
Hari itu Tiara pergi ke galeri seni untuk menemui kekasih Nadia yang sekaligus seorang seniman.
“Permisi, apakah kamu yang bernama Fardan?” Tanya Tiara.
“Iya, kamu siapa?” Tanya Fardan.
“Aku Tiara, temannya Nadia yang akan belajar melukis disini.” Kata Tiara.
“Oh iya, ikuti aku.” Kata Fardan.
Fardan membawa Tiara ke ruang belajar melukis untuk pemula.
“Oh jadi disini ya aku belajar melukisnya? Wah peralatannya sangat lengkap ya.” Kata Tiara.
“Waktuku hanya tiga puluh menit saja, jadi jangan buang waktuku dengan hal yang tidak penting.” Kata Fardan.
“Oh jadi kamu yang akan menjadi guruku ya?” Tanya Tiara.
“Kenapa? Tidak mau? Kalau begitu cari saja tempat lain.” Kata Fardan.
“Astaga kejam sekali sih dia, kenapa Nadia mau sih sama laki-laki jahat dan cuek sepertinya.” Kata Tiara dalam hati.
“Tidak, bukan begitu maksudku. Kemarin Nadia bilang bahwa Nadia yang akan mengajariku untuk melukis.” Kata Tiara.
“Nadia sibuk, dia bekerja. Waktuku berkurang lima menit gara-gara kamu.” Kata Fardan, kemudian Fardan menyuruh Tiara untuk mewarnai sebuah gambar.
“Kamu menyuruhku untuk mewarnai gambar ini?” Tanya Tiara.
“Kamu itu masih pemula, jadi belajarlah dari hal seperti ini.” Kata Fardan.
“Bukankah ini sedikit berlebihan, bukankah ini seperti pelajaran untuk anak sekolah TK?” Tanya Tiara.
“Kamu pikir seorang pelukis hebat tidak pernah belajar mewarnai seperti ini?” Tanya Fardan sangat kesal.
“Baiklah, aku akan melakukannya.” Kata Tiara, lalu dia langsung duduk dan mewarnai gambar tersebut.
“Pakai ini.” Kata Fardan memberikan Tiara celemek.
“Ah iya terima kasih.” Kata Tiara lalu memakainya.
__ADS_1
Tiara fokus untuk mewarnai gambar tersebut, hampir tiga puluh menit dia mewarnai gambar tersebut.
“Sudah selesai. Kalau kamu mau pergi tidak apa-apa kok, kita bisa melanjutkannya lagi di hari lain.” Kata Tiara.
“Jadi kamu mengaturku? Aku gurunya jadi aku yang berhak menentukan kapan aku mau mengajarimu. Datanglah ke tempatku, jangan telat.” Kata Fardan memberikan kartu yang berisi nomor dan alamat Fardan.
“Jadi kita akan belajar di tempatmu?” Tanya Tiara.
“Kita? Kamu yang belajar bukannya kita. Itu studio tempatku biasa melukis, ingat jangan terlambat.” Kata Fardan lalu dia pergi.
“Astaga jahat sekali dia, sangat menyebalkan.” Kata Tiara.
Setelah itu Tiara menghampiri sekolah putrinya.
“Mama.” Teriak Kevia.
“Kevia sayang.” Kata Tiara lalu memeluknya.
“Ma hari ini aku membuat karya menggunakan kelopak bunga.” Kata Kevia.
“Benarkah? Wah pasti sangat bagus. Hari ini makan dirumah yuk. Mama tadi memasak makanan kesukaan kamu, mama juga membuat kue untuk Kevia.” Kata Tiara.
“Iya mama tau kok jadwal kamu. Ayo kita berangkat sekarang.” Kata Tiara.
“Horeeeeee, makan enak makan enak.” Kata Kevia kegirangan.
“Yeeeeee.” Kata Tiara.
“Ma papa kapan datang kesini?” Tanya Kevia.
“Entahlah mama juga tidak tau, papa pasti datang kok.” Kata Tiara.
“Kevia kan sebentar lagi ulang tahun ma, papa datang tidak ya?” Tanya Kevia.
“Mama akan memastikan papa untuk datang, lalu kita akan merayakan ulang tahun Kevia bersama-sama.” Kata Tiara.
“Benarkah?” Tanya Kevia.
“Tentu saja sayang.” Kata Tiara.
__ADS_1
Info
Hai hai semuanya, mampir yuk ke cerita novelku yang baru, judulnya Seoul in Love.
Ceritanya lucu, ringan, komedi romantis, romansa modern anak muda dan pastinya bakal dibikin tertawa di setiap episodenya karena kelucuan di setiap karakternya, bahkan dibikin baper juga loh. Yuk mampir, ditunggu banget like dan komentarnya ya biar author makin semangat buat update novel2 author.
Nih aku kasih spoilernya ya
Jinwo tiba didepan gedung apartemen Velina. Kemudian Jinwo menelfon Velina.
“Aku sudah didepan.” Kata Jinwo.
“Gawat sayang.” Kata Velina.
“Ada apa memangnya?” Tanya Jinwo.
“Sebenarnya aku malu untuk bilang sayang tapi memang ini sangat gawat.” Kata Velina sambil setengah menangis.
“Ada apa? Aku kesana ya.” Kata Jinwo.
“Dalamanku habis sayang, aku lupa belum mencuci pakaian dalamku. Semua pakaian dalamku masih belum kering, masih lembab karena baru tadi aku jemur.” Kata Velina.
“Astaga aku kira kenapa, berarti kamu tidak memakai apa-apa sekarang? Aku kesana sekarang ya.” Kata Jinwo dengan penuh semangat. -Eps15-
“Dasar cewek paling bisa kalau bicara ya, di tempat yang biasa kita kesana itu sedang tutup, lalu aku ke tempat lain tapi kamu bilang harus di tempat itu akhirnya aku cari di cabang lain hmmmmm, melelahkan juga ya punya pacar sepertimu, aku kesana kemari kelelahan loh dan setibanya disini kamu hanya butuh makanan hmmmmm, untung ya aku ini sabar, baik hati, tampan dan tak ada duanya.” Kata Jinwo yang membuat Velina tertawa.
“Hehehehe maaf sayang.” Kata Velina lalu memeluk Jinwo.
“Peluk saja ya kurang lah.” Goda Jinwo.
“Nikahi aku dulu kalau mau semuanya. Tunggu dulu, aku kalau menikah nanti suamiku harus sunat karena memang seperti itu keyakinanku dan dalam medis juga sangat dianjurkan, kamu sudah sunat belum jerapah?” Tanya Velina.
“Sunat? Maksud kamu pemotongan itu ya? Aku sudah sunat belum ya? Coba kamu cek, sudah atau belum?” Tanya Jinwo.
“Cepat buka celanamu kalau begitu. Kalau belum sunat, aku punya pisau khusus daging.” Kata Velina.
“Dasar g*bl*k, tentu saja sudah. Laki-laki di Korea juga banyak yang sunat karena memang dalam medis juga dianjurkan. Kamu mau memotongnya lagi? Bisa-bisa buntung dong, hilang sudah aset berhargaku, kalau hilang aset berhargaku lebih baik aku debut saja jadi idol Korea.” Kata Jinwo yang membuat tertawa terbahak-bahak.
-epsd13
__ADS_1