
Abella pergi ke suatu tempat
untuk membeli keperluan anaknya di supermarket. Setelah selesai berbelanja,
tiba-tiba ada seseorang yang menariknya sambil menutup matanya. Abella
berteriak untuk meminta tolong namun mulutnya dibungkam, kemudian orang
tersebut memasukkannya kedalam mobil. Setelah itu tangan Abella di ikat begitu
juga dengan kakinya.
“Marcelo?” Tanya Abella.
“Hai, kita bertemu kembali.” Kata
Marcelo.
“Lepaskan aku, dasar brengsek.”
Kata Abella.
“Hahaha tidak semudah itu, aku
akan membawamu pergi ke suatu tempat. Disana kita bisa tinggal bersama
selamanya.” Kata Marcelo.
“Jangan pernah berharap dan
bermimpi untuk bisa memilikiku. Dasar brengsek kurang ajar.” Kata Abella sambil
meludah yang mengenai wajah Marcelo. Hal ini membuat Marcelo sangat marah,
kemudian dia menjambak rambut Abella dengan sangat keras hingga membuat Abella
kesakitan.
“Auuuuu lepaskan.” Kata Abella.
“Semakin kamu berusaha melawanku
maka semakin besar pula penderitaan yang akan di alami oleh suami dan anakmu
tercinta.” Ancam Marcelo.
“Jika kamu ada masalah dengan
suamiku maupun keluarga suamiku silahkan berurusan dengan mereka, jangan pernah
melibatkan aku apalagi anakku. Turunkan aku sekarang juga.” Bentak Abella.
“Jangan memarahiku seperti itu,
hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan keadilan dari
keluargaku.” Kata Marcelo.
“Tapi tindakanmu salah, lebih
baik temui pak Dani dan bu Anindya lalu ungkapkan semuanya. Aku adalah istri
adikmu yang juga adik iparmu. Apakah kamu mau melukaiku dan anakku? Aku sama
sekali tidak takut dengan ancamanmu karena aku tidak di posisi salah.” Kata Abella.
“Diam, diam aku tidak ingin
mendengar semua nasihatmu.” Kata Marcelo.
“Aku juga pernah merasakan hal
yang sama denganmu jadi aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini.” Kata
Abella.
“Apa maksudmu?” Tanya Marcelo.
“Adriano menceritakan semua
__ADS_1
tentangmu kepadaku.” Kata Abella.
“Lalu apa maksudmu pernah merasakan
hal yang sama denganku?” Tanya Marcelo.
“Aku juga ditelantarkan oleh
orang tuaku bahkan kedua orang tuaku sejak kecil, aku mengalami kekerasan juga
yang dilakukan oleh ayahku sendiri. Beruntungnya aku masih memiliki kakek dan
nenek yang sangat menyayangiku melebihi apapun. Aku saat itu sangat kecewa
dengan apa yang dilakukan oleh orang tuaku, mereka pergi meninggalkanku begitu
saja, aku bisa apa saat itu, meskipun semakin hari semakin aku membenci mereka
namun kakek dan nenekku selalu menyuruhku untuk merelakan dan mengikhlaskan
mereka pergi. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah bertemu mereka kembali. Kapan
hari aku bertemu dengan ibuku namun apa yang terjadi, dia justru semakin membenciku
dan menyuruhku untuk pergi. Hatiku sangat hancur namun aku berpikir jika aku
semakin memiliki dendam kepada seseorang maka aku sendiri yang akan merugi. Aku
tersadar meskipun orang tuaku tidak menginginkanku tapi setidaknya mereka telah
melahirkanku menjadi seorang wanita yang tegar dan cukup cantik kan bukan
sehingga membuat Adriano terpikat denganku. Setidaknya mereka membiarkanku
menikmati hidup ini. Pikirkan baik-baik yang akan kamu lakukan, kamu tentu
tidak ingin dirugikan kan? Meskipun saat ini kamu sangat dendam dengan mereka,
cobalah ingat kebaikan mereka meskipun hanya sedikit saja.” Kata Abella sambil
membesarkan hati Marcelo.
mendapatkan keadilan dari mereka.” Kata Marcelo sambil meneteskan air mata.
“Pinggirkan mobilnya sebentar.” Kata
Abella.
“Kamu mau mencoba untuk kabur ya?”
Tanya Marcelo.
“Tidak, aku khawatir dengan
nyawaku karena kondisimu kacau seperti ini. Biar aku yang mengemudi, aku akan
membawamu ke tempat yang cukup menenangkan.” Kata Abella.
“Apakah aku bisa mempercayaimu
setelah apa yang aku lakukan padamu?” Tanya Marcelo.
“Aku tau kamu masih memiliki hati
jadi aku tidak takut, dan aku yakin kamu tidak akan membahayakanku.” Kata Abella.
Akhirnya Abella yang mengemudikan
mobil Marcelo, dia menuju ke sebuah tempat yang bisa menjernihkan pikiran
Marcelo.
**
Mereka tiba di sebuah taman dekat
sungai yang udaranya sangat sejuk.
“Turunlah.” Kata Abella.
__ADS_1
“Kamu membawaku ke tempat ini?
Kamu mau mendorongku ke sungai?” Tanya Marcelo.
“Tentu saja, cepat turun.” Kata Abella.
Akhirnya mereka berdua turun, Abella
diam-diam mengirim pesan kepada suaminya bahwa dia baik-baik saja dan sedang
bertemu dengan Marcelo. Abella juga mengirimkan lokasinya kepada suaminya.
“Kenapa kamu membawaku ke tempat
ini?” Tanya Marcelo.
“Udara disini sangat sejuk, kalau
aku sedang suntuk dan stress biasanya aku akan datang kesini untuk menjernihkan
pikiranku.” Kata Abella. Kemudian Marcelo berteriak sekencang mungkin.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
“Sudah enak belum suasana hatimu?”
Tanya Abella.
“Aku tidak tau apa yang harus aku
lakukan, aku memang datang kesini untuk menghancurkan keluarga papaku tapi aku
aku juga bingung.” Kata Marcelo. Kemudian Abella menenangkan Marcelo sambil
menggenggam tangannya.
“Lupakan balas dendam dan cobalah
untuk memperbaiki diri, percuma kamu akan membuang-buang waktu dan kamu sendiri
yang akan rugi.” Kata Abella.
Tiba-tiba Marcelo berlari ke arah
sungai untuk menceburkan dirinya. Abella pun mengejarnya untuk menghentikan
Marcelo.
“Jangan mendekat, aku ingin pergi
dan menemui ibuku.” Kata Marcelo.
“Jangan lakukan hal bodoh,
kemarilah. Masih banyak orang yang peduli dan menyayangimu.” Kata Abella sambil mengulurkan tangannya.
“Aku tidak punya siapa-siapa
lagi, jadi untuk apa aku hidup di dunia ini.” Kata Marcelo.
“Kamu masih punya keluarga, cepat
kemarilah.” Kata Abella.
“Pergilah, suami dan anakmu pasti
menunggumu. Lupakan dan ikhlaskan saja aku. Tapi aku titip pesan kepada
suamimu, tolong maafkan aku.” Kata Marcelo.
“Jangan, aku mohon jangan lakukan
itu. Cepat kemarilah.” Kata Abella.
“Maafkan aku, semoga kamu hidup
bahagia bersama suami dan anakmu. Tolong maafkan aku.” Kata Marcelo, akhirnya
Marcelo pun melompat ke sungai.
__ADS_1