Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Episode 134


__ADS_3

Abella pergi ke suatu tempat


untuk membeli keperluan anaknya di supermarket. Setelah selesai berbelanja,


tiba-tiba ada seseorang yang menariknya sambil menutup matanya. Abella


berteriak untuk meminta tolong namun mulutnya dibungkam, kemudian orang


tersebut memasukkannya kedalam mobil. Setelah itu tangan Abella di ikat begitu


juga dengan kakinya.


“Marcelo?” Tanya Abella.


“Hai, kita bertemu kembali.” Kata


Marcelo.


“Lepaskan aku, dasar brengsek.”


Kata Abella.


“Hahaha tidak semudah itu, aku


akan membawamu pergi ke suatu tempat. Disana kita bisa tinggal bersama


selamanya.” Kata Marcelo.


“Jangan pernah berharap dan


bermimpi untuk bisa memilikiku. Dasar brengsek kurang ajar.” Kata Abella sambil


meludah yang mengenai wajah Marcelo. Hal ini membuat Marcelo sangat marah,


kemudian dia menjambak rambut Abella dengan sangat keras hingga membuat Abella


kesakitan.


“Auuuuu lepaskan.” Kata Abella.


“Semakin kamu berusaha melawanku


maka semakin besar pula penderitaan yang akan di alami oleh suami dan anakmu


tercinta.” Ancam Marcelo.


“Jika kamu ada masalah dengan


suamiku maupun keluarga suamiku silahkan berurusan dengan mereka, jangan pernah


melibatkan aku apalagi anakku. Turunkan aku sekarang juga.” Bentak Abella.


“Jangan memarahiku seperti itu,


hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan keadilan dari


keluargaku.” Kata Marcelo.


“Tapi tindakanmu salah, lebih


baik temui pak Dani dan bu Anindya lalu ungkapkan semuanya. Aku adalah istri


adikmu yang juga adik iparmu. Apakah kamu mau melukaiku dan anakku? Aku sama


sekali tidak takut dengan ancamanmu karena aku tidak di posisi salah.” Kata Abella.


“Diam, diam aku tidak ingin


mendengar semua nasihatmu.” Kata Marcelo.


“Aku juga pernah merasakan hal


yang sama denganmu jadi aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini.” Kata


Abella.


“Apa maksudmu?” Tanya Marcelo.


“Adriano menceritakan semua

__ADS_1


tentangmu kepadaku.” Kata Abella.


“Lalu apa maksudmu pernah merasakan


hal yang sama denganku?” Tanya Marcelo.


“Aku juga ditelantarkan oleh


orang tuaku bahkan kedua orang tuaku sejak kecil, aku mengalami kekerasan juga


yang dilakukan oleh ayahku sendiri. Beruntungnya aku masih memiliki kakek dan


nenek yang sangat menyayangiku melebihi apapun. Aku saat itu sangat kecewa


dengan apa yang dilakukan oleh orang tuaku, mereka pergi meninggalkanku begitu


saja, aku bisa apa saat itu, meskipun semakin hari semakin aku membenci mereka


namun kakek dan nenekku selalu menyuruhku untuk merelakan dan mengikhlaskan


mereka pergi. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah bertemu mereka kembali. Kapan


hari aku bertemu dengan ibuku namun apa yang terjadi, dia justru semakin membenciku


dan menyuruhku untuk pergi. Hatiku sangat hancur namun aku berpikir jika aku


semakin memiliki dendam kepada seseorang maka aku sendiri yang akan merugi. Aku


tersadar meskipun orang tuaku tidak menginginkanku tapi setidaknya mereka telah


melahirkanku menjadi seorang wanita yang tegar dan cukup cantik kan bukan


sehingga membuat Adriano terpikat denganku. Setidaknya mereka membiarkanku


menikmati hidup ini. Pikirkan baik-baik yang akan kamu lakukan, kamu tentu


tidak ingin dirugikan kan? Meskipun saat ini kamu sangat dendam dengan mereka,


cobalah ingat kebaikan mereka meskipun hanya sedikit saja.” Kata Abella sambil


membesarkan hati Marcelo.


mendapatkan keadilan dari mereka.” Kata Marcelo sambil meneteskan air mata.


“Pinggirkan mobilnya sebentar.” Kata


Abella.


“Kamu mau mencoba untuk kabur ya?”


Tanya Marcelo.


“Tidak, aku khawatir dengan


nyawaku karena kondisimu kacau seperti ini. Biar aku yang mengemudi, aku akan


membawamu ke tempat yang cukup menenangkan.” Kata Abella.


“Apakah aku bisa mempercayaimu


setelah apa yang aku lakukan padamu?” Tanya Marcelo.


“Aku tau kamu masih memiliki hati


jadi aku tidak takut, dan aku yakin kamu tidak akan membahayakanku.” Kata Abella.


Akhirnya Abella yang mengemudikan


mobil Marcelo, dia menuju ke sebuah tempat yang bisa menjernihkan pikiran


Marcelo.


**


Mereka tiba di sebuah taman dekat


sungai yang udaranya sangat sejuk.


“Turunlah.” Kata Abella.

__ADS_1


“Kamu membawaku ke tempat ini?


Kamu mau mendorongku ke sungai?” Tanya Marcelo.


“Tentu saja, cepat turun.” Kata Abella.


Akhirnya mereka berdua turun, Abella


diam-diam mengirim pesan kepada suaminya bahwa dia baik-baik saja dan sedang


bertemu dengan Marcelo. Abella juga mengirimkan lokasinya kepada suaminya.


“Kenapa kamu membawaku ke tempat


ini?” Tanya Marcelo.


“Udara disini sangat sejuk, kalau


aku sedang suntuk dan stress biasanya aku akan datang kesini untuk menjernihkan


pikiranku.” Kata Abella. Kemudian Marcelo berteriak sekencang mungkin.


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


“Sudah enak belum suasana hatimu?”


Tanya Abella.


“Aku tidak tau apa yang harus aku


lakukan, aku memang datang kesini untuk menghancurkan keluarga papaku tapi aku


aku juga bingung.” Kata Marcelo. Kemudian Abella menenangkan Marcelo sambil


menggenggam tangannya.


“Lupakan balas dendam dan cobalah


untuk memperbaiki diri, percuma kamu akan membuang-buang waktu dan kamu sendiri


yang akan rugi.” Kata Abella.


Tiba-tiba Marcelo berlari ke arah


sungai untuk menceburkan dirinya. Abella pun mengejarnya untuk menghentikan


Marcelo.


“Jangan mendekat, aku ingin pergi


dan menemui ibuku.” Kata Marcelo.


“Jangan lakukan hal bodoh,


kemarilah. Masih banyak orang yang peduli dan menyayangimu.” Kata  Abella sambil mengulurkan tangannya.


“Aku tidak punya siapa-siapa


lagi, jadi untuk apa aku hidup di dunia ini.” Kata Marcelo.


“Kamu masih punya keluarga, cepat


kemarilah.” Kata Abella.


“Pergilah, suami dan anakmu pasti


menunggumu. Lupakan dan ikhlaskan saja aku. Tapi aku titip pesan kepada


suamimu, tolong maafkan aku.” Kata Marcelo.


“Jangan, aku mohon jangan lakukan


itu. Cepat kemarilah.” Kata Abella.


“Maafkan aku, semoga kamu hidup


bahagia bersama suami dan anakmu. Tolong maafkan aku.” Kata Marcelo, akhirnya


Marcelo pun melompat ke sungai.

__ADS_1


__ADS_2