
Jam istirahat.
Tiara menghampiri Kevia ke kelasnya.
“Kevia.” Panggil Tiara.
Kevia pun segera mengajak ibunya ke taman dekat kantin.
“Pelan-pelan dong sayang jalannya, makan siang bersama mama yuk.” Kata Tiara.
“Mama kenapa sih harus pergi ke kelasku? Mama ingin memberitahu kepada semua teman dikelasku kalau aku adalah cucu dari pemilik yayasan sekolah ini? Benar kata nenek memang mama tidak bisa melakukan apapun untuk keluarga, hanya bisa membebani keluarga saja. Apa yang bisa mama lakukan atas hal ini? Apakah mama hanya bisa meminta maaf sambil memohon ke guru BK ku itu? Itu sama saja dengan memalukan diri sendiri dan nama baik keluarga nenek didepan guruku. Bahkan saat aku membutuhkan kedatangan mama secepatnya, justru nenek dan papa yang datang terlebih dahulu untuk Kevia? Sebenarnya mama sayang dan peduli tidak sih denganku?” Tanya Kevia.
“Seharusnya mama yang marah kepadamu bukannya kamu yang marah kepada mama? Jalanan tadi sangat macet sehingga mama terlambat datang ke sekolah, lalu kamu pikir semua masalah akan selesai tanpa ada kata maaf? Apakah kamu tidak merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan? Bagaimana mungkin seorang siswa SMP melakukan hal memalukan didalam lingkungan sekolah hah? Selama ini mama cukup sabar dalam mendidikmu, mama pikir jika mama sedikit memberimu kebebasan maka kamu bisa menjadi jauh lebih baik tapi apa hasilnya kamu justru memalukan nama baik keluarga, kamu yang membuat malu keluarga bukannya mama.” Kata Tiara.
“Seharusnya mama bisa mengerti kenapa aku bisa seperti ini, lagipula apakah salah jika dua orang saling mencintai? Apakah mama tidak pernah mengalami hal yang pernah aku alami?” Bentak Kevia.
“Tentu saja mama pernah tapi setidaknya mama tau batasan, kamu bahkan masih SMP bagaimana mungkin kamu melakukan hal memalukan seperti itu sih Kevia?” Kata Tiara.
“Apa mama bilang? Mama bilang batasan? Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepada mama.” Kata Kevia langsung pergi meninggalkan ibunya.
“Kevia Kevia.” Panggil Tiara tapi anaknya justru berlari meninggalkannya.
“Astaga kenapa sih dia jadi sangat susah diatur. Pasti ini ulah ibu, seharusnya aku melarang kedua anakku untuk sering menginap dirumah ibu.” Gerutu Tiara.
Setelah itu dia kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
Namun saat diperjalanan suaminya menelfon.
“Hallo mas, aku perjalanan pulang ke rumah.” Kata Tiara.
“Ibu menyuruh kita nanti malam ke rumahnya, dia bilang ingin makan malam bersama. Kak Sarah dan suaminya juga datang.” Kata Daniel.
“Bisakah aku tidak datang sekali saja mas? Ada yang harus aku lakukan, ini terkait di galeri soalnya mas. Ada sedikit masalah jadi aku harus segera menyelesaikannya.” Kata Tiara.
“Baiklah kalau begitu, setelah ini aku akan menjemput Brendan, kalau Kevia biar supir saja yang menjemputnya.” Kata Daniel.
“Iya mas, maaf ya aku tidak bisa ikut makan malam. Salam buat ibu.” Kata Tiara.
“Iya jangan khawatir sayang, semoga urusanmu segera selesai ya.” Kata Daniel.
**
“Hai.” Bisik Fardan.
“Astaga.” Kata Tiara kaget.
“Kamu pasti mencariku kan?” Tanya Fardan.
“Tidak kok, kebetulan aku lewat sini.” Kata Tiara.
“Ikutlah bersamaku.” Kata Fardan sambil menarik tangan Tiara.
__ADS_1
Fardan mengajak Tiara masuk kedalam mobilnya.
“Lepaskan tanganku.” Kata Tiara.
Namun Fardan tetap saja membawa Tiara masuk kedalam mobilnya.
Didalam mobil, Tiara berusaha keluar namun Fardan mencegahnya.
“Aku bisa mengerti kenapa kamu sampai datang kesini, kamu pasti sangat mengkhawatirkanku kan? Aku senang sekali karena akhirnya bisa bertemu denganmu kembali.” Kata Fardan.
“Selama ini kemana saja kamu? Kamu menyuruhku pergi lalu kamu menghilang begitu saja bahkan tanpa pedulu dan mencariku.” Kata Tiara sangat kesal.
“Aku mengalami koma, saat aku mulai pulih aku mencarimu di apartemenmu namun kamu tidak ada dan saat aku kembali pulang ternyata ada yang menabrakku setelah itu aku mengalami koma cukup lama karena kondisiku yang sangat parah, aku benar-benar pulih tahun lalu.” Kata Fardan.
“Lalu setelah kamu pulih kenapa kamu sama sekali tidak mencariku?” Tanya Tiara.
“Aku tidak tau harus mencarimu kemana karena aku dijaga sangat ketat dirumah sakit, ada yang mengawasiku. Tiba-tiba datanglah Nadia lalu membawaku kabur dan akhirnya dia membawaku kesini.” Kata Fardan.
“Lalu kalian berdua menikah secara resmi disini kan? Nadia saat ini menjadi guru BK disekolah anakku Kevia dan banyak rumor tentang dirinya bahwa dia baru saja menikah dengan seorang pelukis yang saat sedang naik daun.” Kata Tiara.
“Dia mengancamku sayang, dia mengancamku akan mengembalikanku lagi ke rumah sakit itu jika aku tidak mengikuti keinginannya.” Kata Fardan.
“Jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu, hubungan kita sudah berakhir sejak sebelum aku menemuimu di apartemenmu yang sedang berlumuran darah saat itu.” Kata Tiara.
“Kamu yakin? Memangnya kamu bahagia dengan keputusanmu itu? Apakah hidupmu bahagia selama ini? Sepertinya tidak, kamu hanya bahagia dan bisa tersenyum saat sedang bersamaku. Sampai kapanpun kita akan selalu bersama-sama dan aku akan selalu melindungimu dari orang-orang yang ingin mencelakaimu.” Kata Fardan sambil memeluk Tiara.
__ADS_1
“Hubungan kita takkan pernah bisa bersatu, aku sudah berkeluarga begitu juga denganmu yang sudah menikahi Nadia jadi kita akan menjalani hidup kita masing-masing.” Kata Tiara.
“Tetap saja kita pasti akan selalu bersama, cepat pergi dari sini karena Nadia akan segera datang, aku memasang pelacak di ponsel dia.” Kata Fardan menyuruh Tiara pergi, akhirnya Tiara pun pergi.