
Marcelo
mengintip rumah ayahnya dari lubang pagar, kemudian dia melihat seorang anak
laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kemudian dia memanggil laki-laki
tersebut.
“Hei, hei kamu
yang disana tolong kemarilah.” Teriak Marcelo. Kemudian laki-laki tersebut
menghampiri Marcelo.
“Kamu siapa?
Kenapa kamu sangat mirip denganku?” Tanya Adriano.
“Aku Marcelo,
kamu?” Tanya Marcelo.
“Aku Adriano,
kamu siapa? Apakah kamu mengenalku?” Tanya Adriano.
“Aku akan segera
mengenalmu, aku ingin bertemu dengan ayahmu, apakah ayahmu ada dirumah?” Tanya
Marcelo.
“Ayahku sedang
bekerja, masuklah.” Kata Adriano membukakan pintu pagar rumahnya.
“Wah rumah
papaku sangat besar, aku ingin tinggal disini bersama papa.” Kata Marcelo dalam
hati.
“Masuklah, temui
ibuku dulu sebelum bertemu dengan ayahku. Nanti biar ibuku yang menyampaikan
kepada ayahku.” Kata Adriano mempersilahkan masuk Marcelo.
“Kamu sebenarnya
siapa? Kenapa kamu sangat mirip denganku padahal aku sama sekali tidak
mengenalmu. Apakah kita bersaudara?” Tanya Adriano.
“Apakah ayahmu
tidak pernah menceritakan sesuatu?” Tanya Marcelo.
“Tidak, siapa
kamu sebenarnya?” Tanya Adriano.
“Kita adalah
saudara makanya wajah kita sangat mirip bahkan seperti anak kembar. Aku adalah
kakakmu dan kamu adalah adikku, namun kita terlahir dari ibu yang berbeda.”
Kata Marcelo.
“Tidak mungkin,
jangan bicara sembarangan.” Kata Adriano.
“Aku tidak
bicara sembarangan, tanyakan sendiri pada ayahmu atau ibumu juga mengetahuinya
kok.” Kata Marcelo.
“Lalu apa
tujuanmu datang kesini?” Tanya Adriano.
“Tentu saja aku
ingin bertemu dengan ayah kandungku, aku sangat merindukannya karena dia sama
sekali tidak pernah mengunjungiku dan ibuku. Dimana dia?” Tanya Marcelo.
“Cepat pergi
dari sini dan jangan mencari keributan di rumahku.” Kata Adriano.
“Aku akan pergi
setelah bertemu dengan ayah kandungku.” Teriak Marcelo.
Tiba-tiba
datanglah Anindya, dia terkejut melihat Marcelo.
__ADS_1
“Kamu siapa?
Kenapa wajahmu sangat mirip dengan anakku?” Tanya Anindya.
“Aku Marcelo,
aku adalah anak dari bu Aira dan pak Dani. Dimana papaku sekarang?” Tanya
Marcelo.
“Apa? Berani
sekali dia datang kesini? Aira dasar kurang ajar kamu.” Kata Anindya.
“Ma apa benar
yang dikatakan oleh dia? Dia bilang kalau dia anaknya papa dari wanita lain?
Dia bahkan mengaku kalau dia kakakku. Apa benar itu semua ma? Tolong katakan
kalau itu tidak benar.” Tanya Adriano.
“Tentu saja
tidak benar, masuklah kedalam kamar biar mama yang mengatasi keributan ini.”
Kata Anindya.
Setelah Adriano
masuk kedalam kamar, Anindya menyeret keluar Marcelo.
“Lepaskan aku,
dimana papaku?” Tanya Marcelo.
“Jangan bermimpi
bisa bertemu dengan ayah kandungmu. Cepat pergi dari sini.” Bentak Anindya.
“Aku akan pergi
setelah melihat ayah kandungku, selama ini ayah kandungku tidak pernah
mengunjungiku. Jadi jangan menghalangiku untuk bertemu dengannya. Kamu adalah
perebut dan perusak hubungan ayah dan ibuku.” Kata Marcelo.
