
Keesokan harinya, nenek Abella
sedang memasak untuk sarapan sedangkan Adriano masih tertidur di sofa. Kemudian
nenek Abella membangunkan Adriano.
“Bangun nak sudah pagi loh. Hmmmm
sudah jadi seorang ayah itu jangan bangun siang, bantu istrimu menjaga anakmu.”
Kata nenek Abella.
“Eh maaf nek, jam berapa sekarang
nek?” Tanya Adriano sambil menoleh kanan kiri karena matanya masih mengantuk.
“Sudah jam 6 pagi, nenek mau
masak dulu. Kamu kenapa tidur di sofa? Istrimu sedang marah denganmu ya?” Tanya
nenek.
“Tidak kok nek, kemarin aku
menonton tv lalu ketiduran nek.” Kata Adriano.
“Gantikan istrimu sana, dia tidak
tidur karena anakmu nangis. Kamu malah tidur-tiduran astaga anak muda anak
muda.” Kata nenek.
“Dasar nenek, justru semalam yang
tertidur itu Abella dan akulah yang menggendong Darel hmmmm. Abella malah asyik
tidur sambil mendengkur.” Kata Adriano dalam hati.
Kemudian Adriano pergi ke kamar
istrinya.
“Sayang biar aku yang gendong
Darel.” Kata Adriano.
“Semalam kamu tidur jam berapa?
Darel tidur jam berapa?” Tanya Abella.
“Darel baru tidur lagi tengah
malam, setelah itu aku baru tidur lagi di sofa. Sampai kapan kamu menyuruhku
tidur diluar sayang?” Tanya Adriano.
“Sampai aku mau memaafkan kamu,
cepat gendong Darel aku mau mandi dulu.” Kata Abella sambil menyerahkan anaknya
__ADS_1
ke Adriano.
“Jangan lama-lama mandinya.” Kata
Adriano.
“Jangan suka menyimpan rahasia
makanya.” Kata Abella.
“Maaf sayang maaf.” Kata Adriano.
“Kamu enak banget ya tinggal
bilang maaf saja, bagaimana denganku yang saat itu dia disampingku bahkan aku
satu kamar dengannya.” Kata Abella.
“Aku juga tidak tau kenapa bisa
jadi seperti itu sayang, aku akan segera menyelesaikan masalah ini sayang.”
Kata Adriano.
“Bagaimana caranya? Aku takut dia
akan mengulanginya kembali mas, aku takut tiba-tiba dia datang lagi menemuiku,
sepertinya dia sangat terobsesi denganku mas.” Kata Abella.
“Jangan khawatir, itu tidak akan
**
Adriano menemui ibunya.
“Ma dimana keberadaan Marcelo?”
Tanya Adriano.
“Mama tidak tau dimana dia
sekarang, sudahlah jangan pikirkan dia lagi.” Kata Anindya.
“Dia sangat membahayakan ma, dia
itu bahkan sengaja operasi plastic agar terlihat sangat mirip denganku.
Bagaimana jika dia menemui Abella dan Abella tidak bisa membedakannya. Dia
sangat mirip denganku ma dan dia juga terobsesi dengan Abella.” Kata Adriano.
“Seharusnya istrimu bisa
mengenali suaminya, bagaimana bisa dia tertipu dan tidak bisa mengenali
suaminya sendiri.” Kata Anindya.
“Mama jangan menyalahkan Abella.
__ADS_1
Bagaimana jika mama berada di posisi Abella, apakah mama bisa membedakannya?
Apalagi Abella juga tidak tau sama sekali tentang keberadaan Marcelo. Ayo kita
temui Marcelo ma dan aku ingin dia tidak menggangguku dan juga keluargaku.
Kalau perlu lebih baik dia tidak usah kembali lagi ke Indonesia untuk
selamanya.” Kata Adriano.
“Mama tidak tau dimana keberadaan
Marcelo saat ini. Mama akan menyuruh orang saja untuk mencari Marcelo.” Kata
Anindya.
“Ini semua karena mama dan papa
selalu egois karena kepentingan kalian sendiri, kalau saja mama dan papa
memperlakukan dia dengan baik pasti dia tidak akan balas dendam kepadaku.” Kata
Anindya.
“Asal kamu tau ya, mama mengusir
dia waktu itu juga demi kamu. Kalau saja dulu mama tidak mengusir dia dari
rumah kita, mama takut papa kamu akan menjadikan dia sebagai direktur di
tempatmu bekerja. Posisimu saat ini saja sudah di incar oleh Marcelo sialan
itu, dia bahkan menempuh pendidikan pilot untuk menggeser posisimu, bisa-bisa
dia akan menguasai perusahaan kita.” Kata Anindya.
“Saat itu aku memang sangat kesal
dengannya karena insiden itu, harusnya aku mencari kebenarannya terlebih dahulu
dengan bertanya kepada Amelina tapi sayang sekali aku kehilangan kontak
dengannya.” Kata Adriano.
“Tidak perlu mencari Amelina, dia
itu tidak berguna. Untuk apa kamu berteman dengan gadis miskin sepertinya.”
Kata Anindya.
“Kenapa mama bicara seperti itu,
apa jangan-jangan mama mengancam Amelina. Aku sebaiknya mencari keberadaan
Amelina saja.” Kata Adriano.
Kemudian dia menyuruh seseorang
untuk mencari keberadaan Amelina.
__ADS_1