Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 14


__ADS_3

Setibanya Abela didalam kamar.


“Dari mana mbak?” Tanya Stella.


“Dari bawah.” Kata Abela.


“Aku mencium aroma kopi, mbak Abela minum kopi? Bersama siapa?” Tanya Stella.


“Tidak, aku mau tidur.” Kata Abela.


“Jelas-jelas aku mencium aroma kopi setelah dia masuk kamar.” Kata Stella lirih.


Stella tertidur sedangkan Abela mencemaskan suaminya karena tidak bisa dihubungi. Dia pun tidak bisa tidur, apalagi teringat dengan perkataan Nando.


“Sial, aku jadi kepikiran dengan perkataan si Nando. Aku mau keluar dulu mencari udara segar.” Kata Abela.


“Mau kemana mbak?” Tanya Stella tiba-tiba.


“Aku tidak bisa tidur, aku ingin menghirup udara segar.” Kata Abela.


“Pakailah jaket mbak, udaranya semakin malam semakin dingin.” Kata Stella.


Namun Abela menghiraukan ucapan Stella, dia hanya mengenakan piyama tipis lalu keluar kamar, namun dia mendengar Arum sedang menelfon seseorang. Abela pun akhirnya menguping pembicaraan Arum. Ternyata Arum sedang menelfon suaminya.


“Kamu dimana sekarang? Apakah masih bersama wanita itu?” Tanya Arum.


“Maaf aku tidak bisa pulang ke rumah hari ini.” Kata suami Arum, sebut saja dia Adit.


“Jangan sampai anak-anak mengetahui kelakuan busukmu itu. Aku akan segera mengurus berkas surat perceraian kita dan anak-anak tidak boleh mengetahuinya.” Kata Arum.


“Secepat itukah kita harus berpisah, aku mohon pikirkan anak-anak.” Kata Adit.


“Apa kamu bilang? Memangnya kamu tidak memikirkan anak-anak saat bersama wanita itu? Kamu yang membuat keluarga ini hancur mas, tadi pagi putri hampir saja menemuimu ke tempat kerjamu namun aku melarangnya karena aku tidak ingin putri mengetahui kamu sedang bersama wanita itu. Jika kamu ingin bermesraan dengan wanita itu carilah tempat lain, jangan di tempat kerja, dasar tidak bermodal.” Kata Arum lalu dia menutup telfonnya. Kemudian Arum pergi ke kamarnya namun dia melihat Abela.

__ADS_1


“Abela, sedang apa kamu disini?” Tanya Arum kaget.


Tanpa berkata apa-apa, Abela langsung menghampiri Arum dan memeluknya.


“Semua akan baik-baik saja. Serahkan semuanya kepada Tuhan.” Bisik Abela. Arum pun menangis dipelukan Abela.


“Aku tidak sanggup lagi bertahan dengannya.” Kata arum sambil menangis.


“Aku tidak akan bertanya apapun kepadamu, tapi aku siap mendengarkan semua ceritamu kapanpun.” Kata Abela.


“Baiklah, tapi aku mohon jangan sampai menceritakan ceritaku ini kepada siapapun termasuk Stella. Saat ini hatiku benar-benar hancur namun aku harus kuat demi kedua anakku yaitu Putri dan Putra.” Kata Arum.


“Tentu saja, mereka berdua adalah segalanya untuk bu Arum. Jangan khawatir, aku akan menjaga rahasia ini. Sekarang lebih baik bu Arum istirahat ya, bu Arum tidak boleh sakit demi Putri dan Putra.” Kata Abela.


“Iya, jaga dirimu juga keluargamu. Jangan sampai apa yang terjadi kepadaku menimpamu. Jangan mempercayai laki-laki 100%. Itu kesalahanku karena mempercayainya 100% dan selalu mengutamakan dirinya dibandingkan anak-anakku. Pada akhirnya anak-anak selalu bersikap sopan kepada ayahnya dan menghormatinya tapi bagaimana jika mereka mengetahui kelakuan ayahnya, aku tidak sanggup membayangkan betapa kecewanya Putri dan Putra.” Kata Arum.


