
Daniel menelfon istrinya.
“Hallo sayang, kamu sudah bertemu dengan Kevia?” Tanya Daniel.
“Sudah, kenapa kamu tidak bilang kepadaku kalau ternyata kamu di Singapire sekarang? Kamu anggap aku apa sih mas sebenarnya? Aku benar-benar sangat kesal denganmu, selama ini aku sabar dengan perlakuan ibumu dan aku juga bisa memahami kesibukanmu sampai kamu jarang sekali memperhatikanku mas.” Kata Tiara sangat kesal.
“Bukan begitu sayang, terlalu panjang untuk aku jelaskan kepadamu sayang.” Kata Daniel.
“Tapi aku istrimu mas, aku harus jadi orang pertama yang mengetahui apapun yang kamu lakukan, justru ibu yang memberitahuku. Memang seberapa penting urusan di Singapore mas? Kamu saja menelantarkanku disini.” Kata Tiara.
“Bukan begitu, ok baiklah nanti akhir pekan aku akan terbang kesana untuk menemuimu ya.” Kata Daniel.
“Aku harap kamu menepati perkataanmu kali ini mas.” Kata Tiara lalu menutup telfonnya.
“Lihat saja nanti saat kita bertemu mas, aku akan memarahimu.” Kata Tiara.
Kemudian Tiara pergi berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Dia mampir ke sebuah kafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
“Wah kafenya bagus sekali ya, hmmmm mumpung aku disini apalagi mas Daniel tidak ada lebih baik aku gunakan kartu kreditnya dengan sebaik mungkin, aku akan belanja sebanyak mungkin selama tinggal disini.” Kata Tiara.
“Selamat datang, ada yang bisa dibantu?” Tanya pelayan kafe.
“Iya saya mau pesan, Nadia?” Tanya Tiara.
“Tiara? Astaga apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu.” Kata Nadia lalu langsung memeluk Tiara.
“Aku juga merindukanmu, pertemuan kita ini benar-benar tak terduga ya.” Kata Tiara.
“Tunggu sebentar ya, sebentar lagi aku akan pergantian shift. Bisakah kamu menungguku sebentar? Setelah itu aku free dan kita bisa saling bercerita.” Kata Nadia.
“Ok aku akan menunggumu.” Jawab Tiara.
**
Tiara mengajak Nadia ke tempat tinggalnya.
“Ayo masuklah.” Ajak Tiara.
“Jadi kamu tinggal di gedung apartemen ini? Wah ini sangat mewah sekali loh.” Kata Nadia.
“Hehehe ayo cepat masuk, diluar kan sangat dingin.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Ah iya diluar sangat dingin memang.” Kata Nadia.
“Duduklah dulu, aku akan membuatkanmu minuman hangat ya. Oh iya pasti kamu belum makan kan? Kita makan sama-sama ya.” Kata Tiara.
“Biar aku bantu juga ya, aku kan tidak enak kalau hanya duduk sambil menunggu.” Kata Nadia.
“Ok baiklah. Oh iya kamu tinggal dimana? Kamu masih sama pacarmu yang waktu itu?” Tanya Tiara.
“Tentu saja, aku dan dia berencana akan menikah tahun depan.” Kata Nadia.
“Benarkah? Wah aku turut bahagia mendengarnya. Itu rencana kalian berdua kan?” Tanya Tiara.
“Itu rencanaku tapi aku yakin pasti dia juga akan setuju.” Kata Nadia.
“Lalu kalian berdua akan tinggal disini atau bagaimana?” Tanya Tiara.
“Sepertinya begitu karena dia juga bekerja di sebuah galeri seni, sekarang dia adalah seorang seniman. Dia sibuk dengan melukis, melukis pemandangan dan apapun yang menurut dia menarik dan unik.” Kata Nadia.
“Sepertinya kamu sangat menyukainya ya.” Kata Tiara.
“Tentu saja, dia segalanya bagiku. Oh iya suami dan anakmu dimana?” Tanya Nadia.
“Sebisa mungkin tinggallah bersama dalam satu rumah agar hubungan kalian selalu dekat dan tidak saling mencurigai satu sama lain.” Kata Nadia.
“Kamu tau sendiri kan kalau ibu mertuaku selalu mengaturku dan keluargaku.” Kata Tiara.
