
Tiara menemui Nadia di sebuah kafe.
“Hai Tiara, maaf jika menunggu lama. Aku barusan pergi ke dokter untuk periksa kandungan diantar sama suamiku mas Fardan. Ada apa?” Tanya Nadia.
“Kamu hamil?” Tanya Tiara.
“Belum, tapi aku berusaha agar bisa memiliki anak dari mas Fardan.” Kata Nadia.
“Bagaimana bisa anakku Kevia kemarin ada di rumahmu? Apa yang sebenarnya terjadi dan apa saja yang kamu katakan kepadanya?” Tanya Tiara.
“Sepertinya hubunganmu dengan anakmu tidak akur ya, berarti kamu tidak tau apa yang terjadi dengannya.” Kata Nadia.
“Jawab saja pertanyaanku.” Kata Tiara.
“Bukan aku yang membawanya ke rumah, tapi mas Fardan yang membawanya ke rumah. Mas Fardan mengatakan kalau Kevia yang menemuinya di galerimu.” Kata Nadia.
“Bagaimana bisa Kevia mengenal Fardan?” Tanya Tiara.
“Aku juga tidak tau, mungkin ada yang sangat ingin diketahui oleh Kevia tentang Fardan, atau mungkin dia ingin belajar melukis juga dari Fardan? Tapi untuk apa Kevia belajar melukis dari Fardan sedangkan ibunya saja seorang pelukis terkenal.” Kata Nadia.
“Lalu kenapa Kevia bisa ada dirumah kalian?” Tanya Tiara.
“Kevia bilang ingin berkunjung dan melihat-lihat rumahku. Tanyakan saja pada Kevia sendiri jika kamu tidak mempercayaiku.” Kata Nadia.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya ingin diketahui oleh Kevia, kenapa dia sampai mencari bahkan menemui Fardan.” Kata Tiara dalam hati. Kemudian Tiara pergi meninggalkan Nadia, namun Nadia menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
“Apakah kamu masih belajar melukis dari suamiku? Apa benar kamu yang merekomendasikan suamiku untuk bisa mengikuti pameran lukisan di galeri tempatmu bekerja?” Tanya Nadia.
“Itu bukan urusanmu.” Kata Tiara.
“Tentu saja itu menjadi urusanku karena Fardan adalah suamiku, apa perlu aku mencurigaimu?” Tanya Nadia.
“Untuk apa kamu mencurigaiku, jangan bicara sembarangan.” Kata Tiara.
“Apakah suamimu tau bahwa kamu menyewakan Fardan apartemen di Korea?” Tanya Nadia.
“Lebih baik kamu diam jika tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Tiara.
“Memangnya kamu siapa bisa membuat hidupku sengsara? Justru aku sangat kasihan denganmu karena kini kamu menjadi seorang pendendam tidak seceria seperti dulu.” Kata Tiara.
“Sial sial sial, lihat saja nanti aku akan pastikan hidupmu akan sengsara.” Kata Nadia dalam hati.
**
Tiara menjemput Brendan di sekolahnya. Dari parkiran, Tiara melihat Brendan sedang mengobrol dengan seseorang di taman bermain akhirnya Tiara pun langsung berlari menghampiri Brendan lalu memanggilnya dan mengajaknya pulang.
“Brendan apa yang kamu lakukan? Kamu bicara dengan siapa sayang? Kemarilah, ayo kita pulang.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Mama ada temannya mama, om Fardan.” Kata Brendan, kemudian Fardan menoleh ke arah Tiara.
“Hai.” Sapa Fardan.
“Apa yang dilakukan Fardan disini? Apakah dia ingin mengambil anakku Brendan? Tidak bisa Brendan adalah anakku.” Kata Tiara dalam hati.
“Ayo sayang kita pulang.” Ajak Tiara.
“Aku pulang dulu ya om Fardan, terima kasih.” Kata Brendan memberikan salam kepada Fardan.
Tiara membawa Brendan masuk kedalam mobilnya.
“Kenapa Brendan bisa bertemu dengan om Fardan? Mama dan papa sudah seringkali mengingatkan Brendan kan untuk selalu berhati-hati dengan orang yang tidak Brendan kenal, memangnya Brendan kenal dengan dia?” Tanya Tiara.
“Dia bilang kalau dia teman dekat mama, bahkan dia memberitahu Brendan foto mama bersama om Fardan.” Kata Brendan.
“Foto apa memangnya?” Tanya Tiara.
“Foto mama sama om Fardan di kolam renang, mama memakai baju renang.” Kata Brendan.
“Pokoknya Brendan harus jaga jarak dengan om Fardan ya, mama bukan teman dekat om Fardan lagi. Brendan bisa kan berjanji untuk jaga jarak dengan om Fardan?” Tanya Tiara.
“Iya ma.” Jawab Brendan.
__ADS_1
“Aku harus memperingatkan Fardan.” Kata Tiara dalam hati.