
Setibanya di restoran.
Abela dan Nando pun segera masuk kedalam restoran dan memesan makanan.
“Wah apakah restorannya tidak terlalu mewah?” Tanya Abela.
“Sesekali tidak apa-apa, kamu mau pesan apa?” Tanya Nando.
“Aku mau pesan steak.” Kata Abela.
Nando pun memesan 2 steak.
“Jadi bagaimana apakah kamu mengijinkan Darel dan aku makan bersama?” Tanya Nando.
“Kenapa tiba-tiba ingin mengajak makan bersama dengan anakku?” Tanya Abela.
“Aku sangat menyukai anak-anak. Jadi bagaimana?” Tanya Nando.
“Bagaimana ini? Pasti papanya akan ikut juga, tapi bukankah pak Nando juga memberikan kue kepada anaknya bu Arum ya? Lebih baik aku terima saja.” Kata Abela dalam hati.
“Kenapa diam saja? Jadi bagaimana?” Tanya Nando.
“Iya boleh.” Kata Abela.
“Yes, aku akan memesan makanan di salah satu restoran yang cukup terkenal di ibukota. Kalian bisanya kapan?” Tanya Nando.
“Bagaimana jika besok lusa?” Tanya Abela.
“Boleh, terima kasih.” Kata Nando.
“Karena besok lusa mas Adriano sedang ada jadwal penerbangan.” Kata Abela dalam hati.
Tidak lama kemudian, makanan mereka datang.
“Selamat makan.” Kata Nando.
“Selamat makan juga.” Kata Abela.
Ditengah mereka menikmati makan siang, tiba-tiba suami Abela menelfon.
“Tunggu sebentar, aku mau menerima telfon dulu.” Kata Abela.
“Ok.” Kata Nando.
Abela pergi ke belakang untuk menerima panggilan dari suaminya.
“Hallo, ada apa mas?” Tanya Abela.
“Kamu dimana sekarang? Cepat datang kemari sekarang juga, kondisi mama Antika sangat kritis.” Kata Adriano.
“Ada dokter yang merawatnya jadi aku tidak perlu pergi kesana.” Kata Abela.
__ADS_1
“Kenapa kamu bicara seperti itu? Memangnya kamu tidak kasihan dengannya, selama ini dia menderita.” Kata Adriano.
“Itu pilihan hidupnya.” Kata Abela.
“Baiklah kalau begitu, tapi jangan sampai kamu menyesal.” Kata Adriano.
“Aku tidak akan menyesal.” Kata Abela lalu menutup telfonnya.
**
Abela dan Nando kembali ke kantor. Namun Abela sangat gelisah karena kepikiran ibunya, dia berjanji tidak akan pernah menemuinya lagi tapi hati kecilnya mengatakan bahwa dia sangat khawatir dengan ibunya.
“Ada apa? Sepertinya kamu sangat cemas.” Tanya Nando.
“Wanita itu sedang kritis saat ini.” Kata Abela.
“Lalu kamu mau pergi kesana atau tidak? Pilihanmu saat ini akan menentukan segalanya.” Kata Nando.
“Aku berjanji tidak akan menemuinya lagi.” Kata Abela.
“Aku menghargai keputusanmu tapi coba pikirkan jika kamu jadi wanita itu, pasti rasanya sangat sakit. Dia pasti punya alasan kenapa pergi meninggalkanmu saat itu.” Kata Nando.
Tiba-tiba Abela meneteskan air matanya.
“Aku berpisah dengannya saat usiaku masih 8 tahun, setelah itu aku tidak pernah mendengar kabar lagi tentangnya. Nenekku bilang bahwa wanita itu menikah lagi dengan seorang laki-laki kaya raya dan memiliki anak dari laki-laki tersebut. Lalu saat aku pergi ke Bali bersama suamiku, aku melihatnya bersama seorang laki-laki dan aku memanggilnya namun dia pergi meninggalkanku. Sejak itulah aku berjanji pada diriku tidak akan pernah menemuinya lagi.” Kata Abela.
“Coba cari tau atau dengarkan penjelasan darinya.” Kata Nando.
“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Bahkan nenekku melarangku untuk bertemu dengannya.” Kata Abela.
“Nenek bilang wanita itu bukanlah ibu yang baik untukku dan nenek sangat kecewa dengannya.” Kata Abela.
“Tapi bagaimanapun juga wanita itu adalah anak kandung nenekmu.” Kata Nando.
“Karena wanita itu penyebab retaknya keluargaku dan wanita itu juga yang menggugat cerai papaku bahkan menuduh papaku berselingkuh padahal wanita itu yang selingkuh dan mengkhianati papaku.” Kata Abela.
“Apakah kamu melihatnya sendiri?” Tanya Nando.
“Nenekku yang memberitahuku.” Kata Abela.
“Sepertinya ada yang ditutupi oleh ibumu dan nenekmu tentang kebenaran yang sebenarnya terjadi.” Kata Nando.
