
Hari itu Nadia pergi ke sekolah Kevia, dia berencana untuk mencari informasi melalui Kevia. Sesampainya di sekolah Kevia, dia pun segera menunggu Kevia di gerbang sekolah dan tak lama kemudian dia melihat Kevia, Nadia pun langsung menghampiri Kevia.
“Hai Kevia.” Sapa Nadia.
“Tante Nadia, ada apa tante disini?” Tanya Kevia yang berusaha untuk bersikap tenang.
“Kebetulan tante lewat depan sekolahmu, kamu dijemput siapa? Tante antar pulang yuk, sekalian tante juga mau bertemu dengan mama kamu.” Kata Nadia.
“Aku pulang sama supir, permisi tante aku pulang dulu.” Kata Kevia namun Nadia mencegah Kevia.
“Tunggu Kevia, kita ke kafe depan yuk. Tante butuh seorang teman curhat untuk bercerita, kamu tau sendiri kan kalau tante kesepian sekali setelah kepergian om Fardan.” Kata Nadia.
“Tapi aku masih anak sekolah tante, aku tidak bisa menjadi teman curhat tante.” Kata Kevia.
“Cukup temani tante saja, ayo ikut dan temani tanta ke kafe depan. Nanti pulangnya biar tante antar saja.” Kata Nadia.
“Aduh bagaimana ini, jika aku menolak aku takut tante Nadia akan menaruh curiga kepadaku dan mama, tapi kalau aku ikut aku juga takut dia akan bertanya-tanya kepadaku tentang om Fardan. Apa yang harus aku lakukan ini?” Tanya Kevia dalam hati.
“Ayo Kevia ikut tante.” Ajak Nadia dan akhirnya Kevia pun menuruti kemauan Nadia dengan ikut pergi ke kafe.
Di kafe.
__ADS_1
Nadia segera memesan makanan dan minuman.
“Tante aku minum saja sudah cukup.” Kata Kevia.
“Kamu tidak lapar memangnya?” Tanya Nadia.
“Aku sebentar saja tante, nanti pasti mama akan mencariku.” Kata Kevia.
“Kalau begitu beritahu mama kamu kalau kamu sedang bersama dengan tante.” Kata Nadia.
“Ah tidak perlu tante, kebetulan aku sudah kenyang jadi aku pesan minum saja.” Kata Kevia.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Nadia.
“Tante sekarang benar-benar kesepian, tante tidak punya siapa-siapa lagi.” Kata Nadia.
“Memangnya tante tidak punya orang tua atau saudara kandung? Atau mungkin teman dekat?” Tanya Kevia.
“Tidak punya, teman dekat tante bahkan mengkhianati tante padahal tante sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, ternyata dia menikung tante dari belakang.” Kata Nadia.
“Sabar ya tante, mungkin ini ujian buat tante. Kenapa tante tidak mencoba membuka usaha bisnis atau bekerja di tempat lain atau mungkin pindah ke kota lain?” Tanya Kevia.
__ADS_1
“Belum, karena urusan tante belum tuntas disini. Entah kenapa tante merasa bahwa om Fardan masih ada di sekitar sini, tante merasa kematian om Fardan penuh dengan misteri apalagi pihak polisi menutup kasus kematian om Fardan, maka dari itu tante ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Nadia.
“Tapi tante juga harus ikhlas agar om Fardan bisa tenang, aku yakin pasti om Fardan juga sedih jika melihat tante sedih terus seperti ini.” Kata Kevia.
“Sebenarnya tante sejak lama menaruh curiga kepada seseorang.” Kata Nadia.
“Curiga apa tante?” Tanya Kevia.
“Tante curiga ada seseorang yang tidak suka dengan om Fardan lalu dia membunuh om Fardan.” Kata Nadia.
“Jangan berburuk sangka tante, tante juga tidak seharusnya berpikir seperti itu, lebih baik kita doakan saja yang terbaik untuk om Fardan agar tenang.” Kata Kevia.
“Apakah kamu tidak pernah mencurigai sesuatu kepada ibumu?” Tanya Nadia.
“Maksud tante apa?” Tanya Kevia.
Kemudian Nadia mengeluarkan sesuatu dari tasnya yaitu sebuah buku berisi lembaran hasil lukisan mendiang suaminya.
“Lihat lukisan ini, bukankah ini mirip dengan sketsa wajah ibumu? Buku ini adalah milik mendiang om Fardan, bahkan dia menuliskan sebuah inisial nama yaitu T, bukankah T itu adalah Tiara ibumu, tante curiga bahwa ibumu ada hubungan khusus dengan mendiang suami tante.” Kata Nadia.
“Aku tidak yakin bahwa ibuku memiliki hubungan khusus dengan mendiang om Fardan, lagipula itu hanya sebuah inisial huruf saja yang bisa saja itu memiliki arti lain, mama dan papa itu saling menyayangi jadi tidak mungkin mama mengkhianati papa hanya demi seseorang seperti om Fardan, permisi aku pergi dulu tante, terima kasih atas minumannya.” Kata Kevia yang terbawa emosi dan dia langsung pergi melarikan diri. Sedangkan Nadia tersenyum melihat Kevia.
__ADS_1
“Sepertinya dia terbawa emosi, bagus Kevia kamu mulai terpancing.” Kata Nadia dalam hati.