
Hari itu semua staff diharuskan untuk menjelajahi sebuah hutan yang nantinya akan berujung pada pemandangan yang sangat indah atau dikenal dengan sebutan sky high. Semua staff tampak sangat antusias begitu juga dengan Abela dan Stella. Namun Abela mengkhawatirkan kondisi bu Arum.
“Bu Arum yakin ingin ikut masuk kedalam hutan?” Tanya Abela.
“Tentu saja, aku jauh-jauh datang kesini jadi harus menikmatinya.” Kata Arum.
“Aku khawatir dengan kondisi bu Arum.” Kata Abela.
“Aku baik-baik saja kok, ayo kita segera jalan. Aku penasaran sekali dengan sky high yang terkenal itu.” Kata Arum.
“Tapi kita harus mendaki gunung dan melewati hutan dulu untuk kesana. Pasti sangat melelahkan.” Kata Abela.
“Semangat, kamu kan masih muda.” Kata Arum.
Tiba-tiba ponsel Arum berdering, ada panggilan masuk dari anak pertamanya.
“Hallo Putri, ada apa?” Tanya Arum.
“Ma, papa sedang kritis.” Kata Putri.
“Apa? Memangnya papa kamu kenapa?” Tanya arum khawatir.
“Papa mengalami kecelakaan dan dilarikan dirumah sakit.” Kata Putri.
“Apa kamu bilang? Dia sedang bersama siapa? Maksud mama, saat papa kecelakaan, papa sedang bersama siapa?” Tanya Arum.
“Sendiri ma, cepat datang kesini ma.” Kata Putri.
“Baik, mama akan segera datang kesana.” Kata Arum.
“Ada apa bu? Aku bisa menemani bu Arum kok jika perlu.” Kata Abela.
“Pergilah bu, saya sudah menelfon supir pribadi saya untuk mengantar ibu pergi.” Kata Nando tiba-tiba.
“Terima kasih banyak pak Nando, maaf saya tidak bisa ikut acara ini sampai selesai.” Kata Arum.
“Tidak apa-apa, semoga semuanya baik-baik saja ya.” Kata Nando.
__ADS_1
“Terima kasih, oh iya tolong jaga temanku Abela, dia sepertinya sangat khawatir denganku.” Kata Arum.
“Aku bisa jaga diri bu, bu Arum hati-hati ya.” Kata Abela.
“Iya, kalian cepatlah masuk kedalam hutan dan nikmati liburan kalian ya.” Kata Arum, lalu Arum segera pergi sedangkan Abela dengan penuh percaya diri segera masuk kedalam hutan tanpa mendengar instruksi dan peta jalan. Sedangkan Nando mengikutinya dari belakang.
“Kenapa jalannya semakin sempit ya?” Tanya Abela.
“Karena ini bukan jalan menuju sky high.” Kata Nando.
“Jangan sok tau, memangnya bapak pernah datang kesini?” Gerutu Abela.
“Jika kamu melanjutkan perjalanan, kamu akan masuk ke tempat yang di anggap angker oleh penduduk lokal.” Kata Nando. Seketika Abela pun berteriak dan berlari namun dia tersandung dan terjatuh. Dia sangat malu karena jatuh di depan Nando, Nando hanya menertawakannya.
“Apa benar bukan ini jalannya?” Tanya Abela.
“Ikuti aku, aku akan menunjukkan jalannya menuju sky high.” Kata Nando.
Lalu Abela berdiri dan mengikuti Nando.
“Lalu kenapa tidak bilang dari tadi kalau jalannya salah? Lalu kenapa bapak justru mengikutiku?” Tanya Abela.
“Bisa tidak jalannya jangan terlalu cepat, kakiku sakit karena terjatuh tadi.” Kata Abela.
“Baiklah, kita istirahat saja dulu kesini.” Kata Nando.
Lalu Abela duduk dengan alas jaket miliknya. Namun Nando mengambil jaket Abela.
“Nanti jaketmu kotor, setibanya di sky high udaranya sangat dingin dan bisa saja kamu menggigil.” Kata Nando.
“Lalu aku duduk dengan alas apa?” Tanya Abela.
“Tidak usah pakai alas, kalau masuk ke hutan dan berpetualang itu harus siap badan kita kotor.” Kata Nando.
“Sepertinya pak Nando sering mendaki gunung dan menjelajahi hutan ya.” Kata Abela.
“Aku memang suka sekali mendaki gunung dan menjelajahi hutan.” Kata Nando.
__ADS_1
“Gunung apa saja yang sudah sering bapak kunjungi?” Tanya Abela.
“Banyak sekali, kamu bisa melihatnya di sosial media milikku.” Kata Nando.
“Bilang saja ingin pamer, pasti tidak punya banyak follower.” Kata Abela lirih.
“Agar kamu percaya saja makanya aku menyuruh untuk melihatnya sendiri.” Kata Nando.
“Bukankah pak Nando anti dengan sosial media ya? Aku dengar pak Nando bahkan tidak memiliki sosial media.” Kata Abela.
“Itu karena mereka tidak pernah menanyakan kepadaku langsung.” Kata Nando.
“Karena mereka takut dengan bapak, makanya kita semua heran dengan sikap bapak yang tiba-tiba ramah dan sok peduli dengan kita semua.” Kata Abela.
“Makanya jangan percaya dengan kata orang, menurutmu aku ini menyeramkan atau tidak? Tidak kan.” Kata Nando.
“Bukan menyeramkan tapi suka ikut campur urusan orang lain lebih tepatnya.” Kata Abela.
“Aku bukan ikut campur dengan urusan orang lain tapi aku hanya khawatir.” Kata Nando.
“Khawatir? Lebih baik khawatirkan diri bapak sendiri saja karena bapak tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.” Kata Abela, lalu dia berdiri dan melanjutkan perjalanan.
“Bukan lewat situ, padahal tidak tau arah tapi sangat percaya diri.” Kata Nando.
“Masih lama tidak sampainya? Kakiku sangat lelah, bisa-bisa kakiku kram kalau begini.” Kata Abela.
Tidak lama kemudian, Abela merasa kakinya kram.
“Aduh kakiku sakit sekali, tidak bisa digerakkan pak, pak tolong saya.” Kata Abela.
“Duduklah, aku akan memijit kakimu. Permisi ya.” Kata Nando.
“Iya, pijit di kaki saja pak jangan macam-macam kepadaku. Aku sudah memiliki suami dan anak jadi jangan coba-coba menggodaku.” Kata Abela sambil merintih kesakitan.
“Hahahaha lagipula kamu bukan tipeku.” Kata Nando.
Karena kesal, Abela menendang kaki Nando hingga Nando terjatuh.
__ADS_1
“Lepaskan, aku bisa sendiri.” Kata Abela berusaha berdiri namun kakinya kram sehingga dia kesulitan untuk berdiri.
“Jangan dipaksa nanti semakin parah, kamu sangat ingin segera sampai ke sky high kan? Aku akan menggendongmu. Permisi ya, aku tidak ada niat apapun lagipula kamu bukanlah tipeku.” Kata Nando sambil menggendong Abela.