“Nenekku selalu berkata yang sesungguhnya terjadi, justru wanita itu yang tidak peduli denganku.” Kata Abela.
“Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang juga. Aku hanya tidak ingin kamu menyesal.” Kata Nando.
“Tidak, aku tidak mau. Aku tidak ingin menemui wanita itu.” Teriak Abela.
Namun Nando tetap menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Abela tidak juga turun dari mobil.
__ADS_1
“Cepat turun.” Kata Nando.
“Aku akan naik taksi dan kembali ke kantor.” Bentak Abela, namun Nando mencegah Abela.
“Temui dia, dia membutuhkanmu aku mohon.” Kata Nando dengan ketulusan hatinya.
Akhirnya Abela pun menemui ibunya, sedangkan Nando menunggunya didalam mobil.
**
Abela didepan kamar inap ibunya dengan ekspresi sangat datar. Namun dia mendengar percakapan ibunya dengan seseorang melalui telfon.
“Aku ingin tinggal disini untuk selamanya. Aku hanya ingin menikmati sisa usiaku bersama orang-orang yang sangat aku sayangi. Aku minta tolong kepadamu alihkan semuanya menjadi atas nama putriku. Jangan khawatir denganku, oh iya aku juga sering mengunjunginya. Dia sepertinya sangat bahagia melihat orang-orang yang dicintainya hidup bahagia, dia selalu melihat putrinya dari atas sana. Dia sangat mirip dengannya.” Kata Antika.
Abela mendengar semua pembicaraan Antika, Abela pun semakin bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan semua percakapan ibunya. Tiba-tiba dia langsung masuk kedalam kamar inap ibunya. Antika pun segera menutup telfonnya.
“Abela.” Kata Antika sangat kaget sekaligus bahagia karena putrinya mengunjunginya.
“Apa maksud percakapanmu barusan? Dia siapa yang kamu maksud?” Tanya Abela.
“Tidak ada maksud apa-apa sayang, mama hanya menelfon teman mama di luar negeri. Kamu sudah makan belum? Tadi suamimu membelikan mama makanan, kita makan bersama yuk.” Kata Antika.
“Ternyata kandisimu baik-baik saja ya, cukup sudah pura-pura atau sandiwaramu. Aku benar-benar sangat muak melihatmu. Kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu yang menjadi ibuku? Jika aku bisa memutar waktu, aku akan memilih untuk tidak dilahirkan oleh wanita sepertimu.” Kata Abela sangat kesal penuh emosi sambil meneteskan air matanya.
“Dia sangat mirip dengannya, dia pasti bahagia melihat putrinya dari atas sana.” Kata Antika dalam hati.
“Kamu boleh membenciku sampai kapanpun, tapi ingatlah suatu hal bahwa selamanya mama akan selalu menyayangimu. Mama bahagia bisa menjadi ibumu, mama bahkan bersyukur pernah dipanggil ibu olehmu sayang. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang. Mama menyayangimu, maafkan mama. Mama akan memenuhi permintaanmu dengan tidak muncul lagi dalam hidupmu.” Kata Antika, kemudian dia mencabut alat bantu pernafasan dan juga infusnya.
“Aku mencintaimu putriku yang cantik, ibumu pasti bahagia bisa melihatmu dari atas sana, aku akan menyampaikan kepada ibumu bahwa kamu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan banyak yang menyayangimu.” Kata Antika dalam hati. Kemudian Antika pingsan karena sesak nafas akibat alat bantu pernafasannya yang ia cabut.
“Apa yang kamu lakukan, jangan lakukan itu tidakkkkkkkkk.” Teriak Abela sambil menangis melihat ibunya yang pingsan. Dia pun memanggil semua dokter untuk menyelamatkan ibunya.
“Tolong selamatkan dia, cepat selamatkan ibuku aku mohon dokter cepat selamatkan ibuku, aku bersalah kepadanya. Dia harus kembali hidup, aku mohon dokter.” Kata Abela sambil menangis sangat kencang.
Dia menunggu didepan ruang perawatan ibunya sambil menangis.
Abela pun kemudian menelfon Nando untuk menghampirinya.
"Ibuku Ibuku." Kata Abela.
"Tunggu disana, aku akan menghampirimu." Kata Nando.
Tidak lama kemudian, Nando datang dan menghampiri Abela.
“Tidak apa-apa, ibumu pasti akan baik-baik saja.” Kata Nando tiba-tiba memeluk dan menenangkan Abela.
__ADS_1
“Dia melakukan itu karena ingin menghilang dari hidupku. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu padanya, bagaimana jika dia tidak selamat dan pergi untuk selamanya. Aku pasti akan merasa bersalah dan menanggung dosa selama hidupku.” Kata Abela sambil terus menangis.
"Tenangkan dulu pikiranmu, semua akan baik-baik saja dan ibumu pasti akan selamat." Kata Nando.