
Tibalah hari dimana Kevia harus pergi ke luar negeri untuk sekolah. Tiara dan Daniel mengantar Kevia ke bandara, sedangkan Brendan sedang bersama neneknya.
Selama perjalanan menuju bandara, Kevia hanya terdiam saja dengan tatapan emosi dan kesal.
Tiba-tiba Daniel menghentikan mobilnya.
“Kenapa mas?” Tanya Tiara.
“Aku ke toilet dulu, perutku sakit.” Kata Daniel.
“Ah iya mas, aku tunggu disini ya.” Kata Tiara.
Saat Daniel keluar mobil, Tiara pun bertanya kepada anaknya.
“Nanti disana ada seseorang kenalan papa yang akan membantumu kok, dia juga akan mengatur sekolahmu disana, dia telah mencarikanmu tempat tinggal yang dekat dengan sekolah, dan bulan depan mama dan papa akan pergi mengunjungimu.” Kata Tiara.
“Apa tujuan mama mengirimku sekolah ke luar negeri? Mama takut ya? Takut papa akan mengetahui hubungan mama dengan om Fardan? Lalu apa benar Brendan adalah adik kandungku?” Tanya Kevia.
“Apa maksudmu? Jaga ucapanmu ya, jangan sembarangan kalau bicara.” Kata Tiara kesal.
“Akulah yang menyimpan buku diary milik mama, buku itu sangat jelas bahkan ada foto kalian berdua bahkan om Fardan menggambar Brendan saat bayi, jadi siapa Brendan itu? Apakah Brendan bukan anak kandung papa? Apakah papa mengetahui kelakuan mama selama ini hah?” Tanya Kevia.
“Itu tidak benar, kamu hanya salah paham dan buku itu bukanlah milik mama.” Kata Tiara.
“Mama yakin? Mama tega sekali, mama jahat sekali sama aku dan juga papa. Papa sangat menyayangi mama tapi mama justru mengkhianatinya. Aku hampir saja memberitahu papa yang sebenarnya namun aku tidak tega melihat papa sedih akhirnya aku mengurungkan niatku, aku mengikuti mama malam itu saat papa sedang pergi ke Bali, dan ternyata mama menemui om Fardan di sebuah hotel. Aku sangat muak melihat mama, aku sangat membenci mama.” Kata Kevia.
“Lalu apa yang kamu inginkan dari mama agar kamu tidak membenci mama?” Tanya Tiara.
__ADS_1
“Jangan pernah muncul di depanku.” Kata Kevia.
“Mama keluar dulu mencari udara segar, mama sesak nafas.” Kata Tiara.
Tiara keluar dari mobil dan dia mengendarai taksi.
Tak lama kemudian, Daniel masuk kedalam mobil.
“Maaf ya kalau menunggu papa lama.” Kata Daniel.
“Tidak kok pa.” Jawab Kevia.
“Mama kamu kemana?” Tanya Daniel.
“Tadi dia bilang keluar sebentar untuk mencari udara segar.” Kata Kevia.
“Benarkah? Coba kamu telfon mama kamu.” Kata Daniel.
“Tidak ada jawaban pa.” Kata Kevia.
“Aduh kemana ya? Papa cari di sekitar juga tidak ada.” Kata Daniel sangat khawatir.
Akhirnya Daniel menunda keberangkatan anaknya ke luar negeri dan fokus mencari istrinya.
**
Tiga hari kemudian.
__ADS_1
Tiara tak kunjung pulang dan ponsel Tiara juga tidak bisa dihubungi. Daniel bahkan sampai meminta bantuan polisi untuk menemukan istrinya. Sedangkan Kevia langsung menuju ke rumah Fardan. Karena dia yakin bahwa ibunya pasti ada dirumah Fardan. Setibanya dirumah Fardan ternyata pintunya tidak terkunci sehingga Kevia langsung masuk dan mencari ibunya.
“Ma mama didalam kan? Aku sudah tau kalau mama pasti ada disini kan? Cepat keluar atau aku akan memberitahu papa yang sebenarnya terjadi.” Kata Kevia, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ibunya ada didalam. Kevia pun terus berkeliling untuk mencari ibunya dan tibalah di depan pintu kamar utama yang terbuka sedikit, Kevia pun mengintip perlahan dan sangat kaget dengan apa yang dia lihat, ternyata ibunya sedang kesakitan karena lehernya dicekik oleh Fardan, Tiara melihat Kevia ada dibelakang Fardan dan memberi kode untuk kabur namun Kevia tampak kasihan melihat ibunya, Kevia melihat di sekitarnya dan dia melihat sebuah pisau buah, dia pun diam-diam mengambil pisau buah tersebut dan menancapkan pisau tersebut ke punggung Fardan dengan sangat keras, Fardan pun langsung terjatuh kesakitan di atas tubuh Tiara, Kevia juga tampak kaget dengan apa yang telah dia lakukan. Fardan berusaha bangkit dan kembali menyerang Tiara namun Kevia memukul kepala Fardan dengan vas bunga dan langsung terjatuh pingsan, Kevia terduduk lemas tak berdaya, tangannya kini berlumuran darah, Tiara menyingkirkan tubuh Fardan yang berada di atasnya.
Tiara mengajak Kevia ke toilet, tak lupa membawa pisau tersebut.
“Bangun, ikut mama.” Kata Tiara.
“Bagaimana ini ma? Aku akan masuk penjara ma, aku seorang pembunuh ma.” Kata Kevia sambil menangis.
“Tidak ada waktu untuk menangis, cepat bangun dan bersihkan noda darah yang menempel di tangan dan bajumu.” Kata Tiara.
“Bagaimana dengan om Fardan ma?” Tanya Kevia.
“Biar mama yang mengurusnya, cepat mandi dan letakkan bajumu disini, mama akan membuang bajumu dan juga pisau yang kamu gunakan tadi.” Kata Tiara.
“Ma aku tidak mau dipenjara, aku hanya ingin menyelamatkan mama tadi.” Kata Kevia.
“Jangan banyak bicara dan lakukan perintah mama.” Kata Tiara.
“Baik ma.” Jawab Kevia.
Setelah Kevia mandi, Tiara segera membungkus baju dirinya dan milik Kevia dan memasukkannya kedalam tas plastik.
“Apa rencana mama?” Tanya Kevia.
“Sekarang pergilah dari sini, pakai sandal jepit ini untuk sementara. Jangan pernah ceritakan kejadian ini kepada siapapun, mama menyayangi kalian.” Kata Tiara sambil memeluk Kevia. Kevia pun menuruti keinginan ibunya dan dia segera kembali pulang dengan perasaan bersalahnya.
__ADS_1
Tiara memasukkan mayat Fardan kedalam koper dan membawanya ke sungai, Tiara pun langsung membuang koper tersebut kedalam sungai.
“Seharusnya aku tidak bertemu denganmu. Kalau saja kamu tidak memulai pertengkaran itu apalagi sampai mencekik leherku, mungkin kamu tidak akan berakhir seperti ini. Asal kamu tau bahwa Brendan adalah anakku dengan mas Daniel.” Kata Tiara.