“Perlahan mereka akan mengetahuinya, dan bu Arum lah orang yang selalu bisa menguatkan mereka berdua. Serahkan semuanya kepada Tuhan, aku yakin cobaan yang menimpa bu Arum akan segera menemukan titik terang dan semuanya akan kembali dengan baik.” Hibur Abela.


“Tidak bisa, aku dan dia tidak akan bisa kembali seperti semula. Ibarat gelas yang pecah tidak akan bisa diperbaiki lagi.” Kata Arum.


“Mereka akan menikah dan tinggal bersama.” Kata Arum.


“Apakah wanita itu sekretaris suami bu Arum yang saat itu?” Tanya Abela.


“Bukan, dia adalah seorang selebgram yang saat ini sedang naik daun.” Kata Arum.


“Apa? Bagaimana mungkin seorang selebgram menyukai laki-laki beristri padahal dia pasti masih muda kan. Bagaimana jika berita ini muncul? Pasti karir dia juga akan terkena imbas.” Kata Abela.


“Sepertinya dia bahkan ingin mengungkapkan rencana pernikahan mereka.” Kata Arum.


“Apakah suami bu Arum yang meminta untuk berpisah?” Tanya Abela.


“Dia tidak ingin berpisah karena alasan anak-anak, tapi aku yang selalu mendesaknya. Wanita mana yang sanggup bertahan?” Kata Arum.

__ADS_1


“Aku bisa membantu bu Arum dalam hal apapun, bahkan jika bu Arum ingin aku melabrak wanita itu juga aku siap kok.” Kata Abela.


“Jangan lakukan hal seperti itu, cukup jadilah pendengar keluh kesahku.” Kata Arum.


“Aku benar-benar kesal dengan mereka berdua. Bolehkah aku bertanya siapa wanita itu?” Tanya Abela.


“Aku tidak bisa mengungkapkan identitas wanita itu karena suamiku melarangku.” Kata Arum.


“Apa? Lalu bu Arum menurutinya begitu saja. wah suami bu Arum benar-benar kurang ajar, dia tega sekali menyakiti bu Arum seperti ini. Aku tidak rela melihat bu Arum terluka seperti ini.” Kata Abela kesal.


“Sudah sudah, ini masalahku. Aku akan kembali ke kamar, kamu juga cepat kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah.” Kata Arum lalu pergi masuk kedalam kamar sedangkan Abela pergi ke lantai 1 untuk membeli minum. Setibanya di lantai 1.


“Mau minum ya?” Tanya Nando tiba-tiba.


“Astaga kamu lagi, kamu sedang mengikutiku ya?” Tanya Abela.


“Aku berencana untuk meminta maaf kepadamu.” Kata Nando.


“Tunggu, apa jangan-jangan kamu mendengar pembicaraanku dengan bu Arum?” Tanya Abela.


“Tanpa sengaja aku mendengarnya.” Kata Nando.


“Oh My God, ikut aku sekarang juga.” Kata Abela, Abela mengajak Nando ke suatu tempat.


“Ada apa?” Tanya Nando.


“Sebelumnya aku minta maaf karena mungkin sikapku agak kasar terhadap bapak. Tapi tolong jangan beritahu semua cerita bu Arum kepada siapapun. Anggap saja bapak Nando tidak mendengar apapun. Aku mohon kepada pak Nando.” Kata Abela.


“Jangan khawatir, aku bisa menjaga rahasia ini kok. Sebaiknya khawatirkan dirimu dan keluargamu.” Kata Nando.


“Lebih baik tidak usah ikut campur dengan masalah pribadiku.” Kata Abela.


“Aku hanya mengatakan ini demi kebaikanmu.” Kata Nando.

__ADS_1


“Memangnya apa yang kamu ketahui tentang aku dan keluargaku? Bahkan sebelumnya aku tidak mengenal bapak. Jangan ikut campur dengan masalah hidupku.” Kata Abela.


“Baiklah.” Kata Nando.


__ADS_2