Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 25


__ADS_3

Di kantin.


“Makanlah.” Kata Nando.


“Aku tidak lapar.” Kata Abela.


“Aku memang tidak tau apa masalahmu dengan pasien, tapi jangan sampai sakit juga apalagi masih ada suami dan anakmu yang membutuhkanmu. Cepat makanlah meskipun hanya sedikit.” Kata Nando.


“Ini semua salahku, aku telah mendorongnya hingga terjatuh dan pingsan. Seandainya saja aku tidak terpancing emosi pasti dia tidak akan separah itu.” Kata Abela.


“Dia pasti baik-baik saja, dia pasti akan segera pulih kembali kok.” Kata Nando.


“Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini, aku sangat membencinya bahkan aku berjenji pada diriku sendiri tidak akan pernah menemuinya bahkan aku telah memutus hubungan dengannya.” Kata Abela.


“Setiap ibu pasti punya caranya sendiri untuk melindungi dan menyayangi anaknya.” Kata Nando.


“Aku tidak ingin menemuinya lagi.” Kata Abela.


“Tapi dia membutuhkanmu saat ini, temuilah dia karena hanya kamu penyemangat hidupnya.” Kata Nando.


Kemudian Nando mengajak Abela ke ruang inap Antika.


“Aku tidak mau masuk kedalam.” Kata Abela.

__ADS_1


“Pasien sudah sadar kembali kok. Temuilah dia sebelum terlambat.” Kata Nando.


Akhirnya Abela menemui ibunya ditemani oleh Nando.


“A A be la.” Kata Antika.


“Kenapa kamu selalu menyusahkanku? Coba kalau kamu tidak mencegahku pasti kamu tidak akan separah ini.” Kata Abela.


“Aku tunggu diluar ya.” Bisik Nando.


“Tunggu saja di tempat duduk, kamu harus mencegahku jika nanti aku berkelahi dengannya.” Kata Abela.


“Maafkan mama, putriku tumbuh sangat cantik ya.” Kata Antika.


“Banyak yang ingin mama katakan kepadamu karena umur mama tidak panjang lagi.” Kata Antika.


“Aku tidak butuh penjelasan darimu, hatiku sudah tertutup sejak kamu pergi meninggalkanku saat itu. Bisa-bisanya kamu pergi setelah kepergian papa lalu menikah dengan orang lain dan hidup bahagia di atas penderitaanku. Bagaimana bisa seorang ibu melakukan hal itu kepada anaknya.” Bentak Abela sambil menangis.


“Maafkan mama nak, maafkan mama. Seandainya kamu tau bahwa selama ini hidup mama tidak pernah bahagia setelah waktu itu. Dan seandainya kamu lebih mempercayai semua perkataan mama pasti hubungan kita tidak akan seperti ini.” Kata Antika.


“Apakah kamu tau aku selalu mendapat ejekan dari teman-temanku karena kelakuanmu dan selalu berpindah-pindah sekolah untuk menghindarinya, nenek dan kakek melakukan semuanya untukku. Nenek dan kakek melakukan yang terbaik untukku.” Bentak Abela.


“Lalu mana perjuanganmu sebagai seorang ibu? Aku sangat muak melihatmu. Aku bahkan tidak ingin dilahirkan dari seorang wanita sepertimu, kamu tidak pantas dipanggil dengan sebutan ibu.” Bentak Abela.

__ADS_1


“Maafkan mama nak, maafkan mama sayang. Ini semua salah papa kamu dan juga nenek kakekmu yang menjebak mama.” Kata Antika.


“Apa? Bisa-bisanya kamu menjelek-jelekkan nenek dan kakek yang selama ini telah merawatku dan membesarkanku bahkan menyalahkan papa? Bukankah kamu yang mulai berselingkuh lalu akhirnya papa kesal denganmu dan akhirnya kamu meminta berpisah dari papa. Papa jauh lebih baik darimu, seharusnya papa tidak bertemu dengan wanita sepertimu.” Kata Abela.


“Mama tidak pernah melakukan hal seperti itu nak, justru papa yang berselingkuh dan mengkhianati mama, rasanya sangat sakit melihatnya dan mengetahui kebenarannya.” Kata Antika.


“Setiap orang pernah bersalah tapi papa juga berhak untuk dimaafkan tidak sepertimu yang seenaknya meminta berpisah bahkan pergi meninggalkanku. Aku benci denganmu.” Bentak Abela sambil menangis histeris. Kemudian Nando mendekati Abela untuk menenangkannya.


“Tenang, tenangkan dulu pikiranmu.” Kata Nando.


"Karena kamu tidak tau bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kamu sayangi dan kamu cintai nak." Kata Antika.


“Apa kamu bilang? Itu karena ulahmu sendiri dan jangan samakan aku denganmu, tentu saja suamiku adalah orang yang tidak akan mengkhianatiku begitu pun sebaliknya." Kata Abela.


"Lepaskan aku, lebih baik keluar dari ruangan ini dan jangan ikut campur.” Kata Abela kepada Nando.


“Bukankah kamu yang bilang kalau aku harus mencegahmu bertengkar dengan ibumu.” Kata Nando.


“Lepaskan aku.” Kata Abela sambil berteriak dan menangis histeris. Nando pun memeluk Abela untuk menenangkan Abela.


“Bawa putriku keluar dan tolong hibur dia ya.” Kata Antika kepada Nando sambil menangis meratapi dirinya dan putrinya.


“Baik bu, tolong istirahatlah agar kondisi ibu semakin membaik.” Kata Nando.

__ADS_1


“Jangan khawatirkan aku.” Kata Antika.


__ADS_2