
Hari itu Daniel sedang mengajari Tiara. Namun Daniel kepikiran dengan ucapannya tadi. Dia bingung harus menjelaskan apa kepada Tiara, apalagi Tiara masih siswa SMA dan Daniel juga tidak tega jika menikahi Tiara yang SMA.
“Pak Daniel, apakah pelajaran hari ini sudah selesai? Jika sudah selesai, saya mau menyetrika baju karena besok saya harus pergi ke sekolah pagi-pagi.” Kata Tiara.
“Ah iya baiklah, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Kata Daniel.
“Ada apa pak?” Tanya Tiara.
“Kamu sudah punya pacar belum?” Tanya Daniel.
“Kenapa bapak tiba-tiba bertanya seperti itu kepadaku? Lagipula siapa yang mau denganku, aku tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa, aku juga hilang ingatan.” Kata Tiara.
“Maukah kamu menikah denganku?” Tanya Daniel tiba-tiba.
“Apa? Bapak bercanda ya, memangnya bapak menyukaiku?” Tanya Tiara.
“Aku dijodohkan dengan wanita yang tidak aku sukai oleh ibuku, aku tidak ingin ibuku mengaturku jadi aku ingin menikah dengan wanita pilihanku. Dan ibuku tau bahwa aku sedang bersamamu saat mengantarmu pergi ke sekolah, lalu ibuku menyuruhku untuk mengusirmu, tapi karena aku tidak tega denganmu jadi aku menjawab akan menikahimu.” Kata Daniel.
“Apa? Kenapa bapak menjawab seperti itu? Itu sangat tidak mungkin terjadi pak.” Jawab Tiara.
“Jika kamu menolakku, ibuku akan mengusirmu. Tidak hanya mengusirmu, ibuku bisa melakukan lebih dari itu, bisa saja kamu kehilangan warga negaramu alias ibuku akan mengirimmu ke luar negeri.” Kata Daniel.
“Apa? Tapi menikah dan berumah tangga tidak semudah itu pak, lagipula aku masih ingin kuliah dan bekerja nantinya.” Kata Tiara.
“Aku tidak akan melarangmu melakukan apapun, lakukan apapun yang kamu inginkan. Kita menikah hanya sebatas status saja, setelah itu kita hidup masing-masing. Kita tampak mesra layaknya pasangan suami istri hanya didepan ibuku dan didepan publik saja. Kamu akan memiliki segalanya setelah menikah denganku, kamu mau kan?” Tanya Daniel.
“Tapi pak, saya belum siap.” Kata Tiara.
“Aku mohon, anggap saja ini balas budimu kepadaku setelah aku menolongmu.” Kata Daniel.
“Baiklah, tapi bapak masih mengijinkanku melakukan apapun yang aku inginkan kan? Satu hal lagi, aku ingin tidur terpisah dikamar yang berbeda. Aku tidak ingin satu kamar dengan bapak.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Baiklah, aku tetap akan memperlakukanmu dengan baik kok.” Kata Daniel.
**
Hari itu Daniel membawa Tiara ke rumahnya untuk makan malam bersama dengan keluarganya. Anggita memang menyuruh Daniel untuk membawa Tiara ke rumahnya.
“Selamat malam bu.” Kata Daniel.
“Kalian sudah datang, silahkan duduk.” Kata Sarah yang berpura-pura akrab dengan Daniel dan Tiara.
“Selamat malam, perkenalkan nama saya Tiara.” Kata Tiara lalu duduk di meja makan.
“Siapa yang menyuruhmu duduk? Disini hanya aku yang berkuasa dan mengatur.” Kata Anggita. Tiara yang tampak ketakutan dan bingung akhirnya berdiri lagi.
“Maaf.” Kata Tiara.
“Perkenalkan dirimu dulu.” Kata Anggita.
“Karena kamu mempermalukan ibu jadi ibu akan mempermalukan dia.” Jawab Anggita.
“Cepat perkenalkan dirimu, jangan hanya diam berdiri disitu saja.” Kata Anggita.
“Baik, perkenalkan nama saya Tiara.” Kata Tiara sambil menunduk.
“Berapa jumlah saudaramu?” Tanya Anggita.
“Bu, bukannya aku sudah menceritakan semuanya kepada ibu tentang latar belakang keluarganya.” Kata Daniel.
“Saya memiliki seorang kakak, tapi saya tidak tau keberadaannya untuk saat ini karena saya mengalami hilang ingatan akibat kecelakaan.” Kata Tiara.
“Kamu yakin hilang ingatan? Atau kamu hanya memanfaatkan anakku saja? Bisa saja kamu mendekati anakku lalu memanfaatkannya.” Kata Anggita.
__ADS_1
“Ibu.” Kata Daniel.
“Kenapa? Ibu hanya mengatakan realita kehidupan saat ini saja yang banyak memanfaatkan orang kaya.” Kata Anggita.
“Itu tidak benar bu. Saya tidak seperti itu.” Kata Tiara.
“Bu, aku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan sekarang.” Kata Sarah.
“Duduklah kalau begitu.” Kata Anggita kepada Tiara.
“Terima kasih banyak bu.” Kata Tiara.
Tiara memakan hidangan makan malam dengan baik dan cepat beradaptasi dengan cara makan keluarga Anggita.
“Dia sepertinya bukan orang biasa, buktinya cara makan dia seperti orang kaya, bahkan dia tau cara makan ala western di rumahku.” Kata Anggita dalam hati sambil memperhatikan Tiara.
“Sepertinya kamu sering makan steak ya, lihatlah caramu makan. Biasanya orang miskin akan kesulitan memakan makanan western tapi kamu cukup pandai.” Sindiri Anggita.
“Apa jangan-jangan dulunya kamu pernah kaya lalu akhirnya jatuh miskin?” Tanya Sarah.
“Saya pernah tinggal di luar negeri saat kecil, tepatnya di Kanada.” Jawab Tiara.
“Kenapa harus di Kanada? Memangnya jadi apa kamu disana? Pengemis atau?” Tanya Anggita.
“Ayah ibuku bekerja disana.” Kata Tiara.
“Bekerja sebagai apa?” Tanya Sarah.
“Maaf tapi saya lupa.” Jawab Tiara.
“Bu aku harus pamit, karena besok aku harus berangkat pagi. Terima kasih makan malamnya, ayo kita kembali pulang.” Kata Daniel lalu mengajak Tiara kembali pulang.
__ADS_1