“Apa kamu
bilang? Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku, sekarang cepat keluar
dari rumahku dan jangan berani muncul di hadapanku lagi.” Kata Anindya sambil
“Dasar wanita
murahan dan tidak tau diri, pantaskah dirimu disebut dan dipanggil seorang ibu?
Kamu wanita yang sangat jahat, aku sangat membencimu.” Teriak Marcelo. Karena
kesal Anindya pun mendorong Marcelo hingga terjatuh.
Tiba-tiba
datanglah Dani.
“Ada apa ini?
Kamu tega sekali mendorong Adriano anak kita?” Kata Dani.
“Dia bukan
Adriano, dia adalah anaknya Aira. Wajahnya memang sangat sangat mirip dengan
Adriano mas. Cepat usir dia pergi dari rumah kita.” Kata Anindya.
“Apa? Tidak
mungkin.” Kata Dani syok.
“Papa.” Kata
Marcelo.
“Siapa nama
kamu?” Tanya Dani.
“Kamu apa-apaan
sih mas? Cepat usir dia dari sini.” Kata Anindya.
“Tapi dia juga
anakku.” Kata Dani sambil membantu Marcelo.
“Namaku Marcelo
pa, dulu mama pernah bilang kalau papa ingin memberikan nama itu padaku. Aku
sangat merindukan papa.” Kata Marcelo langsung memeluk Dani.
__ADS_1
Tentu saja
Anindya sangat marah dan berusaha untuk memisahkannya.
“Lepaskan, dia
bukan ayah kandungmu. Cepat pergi dari sini.” Kata Anindya.
“Kenapa kamu
sangat marah padaku? Apakah kamu merasa terancam dengan kehadiranku atau karena
anakmu memiliki wajah yang sangat mirip denganku? Aku tidak takut denganmu.”
Kata Marcelo dengan senyuman sinis.
“Apa kamu
bilang? Berani sekali kamu padaku ya.” Teriak Anindya.
“Cukup, biarkan
dia masuk terlebih dahulu. Kamu datang kesini untuk mencariku?” Tanya Dani.
“Tentu saja, aku
ingin bertemu dengan papa. Rumah papa sangat bagus, aku ingin tinggal bersama
papa. Tadi mama mengantarku kesini.” Kata Marcelo sambil memeluk Dani.
“Oh iya? Lalu
dimana mama kamu sekarang?” Tanya Dani.
“Mama pergi
bekerja pa untuk menghidupiku. Bolehkah aku tinggal disini bersama papa?” Tanya
Marcelo.
“Tidak boleh,
aku tidak mau dia disini mas.” Kata Anindya.
“Masuklah,
selama ini kamu telah melarangku untuk bertemu dengan anakku. Aku ingin bicara
berdua dengan anakku.” Kata Dani.
“Kurang ajar,
aku akan beri peritungan kepada Aira dan juga anaknya.” Kata Anindya dalam
hati.
**
Adriano
mengintip ayahnya yang sedang bersama Marcelo.
“Jadi dia adalah
saudaraku, kenapa dia sangat mirip denganku?” Tanya Adriano dalam hati.
“Sedang apa kamu
disini?” Tanya Anindya.
“Aku sedang
melihat papa bersama Marcelo. Jadi benar kalau dia adalah anak kandung papa?”
Tanya Adriano.
“Benar, maafkan mama
dan papa karena tidak menceritakan ini padamu.” Kata Anindya.
“Aku harus
menerima semua ini tapi aku tidak terima jika wajahku sangat mirip dengannya
ma, bagaimana jika dia akan menyamar sebagai diriku?” Tanya Adriano.
“Mama tidak akan
membiarkan hal itu terjadi, mama akan menyingkirkannya.” Kata Anindya.
“Mama akan
melindungiku kan?” Tanya Adriano.
“Tentu saja,
kamu jangan khawatir. Masuklah ke kamar, jangan sampai papa kamu tau.” Kata
Anindya.
Setelah itu
__ADS_1
Adriano masuk kedalam kamar.