Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 24


__ADS_3

Hari itu Abela tidak masuk kerja, dia pergi mengantar anaknya ke sekolah.


“Mama hari ini tidak masuk sekolah ya?” Tanya Darel.


“Mama hari ini libur jadi bisa mengantarmu ke sekolah.” Kata Abela.


“Yeeeeee, berarti nanti yang jemput Darel mama juga kan?” Tanya Darel.


“Tentu saja, nanti telfon mama ya.” Kata Abela.


“Siap ma. Ma boleh tidak nanti sepulang sekolah mampir ke rumah sakit untuk menjenguk oma Antika?” Tanya Darel.


“Dia harus banyak istirahat, kalau kamu kesana pasti akan menganggu kesehatannya.” Kata Abela.


“Aku ingin memberikan sesuatu untuknya ma.” Kata Darel.


“Mau memberikan apa memangnya?” Tanya Abela.


“Jadi kemarin waktu kelas seni, guruku memberikan tugas untuk membuat kata-kata penyemangat untuk seseorang yang disayang, lalu aku membuat kata penyemangat untuk oma Antika. Karena menurutku oma saat ini sedang butuh penyemangat. Aku membuat surat untuknya dan menggambar mama, papa, oma dan juga aku.” Kata Darel.


“Tidak perlu, meskipun kamu memberikan kata penyemangat untuknya jika dia tidak bersemangat untuk sembuh ya percuma. Bisa tidak Darel tidak membahas dia didepan mama?” Kata Abela.


“Maafkan Darel ma, Darel hanya kasihan dengan oma yang hidup sendiri.” Kata Darel.


“Itu pilihannya yang ingin tinggal sendiri.” Kata Abela.


“Oma sangat merindukan mama, Darel berangkat juga ya ma.” Kata Darel.


“Iya Darel sayang.” Kata Abela sambil memeluk putranya.


Ternyata darel meninggalkan surat yang ia buat untuk Antika di kursi mobil, dan Abela melihat surat tersebut dan membacanya. Isi surat tersebut yaitu.


“Hai oma, Darel sayang oma dan Darel selalu berdoa agar operasi oma berjalan lancar. Semoga kita bisa berkumpul bersama lagi ya oma. Darel janji akan membuat mama dan oma berkumpul. Darel sayang mama, papa, dan oma.”


Abela membaca surat tersebut sambil meneteskan air matanya.


“Darel sangat tulus menyayangi keluarganya bahkan dia tidak membenciku meskipun aku sangat membenci ibuku sendiri. Dia bahkan menggambar dirinya bersamaku, papanya dan wanita itu. Aku akan menyampaikannya kepada wanita itu atas nama Darel.” Kata Abela dalam hati.


Kemudian Abela pergi ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dia terlebih dahulu mengintip kamar inap Antika untuk memastikan dia sudah tertidur.


“Loh kok dia tidak ada didalam kamar ya, oh pasti dia sedang keluar. Kesempatan untukku menaruh surat dari Darel.” Kata Abela dalam hati.

__ADS_1


Abela pun segera masuk dan meletakkan surat tersebut di meja sebelah ranjang pasien.


“Abela.” Panggil Antika. Abela pun sangat kaget, lalu dia menutupi wajahnya dengan tasnya dan berlari keluar.


“Abela tunggu dulu.” Kata Antika sambil menarik tangan Abela.


“Permisi, saya salah kamar.” Kata Abela lirih.


“Aku tau kamu adalah anakku, aku bisa merasakannya.” Kata Antika.


“Lepaskan tanganku.” Kata Abela.


“Jadi kamu mengunjungi mama ya, mama senang sekali rasanya.” Kata Antika.


“Minggir, aku hanya menyampaikan surat dari Darel.” Kata Abela lalu mendorong Antika, kemudian Abela pergi. Namun Antika tiba-tiba merasa pusing kepala dan tak sadarkan diri, Abela pun panik dan mencoba membangunkan ibunya.


“Hei cepat bangun, cepat bangun.” Kata Abela. Akhirnya dia berlari memanggil dokter.


“Tolong tolong pasien jatuh pingsan.” Kata Abela. Akhirnya dokter segera menyelamatkan pasien Antika.


Abela benar-benar khawatir dengan kondisi ibunya.


“Semoga dia baik-baik saja, gara-gara aku mendorongnya, dia jatuh pingsan.” Kata Abela.


“Hah pak pak pak Nando.” Kata Abela.


“Kamu sedang apa disini? Siapa yang sedang sakit?” Tanya Nando.


“Bukan siapa-siapa.” Kata Abela.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan pasien.


“Maaf, apakah ibu adalah wali dari pasien Antika?” Tanya dokter kepada Abela.


“Eh eh.” Kata Abela kebingungan.


“Saya wali pasien tersebut, bagaimana keadaan pasien?” Tanya Nando.


“Kondisi pasien semakin parah sehingga dia harus dilakukan operasi secepatnya.” Kata dokter.


“Lakukan sekarang juga dok, tolong lakukan yang terbaik untuk pasien.” Kata Nando.

__ADS_1


“Baik, permisi.” Kata dokter.


“Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu harus menjadi wali dia?” Tanya Abela.


“Kondisi pasien semakin parah jadi harus segera dilakukan operasi dan dokter menanyakan siapa walinya, aku tidak tau hubunganmu dengan pasien seperti apa tapi aku melakukan itu karena sepertinya kondisi pasien sangat parah.” Kata Nando.


“Tolong jangan ikut campur dengan urusanku.” Kata Abela.


“Lalu kenapa kamu diam saja ketika dokter menanyakan siapa wali pasien tersebut?” Tanya Nando.


“Karena aku bukan wali pasien itu.” Kata Abela lirih.


Akhirnya Antika segera menjalani operasi, Abela dan Nando menunggu di ruang tunggu. Abela sangat cemas dan khawatir dengan kondisi ibunya.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang operasi.


“Bagaimana keadaan ibu maksud saya keadaan pasien?” Tanya Abela kepada dokter.


“Syukurlah kondisi pasien jauh lebih baik, namun pasien harus menjalani terapi selama satu bulan pasca operasi.” Kata dokter.


“Baik, terima kasih banyak.” Kata Abela.


“Maaf sebelumnya, tadi pasien sempat sadar dan memanggil nama seseorang, sepertinya orang yang dia kenal. Saya harap orang tersebut bisa datang kemari demi kesembuhan pasien dan agar cepat pulih secepatnya.” Kata dokter.


“Memangnya siapa yang dia panggil?” Tanya Abela.


“Dia memanggil Abela anakku.” Kata dokter.


Abela pun hanya diam saja.


“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, setelah ini pasien akan kami pindahkan ke ruang inap.” Kata dokter.


“Tolong pindahkan ke kamar vip ya dok.” Kata Nando.


Kemudian Nando mencoba untuk menenangkan Abela.


“Kamu sudah makan belum? Kalau belum, ayo pergi ke kantin.” Kata Nando.


“Tinggalkan aku sendiri, lebih baik bapak kembali saja ke kantor dan jangan pedulikan aku.” Kata Abela.


“Tidak bisa karena aku wali pasien tersebut.” Kata Nando.

__ADS_1


“Tolong jangan sampai ada yang tau mengenai hal ini.” Kata Abela sambil menunduk.


“Aku bukan tipe orang yang seperti itu, ayo makanlah dulu.” Kata Nando.


__ADS_2