Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
Bagian 94


__ADS_3

Nando akhirnya mengajak Abela ke restoran untuk makan. Namun Abela hanya terdiam saja dan tidak tau harus bilang apa, suasana hati dia benar-benar kacau dan dalam kondisi sangat buruk.


“Kamu mau makan apa?” Tanya Nando.


“Terserah.” Jawab Abela.


“Tidak ada menu terserah sayang.” Kata Nando.


“Aku tidak makan, aku tidak berselera makan.” Kata Abela kesal.


“Tadi kamu bilang kelaparan, aku pesankan steak saja ya kalau begitu. Atau kamu mau pasta saja?” Tanya Nando.


“Apa saja.” Kata Abela.


Tidak lama kemudian, datanglah makanan pesanan mereka.


“Selamat makan sayang.” Kata Nando namun Abela hanya diam saja dan langsung menyantap makanannya.


Setelah selesai makan.


“Aku memesan kamar itu juga sesuai keinginanmu, kamu sendiri kan yang bilang kalau harus di hotel itu dan dengan pemandangan laut, saat aku memesan kamar ternyata hanya tersisa satu kamar saja, jadi jangan menganggapku berpikiran m*s*m. Saat aku bertanya kepadamu tentang kriteria kamar juga kamu tidak menjawab pertanyaanku kan dan kamu menyerahkan semuanya kepadaku, akhirnya aku terpaksa memesan kamar itu. Lalu saat diperjalanan, kamu membicarakan kamar dengan toilet dinding kaca dan menganggap bahwa semua orang yang menginap di kamar seperti itu berpikiran seperti yang kamu bilang, aku tertekan dan sangat melukai harga diriku. Sebenarnya aku juga tertekan dan kepikiran setelah memesan kamar dengan toilet dinding kaca tapi aku bisa apa, aku ingin membatalkannya tapi kamu melarangnya. Aku juga sangat tertekan dan sekaligus malu, kenapa juga sih kamu harus pergi menemui manajemen hotel dan akhirnya mereka memutar rekaman itu, aku sangat malu.” Gerutu Abela.


“Kamu sangat menggemaskan.” Kata Nando sambil memandang wajah Abela.


“Apa kamu bilang? Aku menggemaskan? Aku sedang kesal dan kamu bilang aku terlihat menggemaskan? Kamu pikir aku sedang bercanda, kamu selalu menganggapku seperti itu saat aku sedang kesal.” Kata Abela, dia benar-benar sangat kesal. Nando pun akhirnya menjadi kesal karena Abela sangat marah apalagi Abela bicara dengan keras sehingga seluruh pengunjung di restoran tersebut tertuju pada Abela dan Nando, tentu saja Nando semakin kesal dengan Abela.


“Seharusnya kamu bilang dari awal. Lalu kamu ingin bagaimana sekarang?” Tanya Nando.

__ADS_1


“Bilang dari awal? Kamu tidak memberiku kesempatan untuk mengatakannya, bahkan saat aku akan mengatakannya padamu, ternyata kamu justru, ah lupakan aku tidak ingin membicarakannya.” Kata Abela.


“Kita mau bagaimana sekarang?” Tanya Nando.


“Terserah.” Jawab Abela.


“Kalau begitu lebih baik kita kembali pulang saja ke Jakarta, setelah ini kita ke studio fotomu lalu kita langsung kembali ke bandara. Aku akan memesan tiket pesawat ke Jakarta hari ini juga.” Kata Nando.


“Terserah, lagipula semua menggunakan kartumu.” Kata Abela.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke studio. Namun sebelumnya Radina menelfon Abela untuk tidak perlu datang ke studio foto jika memang sangat sibuk, sehingga mereka menuju ke hotel untuk mengambil barang mereka.


Setibanya di hotel.


Nando turun dari mobil terlebih dahulu segera ke resepsionis untuk membatalkan pesanan mereka.


Tanpa menjawab pertanyaan Nando, Abela pun segera naik ke atas untuk mengambil kopernya.


Setibanya di kamar tersebut, Abela segera mengambil koper miliknya.


“Selamat tinggal kamar paling meresahkan, gara-gara kamar ini aku dan Nando jadi bertengkar.” Kata Abela, lalu dia langsung keluar dan berjalan menghampiri lift untuk turun ke bawah.


Tiba-tiba Nando muncul dari dalam lift.


“Kenapa keluar? Bukankah kita harus turun lagi?” Tanya Abela.


“Aku belum membatalkan pesanan kita. Menurutmu bagaimana?” Kata Nando.

__ADS_1


“Terserah kamu, lagipula pakai kartumu kan. Aku tidak akan pernah menginap di hotel pembawa sial ini.” Gerutu Abela.


“Sayang sekali jika kita membatalkannya.” Kata Nando.


“Aku tidak peduli kamu mau membatalkannya atau tidak.” Kata Abela.


“Sebenarnya aku tidak keberatan kok jika pada akhirnya harus memilih kamar itu. Aku menyukainya kok.” Kata Nando.


“Apa? Lupakan, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku dihotel ini.” Kata Abela sangat kesal.


“Aku tidak ingin membuang kesempatan bagus ini.” Kata Nando.


Kemudian Nando menarik tangan Abela dan membawanya masuk kedalam kamar tersebut, Nando mencium bibir Abela.



Bahkan Nando menggendong Abela sambil terus berciuman tanpa henti. Nando menggendong Abela sambil terus mencium bibir, leher, kening, matanya, Nando melepas ikat rambut Abela dan menyibakkan rambutnya agar lebih mudah mencium leher Abela. Bahkan mereka sampai berguling-guling di atas ranjang, Abela mengelus lembut wajah Nando sambil berkali-kali mencium bibir seksi Nando.


“Aku mencintaimu.” Bisik Nando yang membuat Abela semakin liar hari itu.


“Aku juga mencintaimu.” Bisik Abela.


“Terima kasih telah memesan kamar ini.” Bisik Nando.


“Jadi siapa yang berpikiran m*s*m?” Bisik Abela.


“Aku juga tidak tau, sepertinya kita berdua.” Bisik Nando.

__ADS_1


__ADS_2