau begitu, jangan lupa sebelum tidur menyikat gigi dan berdoa sebelum tidur ya.” Kata Abela.
“Tentu saja ma, aku selalu mendoakan agar aku, mama papa nenek kakek oma opa selalu sehat dan bahagia selalu.” Kata Darel.
“Terima kasih anakku sayang, kalau begitu mama tutup dulu ya. Setelah makan jangan langsung tidur jika tidak ingin berat badanmu bertambah.” Kata Abela.
“Hahahaha tentu saja, bye mama i love you.” Kata Darel.
“I love you too, salam untuk nenek dan kakek ya.” Kata Abela, kemudian dia menutup telfonnya.
“Mas Adriano kemana ya? Dia barusan menelfon Darel tapi kenapa panggilanku sedang di alihkan.” Kata Abela sangat cemas dan juga curiga.
Kemudian Abela kembali kedalam kamarnya.
“Apakah kamu sibuk?” Tanya Nando tiba-tiba menghampiri Abela.
“Ah pak Nando? Ehm sepertinya tidak, ada apa memangnya?” Tanya Abela.
“Tidakkah kamu melihatku sedang membawa dua minuman? Maukah kamu menemaniku meminum secangkir kopi? Tapi aku tidak tau apakah kamu menyukai kopi?” Tanya Nando.
“Ikutlah denganku, ada tempat bagus untuk menikmati secangkir kopi hangat.” Kata Nando.
Nando mengajak Abela ke sebuah taman yang tak banyak orang mengetahuinya.
“Duduklah.” Kata Nando.
“Wah tempatnya bagus sekali, aku bisa melihat pemandangan kota dari atas. Disini sangat sejuk dan nyaman, rasanya semua kelelahanku terobati. Pak Nando pasti sering datang kemari ya.” Kata Abela.
“Hehe tentu saja, aku sering menginap di vila paling atas, dari hotel ini masih naik lagi ke atas. Biasanya jika aku sedang banyak masalah aku akan datang kesini.” Kata Nando.
“Bukankah vila itu vila paling mewah dan terbilang sangat fantastis harganya, padahal dia hanya kepala bagian penyiaran tapi seleranya fantastis.” Kata Abela dalam hati.
“Wah keren sekali, bukankah itu vila yang sangat mewah dan fantastis ya?” Tanya Abela.
“Hehehe, aku bisa merekomendasikanmu untuk menginap disana jika kamu mau.” Kata Nando.
“Aku harus menagajk suami dan anakku jika menginap disana.” Kata Abela.
“Tentu saja, mengajak keluarga dan orang-orang tercinta.” Kata Nando.
__ADS_1
“Biasanya pak Nando menginap bersama siapa saja? Karena yang saya tau bapak masih sendiri.” Kata Abela lirih.
“Aku menginap sendiri, healing time dan me time.” Kata Nando.
“Oh jadi begitu ya.” Kata Abela.
“Jangan sungkan apalagi bersikap sopan kepadaku agar lebih cepat akrab, jika dikantor aku memang disegani oleh staff yang lain tapi jika diluar kantor bersikaplah biasa, panggil aku sesukamu saja.” Kata Nando.
“Bagaimana bisa aku memanggilmu tanpa menggunakan kata bapak.” Kata Abela sungkan.
“Hahaha baiklah terserah kamu saja, maaf tadi aku tidak sengaja percakapanmu ditelfon.” Kata Nando.
“Oh iya, tadi aku sedang menelfon anakku.” Kata Abela.
“Apakah mereka baik-baik saja?” Tanya Nando.
“Tentu saja baik.” Kata Abela.
“Sepertinya kamu sedang mencemaskan suamimu. Benarkah begitu?” Tanya Nando.
“Kenapa dia bertanya seperti ini kepadaku ya?” Tanya Abela dalam hati.
“Sepertinya suamiku sedang sibuk karena dia seorang pilot dan saat ini dia sedang ada penerbangan.” Kata Abela.
“Jangan terlalu mempercayai seorang laki-laki 100%.” Kata Nando.
“Hanya aku yang mengetahui semua kelebihan dan kekurangannya karena aku dan dia hidup bersama cukup lama.” Kata Abela.
“Seorang wanita akan selalu mempercayai seorang laki-laki namun seorang laki-laki selalu saja mengkhianati kepercayaan wanitanya.” Kata Nando.
“Memangnya bapak tau apa tentang saya dan suami saya? Bahkan bapak belum pernah menikah jadi pasti hanya tau dari orang-orang disekitar bapak saja kan. Tolong jangan membuat spekulasi yang tidak benar tentang suami saya maupun diri saya.” Kata Abela kesal.
“Aku memang belum menikah tapi aku juga pernah mengecewakan kepercayaan seorang wanita, jadi aku bisa memahami bagaimana rasanya. Maaf jika perkataanku membuatmu kesal.” Kata Nando lalu pergi meninggalkan Abela.
“Dasar menyebalkan, pantas saja masih jomblo sampai sekarang. Aku menyesal menemaninya minum kopi argh.” Gerutu Abela.
Lalu Abela pergi menuju ke kamarnya. Saat dia masuk lift, ternyata berpapasan dengan Nando yang juga akan naik lift.
“Silahkan masuk dulu pak, saya tidak ingin satu lift dengan bapak.” Kata Abela.
“Masuklah terlebih dahulu, saya akan menggunakan lift yang lain saja. Saya akan merasa sangat bersalah jika naik lift terlebih dahulu.” Kata Nando.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Abela, lalu dia naik lift.
__ADS_1