
Abela dan Antika tiba di Bali. Kemudian Abela segera menelfon Nando.
“Pak aku sudah sampai di bandara, bapak dimana?” Tanya Abela.
“Aku mengirim supir ke bandara, aku menginap di hotel X.” Kata Nando.
“Darel sedang apa sekarang? Apakah dia sudah makan?” Tanya Abela.
“Sudah kok, dia sedang makan sambil menikmati pemandangan. Aku sengaja menginap di hotel dengan pemandangan laut dan Darel sangat menyukainya.” Kata Nando.
“Terima kasih sebelumnya, tapi lain kali tolong bicarakan terlebih dahulu kepadaku karena aku tidak ingin berhutang budi kepada bapak.” Kata Abela.
Setelah itu Abela dan Antika segera pergi menuju tempat penginapan.
Setibanya di penginapan.
Abela segera menghampiri anaknya.
“Darel.” Panggil Abela.
“Mama.” Teriak Darel lalu dia berlari menuju ibunya dan memeluknya dengan sangat erat.
“Kenapa kamu tidak memberitahu mama kalau sedang di Bali?” Tanya Abela.
“Oma menyuruhku untuk tutup mulut ma.” Kata Darel dengan polosnya.
“Jadi ini ulah mama.” Kata Abela sambil menoleh ke arah ibunya.
“Hehe maafkan mama, apa salahnya kita pergi berlibur bersama kan.” Kata Antika.
“Aku sudah memesan dua kamar lagi untuk kalian.” Kata Nando.
“Lain kali jangan melakukan sesuatu seenaknya pak, aku tidak ingin berhutang budi kepada bapak.” Kata Abela.
“Maaf ya.” Kata Nando sambil tersenyum.
**
Malam harinya.
“Darel tidur dimana?” Tanya Abela.
“Aku tidur dikamar oma saja ya ma.” Kata Darel.
“Loh kenapa kok tidur dikamar oma sih? Darel nggak mau tidur sama mama ya?” Tanya Abela.
“Mama suka menangis kalau malam, Darel kan jadi ikut nangis juga.” Kata Darel.
__ADS_1
“Hahaha mama memang sangat cengeng akhir-akhir ini sayang.” Kata Abela.
“Its ok mommy, mama punya Darel kok. Aku ke kamar oma dulu ya.” Kata Darel.
“Ok, tidur yang nyenyak ya sayang. I love you.” Kata Abela sambil memeluk dan mencium kening Darel.
Abela menjadi kesepian setelah Darel pergi ke kamar Antika. Akhirnya dia ke balkon untuk menikmati pemandangan laut di malam hari.
“Bagus kan pemandangannya?” Tanya Nando tiba-tiba. Kamar Abela dan Nando bersebelahan dan kebetulan Nando juga ada di balkon, lalu dia menyapa Abela.
“Astaga bapak, bikin kaget saja.” Gerutu Abela.
“Kamu tidak ada baju lebih tebal sedikit ya? Angin cukup kencang begini malah pakai baju transparan begitu.” Kata Nando.
“Memangnya kenapa? Pak Nando takut tergoda ya?” Tanya Abela.
“Aku menahan agar tidak tergoda, cepat masuklah karena udara semakin dingin.” Kata Nando.
“Iya iya.” Kata Abela. Kemudian Abela masuk kedalam kamarnya namun kepalanya terbentur pintu kaca karena dia mengira pintu tersebut terbuka padahal sedang tertutup.
“Aduh kepalaku sakit aduh, dasar pintu menyebalkan.” Gerutu Abela.
“Hei kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Nando sambil mengintip dari balkon.
“Kepalaku terbentur pintu pak aduh sakit sekali.” Kata Abela.
“Kepalaku pusing pak karena aku membentur pintu dengan sangat keras.” Kata Abela.
“Tunggu sebentar, aku akan membantumu. Tapi bagaimana caranya aku bisa membantumu?” Tanya Nando.
“Loncat saja dari balkon pak, bapak kan tinggi.” Kata Abela.
“Hmmmm menyusahkan saja.” Gerutu Nando, lalu Nando melompat ke balkon kamar Abela, kemudian segera membantu Abela.
“Bisa berdiri tidak?” Tanya Nando.
“Sepertinya bisa pak.” Kata Abela.
“Sebentar aku buka dulu pintu balkonnya.” Kata Nando lalu membuka pintu balkon namun pintunya macet tidak bisa dibuka.
“Loh kenapa ini kok pintunya tidak bisa dibuka.” Kata Nando.
“Apa? Aduh bagaimana ini pak? Aku tidak mau terjebak disini, buka dengan keras pak pintunya.” Kata Abela kebingungan.
“Tetap saja tidak bisa, sepertinya pintunya ada kerusakan. Dimana ponselmu? Aku akan menelfon resepsionis hotel.” Kata Nando.
“Ponselku didalam pak, ada di atas kasur. Cepat pak buka pintunya, udaranya semakin dingin pula.” Kata Abela.
__ADS_1
“Aku tidak bisa membukanya karena ini sepertinya terkunci dari dalam.” Kata Nando.
Mereka pun terjebak di balkon dan Abela kedinginan karena dia memakai baju tidur transparan.
“Kamu kedinginan ya?” Tanya Nando.
“Menurut bapak aku kedinginan atau kepanasan? Pakai tanya lagi.” Gerutu Abela.
Tiba-tiba Nando melepas kemejanya, tentu saja Abela berteriak.
“Aaaaaaaaa apa yang bapak lakukan?” Teriak Abela.
“Pikiranmu negatif terus ya pasti berpikir aneh-aneh. Pakai kemejaku agar tidak kedinginan.” Kata Nando sambil memberikan bajunya kepada Abela.
“Terima kasih.” Kata Abela lalu memakai kemeja milik Nando.
“Lebih baik bapak kembali saja ke kamar lalu panggil resepsionisnya.” Kata Abela.
“Boleh juga ide kamu, kalau begitu aku lompat ke balkon kamarku dulu ya, kamu tunggu disini dulu.” Kata Nando.
“Jangan lama-lama pak, aku takut.” Kata Abela sambil menarik tangan Nando.
“Kalau begitu kamu tunggu saja didalam kamarku.” Kata Nando.
“Maksud bapak, aku harus lompat juga ke balkon kamar bapak? Bagaimana aku bisa melompat ke balkon kamar sebelah?” Tanya Abela.
“Daripada kamu disini sendirian, kata warga setempat kalau malam-malam begini banyak hantu Bali yang bergentayangan loh.” Kata Nando.
“Baiklah aku akan melompat ke balkon sebelah.” Kata Abela.
Akhirnya Abela melompat ke balkon kamar Nando.
“Pak bagaimana caraku melompat? Dindingnya tinggi sekali, aku takut jatuh pak.” Kata Abela.
“Aku akan menggendongmu lalu segera melompatlah.” Kata Nando.
“Apa? Bapak jangan coba-coba menyentuhku ya.” Ancam Abela.
“Kalau begitu berusahalah sendiri, aku tidak akan membantumu.” Kata Nando.
“Tapi aku tidak bisa, benar-benar sial hari ini.” Gerutu Abela.
Kemudian Nando segera menggendong Abela.
“Cepat melompatlah.” Bisik Nando.
“I i i ya pak.” Kata Abela.
__ADS_1