“Sabar ya, oh iya pasti kamu akan sangat kesepian kalau sendiri disini. Bagaimana kalau kamu mulai belajar lagi melukis? Ya anggap saja mengisi kesibukan, bagaimana mau tidak? Kalau kamu mau, di tempat pacarku bekerja saja belajarnya.” Kata Nadia.
“Aku mau, mau banget malah. Tapi aku ingin kamu yang mengajariku, kalau bisa datanglah kerumahku saja.” Kata Tiara.
“Setuju.” Jawab Nadia.
“Ah senang sekali rasanya bisa bertemu denganmu, aku iri sekali denganmu.” Kata Tiara.
“Iri kenapa memangnya? Kamu kan punya segalanya.” Kata Nadia.
“Kamu orangnya sangat periang, baik hati, seorang pelukis lagi dan seakan tidak terbebani dengan hidup. Sangat berbeda denganku, aku setiap hari merasa kesepian bahkan jauh dari orang-orang tersayangku.” Kata Tiara.
“Jangan bicara begitu, setelah ini aku akan mendaftarkanmu ya untuk melukis. Tapi besok datanglah ke kantornya ya, nanti disana temui saja pacarku nanti kamu bisa bertanya-tanya apa saja yang kamu ingin tanyakan. Setelah itu, barulah tugasku untuk mengajarimu deh.” Kata Nadia.
“Terima kasih, bolehkah aku menganggapmu seperti saudaraku?” Tanya Tiara.
__ADS_1
“Haha tentu saja boleh, my sister.” Kata Nadia.
Info :
Hai hai semuanya, mampir yuk ke cerita novelku yang baru, judulnya Seoul in Love.
Ceritanya lucu, ringan, komedi romantis, romansa modern anak muda dan pastinya bakal dibikin tertawa di setiap episodenya karena kelucuan di setiap karakternya, bahkan dibikin baper juga loh. Yuk mampir, ditunggu banget like dan komentarnya ya biar author makin semangat buat update novel2 author.
Nih aku kasih spoilernya ya
Jinwo tiba didepan gedung apartemen Velina. Kemudian Jinwo menelfon Velina.
“Aku sudah didepan.” Kata Jinwo.
“Gawat sayang.” Kata Velina.
“Ada apa memangnya?” Tanya Jinwo.
“Sebenarnya aku malu untuk bilang sayang tapi memang ini sangat gawat.” Kata Velina sambil setengah menangis.
“Ada apa? Aku kesana ya.” Kata Jinwo.
“Dalamanku habis sayang, aku lupa belum mencuci pakaian dalamku. Semua pakaian dalamku masih belum kering, masih lembab karena baru tadi aku jemur.” Kata Velina.
“Astaga aku kira kenapa, berarti kamu tidak memakai apa-apa sekarang? Aku kesana sekarang ya.” Kata Jinwo dengan penuh semangat. -Eps15-
“Dasar cewek paling bisa kalau bicara ya, di tempat yang biasa kita kesana itu sedang tutup, lalu aku ke tempat lain tapi kamu bilang harus di tempat itu akhirnya aku cari di cabang lain hmmmmm, melelahkan juga ya punya pacar sepertimu, aku kesana kemari kelelahan loh dan setibanya disini kamu hanya butuh makanan hmmmmm, untung ya aku ini sabar, baik hati, tampan dan tak ada duanya.” Kata Jinwo yang membuat Velina tertawa.
“Hehehehe maaf sayang.” Kata Velina lalu memeluk Jinwo.
“Peluk saja ya kurang lah.” Goda Jinwo.
“Nikahi aku dulu kalau mau semuanya. Tunggu dulu, aku kalau menikah nanti suamiku harus sunat karena memang seperti itu keyakinanku dan dalam medis juga sangat dianjurkan, kamu sudah sunat belum jerapah?” Tanya Velina.
“Sunat? Maksud kamu pemotongan itu ya? Aku sudah sunat belum ya? Coba kamu cek, sudah atau belum?” Tanya Jinwo.
“Cepat buka celanamu kalau begitu. Kalau belum sunat, aku punya pisau khusus daging.” Kata Velina.
“Dasar g*bl*k, tentu saja sudah. Laki-laki di Korea juga banyak yang sunat karena memang dalam medis juga dianjurkan. Kamu mau memotongnya lagi? Bisa-bisa buntung dong, hilang sudah aset berhargaku, kalau hilang aset berhargaku lebih baik aku debut saja jadi idol Korea.” Kata Jinwo yang membuat tertawa terbahak-bahak.
-epsd13-
__ADS_1