
Keesokan harinya.
Daniel mengantar istrinya ke tempat istrinya belajar melukis.
“Sayang aku bisa pergi sendiri kok.” Kata Tiara.
“Tapi aku ingin mengantarmu sayang.” Kata Daniel.
“Aduh bagaimana ini, aku tidak ingin mas Daniel bertemu dengan Fardan.” Kata Tiara dalam hati.
Akhirnya Daniel tetap mengantar istrinya. Sepanjang perjalanan, Daniel menggenggam tangan istrinya.
“Kenapa sayang?” Tanya Tiara.
“Aku benar-benar merindukanmu.” Kata Daniel.
“Aku juga mas.” Kata Tiara sambil tersenyum.
“Oh iya mas bagaimana kalau hari ini aku libur saja, dan kita pergi ke suatu tempat.” Kata Tiara.
“Tidak sayang, aku ingin melihatmu melukis. Selama ini aku kan tidak pernah melihatmu melukis sayang.” Kata Daniel.
“Aduh sial, hari ini Nadia tidak bisa mengajariku lagi.” Kata Tiara dalam hati.
Setibanya di tempat Tiara belajar melukis tepatnya di galeri seni.
“Kamu masuk juga mas?” Tanya Tiara.
“Tentu saja sayang, kan aku ingin melihatmu melukis.” Kata Daniel.
“Memangnya aku anak kecil.” Gerutu Tiara.
“Aku ingin melihat seberapa hebat calon pelukis terkenal yang bernama Tiara.” Kata Daniel sambil mencium pipi Tiara.
Tiba-tiba Fardan datang.
“Selamat datang, selamat pagi.” Kata Fardan.
Tiara pun segera melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1
“Eh i iya selamat pagi.” Kata Tiara grogi.
“Selamat pagi, oh iya aku hari ini ingin melihat istriku melukis jadi aku akan menemaninya hari ini.” Kata Fardan.
“Oh iya baik.” Jawab Fardan.
Fardan menyuruh Tiara melukis sebuah objek benda, tanpa banyak bicara Tiara pun segera melukisnya. Sedangkan Daniel duduk di belakang istrinya tepatnya di sofa, Daniel mengamati istrinya melukis sambil sesekali mengambil gambar melalui ponselnya.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Bisik Fardan.
“Aku tidak bisa mencegahnya, dia sangat ingin menemaniku belajar melukis.” Bisik Tiara.
“Sampai kapan dia disini? Apakah dia tidak akan kembali ke Indonesia?” Bisik Fardan.
“Dia disini selama satu minggu, apakah kamu akan menikahi Nadia? Apakah kamu sangat mencintainya?” Bisik Tiara.
“Aku bahkan tidak tau rencana dia seperti apa.” Bisik Fardan.
“Apakah kamu mencintainya?” Tanya Tiara.
“Lanjutkan menggambar.” Kata Fardan lalu pergi menjauh. Fardan pergi keluar ruangan untuk mencari udara segar sedangkan Tiara melanjutkan lukisannya.
“Hehehe terima kasih mas, aku mau istirahat sebentar ya. Tanganku lelah juga lama-lama mas. Kamu tidak ada acara lain mas? Aku lama loh disini, aku kan tidak enak jika kamu menungguku disini sampai selesai.” Kata Tiara.
“Aku hari ini free makanya aku bisa menemanimu.” Kata Daniel sambil memeluk Tiara dari belakang.
“Oh iya mas sekarang Kevia sedang jam istirahat, kamu tidak ingin pergi ke sekolahnya lalu makan siang bersamanya? Biasanya aku seperti itu mas.” Kata Tiara.
“Benarkah? Tapi kamu bagaimana?” Tanya Daniel.
“Aku tidak apa-apa, nanti kalau aku sudah selesai aku telfon kamu mas.” Kata Tiara.
“Kalau begitu aku pergi ke sekolahnya Kevia ya, sampai jumpa nanti, have fun.” Kata Daniel lalu dia pergi menuju ke sekolahnya Kevia.
Kemudian Tiara menghampiri Fardan. Ternyata Fardan sedang menelfon Nadia.
“Dia sudah pergi.” Kata Tiara.
“Nadia memintaku untuk melakukan foto prawedding.” Kata Fardan.
__ADS_1
“Apa? Memangnya kamu dan Nadia akan menikah kapan?” Tanya Tiara.
“Itu kemauan dia, bukan kemauanku.” Kata Fardan.
Kemudian Tiara memeluk Fardan.
“Aku tidak apa-apa kok, semoga kamu bahagia.” Kata Tiara.
“Aku hanya menyukaimu.” Kata Fardan.
“Lalu kamu ingin menyakiti perasaannya? Dia berhak untuk bahagia, kamu harus penuhi keinginannya.” Kata Tiara.
“Aku akan bilang padanya kalau aku tidak ingin pernikahan itu terjadi.” Kata Fardan.
“No, apakah kamu tidak kasihan dengan Nadia? Lalu jika Nadia mengetahui hubungan kita berdua, apakah dia akan diam saja? Dia pasti akan bertindak, dan rumah tanggaku yang akan kena imbasnya, aku tidak ingin hal itu terjadi.” Kata Tiara.
“Lalu apa rencanamu?” Tanya Fardan.
“Kita akhiri saja hubungan ini sampai disini, mungkin itu yang terbaik untuk kita berdua.” Kata Tiara.
“Tidak, aku tidak bisa hidup tanpamu, kamulah penguat hidupku.” Kata Fardan.
“Lalu apakah kamu menyuruhku untuk meninggalkan keluargaku? Suami dan anakku?” Tanya Tiara.
“Aku tidak tau.” Kata Fardan.
“Seharusnya kita tidak boleh sampai sejauh ini.” Kata Tiara.
“Aku tidak bisa berpisah darimu.” Kata Fardan.
“Aku juga tidak bisa tapi apakah kita akan selamanya seperti ini, tanpa kita sadar kita telah mengkhianati orang terdekat kita keluarga kita.” Kata Tiara.
“Kita tunggu saja, kita tidak tau nanti akan seperti apa.” Kata Fardan.
“Lalu bagaimana dengan rencana Nadia yang ingin menikah denganmu? Bahkan dia ingin melakukan prawedding denganmu.” Kata Tiara.
Tiba-tiba Nadia menelfon Tiara.
“Nadia menelfonku.” Kata Tiara.
__ADS_1
“Angkat saja telfonnya.” Bisik Fardan. Akhirnya Tiara menerima telfon dari Nadia.