Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)

Terpaut Usia 15 Tahun (The Secret)
bagian 45


__ADS_3

Abela segera menuju tempat parkir dan segera pergi dari kafe tersebut, namun Nando menghampirinya dan memeluknya.


“Itulah kenapa aku tidak ingin kamu pergi menemui wanita itu, karena aku tidak ingin kamu terluka.” Kata Nando.


“Dia benar-benar keterlaluan, hatiku sangat sakit melihatnya.” Kata Abela sambil menangis.


“Menangislah sepuasmu, tidak apa-apa.” Kata Nando.


“Tadi ibumu menelfonku, dia bilang padaku untuk membantumu dalam proses perceraianmu dengan suamimu. Sepertinya ibumu sudah tidak sanggup lagi melihat anaknya sakit hati.” Kata Nando.


“Keputusanku sudah bulat.” Kata Abela.


“Aku akan membantumu.” Kata Nando.


“Tolong rahasiakan masalahku dari teman-teman di kantor ya.” Kata Abela.


“Jangan khawatir. Aku akan mengantarmu.” Kata Nando.


“Aku mau ijin pulang lebih awal ya.” Kata Abela.


“Iya, Darel bagaimana? Siapa yang akan menjemputnya?” Tanya Nando.


“Ayahnya yang akan menjemputnya.” Kata Abela.


“Lebih baik kamu saja yang menjemputnya.” Kata Nando.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Abela.


“Hapuslah dulu air matamu sebelum menjemput anakmu.” Kata Nando.


Kemudian mereka pergi ke sekolah Darel. Namun Darel tidak kunjung keluar dari kelasnya, akhirnya Abela menelfon ponsel Darel namun tidak ada jawaban. Abela sangat panik dan khawatir dimana keberadaan anaknya. Lalu dia menelfon Adriano karena dia merasa Adriano yang membawa Darel.


“Darel dimana? Apakah dia sedang denganmu?” Tanya Abela.

__ADS_1


“Tidak, justru aku masih dijalan untuk menjemput Darel, sebentar lagi sampai di sekolahnya Darel. Memangnya ada apa?” Tanya Adriano.


“Aku sudah menunggunya selama 30 menit tapi dia tidak keluar juga. Ponselnya Darel juga tidak bisa dihubungi.” Kata Abela.


“Kamu dimana? Aku baru sampai sekolahnya Darel.” Kata Nando.


“Aku didalam mobil, aku akan menemuinya gurunya.” Kata Abela lalu menutup telfonnya.


“Kamu mau kemana?” Tanya Nando.


“Tunggu disini saja pak, aku mau menemui wali kelasnya.” Kata Abela.


“Baiklah kalau begitu.” Kata Nando.


Kemudian Abela menemui guru Darel ke ruang guru. Tiba-tiba Adriano menghampiri Abela.


“Apakah kamu sudah bertemu dengan gurunya Darel? Apa kata gurunya?” Tanya Adriano.


“Belum.” Kata Abela.


“Selamat siang, bisa bertemu dengan wali kelas 3A, saya wali murid kelas 3A nama saya Abela.” Kata Abela.


“Tunggu sebentar, saya panggilkan dulu ya.” Kata staff.


Tidak lama kemudian wali kelas Darel muncul.


“Bu, saya orang tuanya Darel, apakah Darel sudah pulang sekolah? Saya telah menunggunya selama 30 menit tapi dia belum juga keluar dari kelasnya, ponselnya juga tidak bisa dihubungi.” Kata Abela.


“Kelas 3A sudah 30 menit yang lalu selesai kelas dan semua murid juga sudah pulang.” Kata wali kelas Darel.


“Apa? Lalu Darel dimana? Tolong bantu saya dimana anak saya bu.” Kata Abela sangat khawatir.


“Sebentar, saya coba tanyakan di grup wali murid dan teman satu kelasnya Darel ya.” Kata wali kelas Darel.

__ADS_1


“Darel kamu dimana nak? Kamu dimana sayang? Kenapa mama tidak bisa menghubungimu sayang. Mama sangat khawatir denganmu nak, jangan tinggalkan mama sayang.” Kata Abela sambil mencoba menelfon ponsel anaknya namun tidak ada jawaban.


“Seharusnya kamu menjemput Darel tepat waktu, kenapa kamu harus telat menjemput Darel? Coba kalau kamu menjemput Darel tepat waktu pasti dia tidak akan menghilang seperti ini. Sebenarnya kamu bisa tidak sih menepati janjimu? Kalau kamu mengecewakan aku, aku tidak peduli tapi jangan sampai mengecewakan anakmu.” Kata Abela sangat marah kepada Adriano.


“Mama papa.” Panggil Darel, Darel tiba bersama Nando.


“Darel anakku.” Kata Abela lalu berlari memeluk anaknya.


“Pasti kamu kan yang membawa Darel? Iya kan? Apa sih mau kamu?” Tanya Adriano kepada Nando dan hampir menghajarnya.


“Lepaskan dia, jaga sikapmu didepan Darel.” Bentak Abela kepada Adriano.


“Darel tadi ada di supermarket depan gang sekolah, dia sedang duduk dan menikmati minumannya.” Kata Nando.


“Sayang lain kali kalau mau pergi kemanapun harus bilang dulu sama mama ya, mama sangat khawatir. Ponselmu kenapa? Mama tadi menelfonmu berkali-kali.” Kata Abela.


“Ponselku baterainya habis ma, maafkan Darel karena membuat mama khawatir.” Kata Darel sambil memeluk ibunya kembali.


“Baiklah kalau begitu, sekarang kita pulang ya.” Kata Adriano.


“Hari ini aku mau sama mama saja pa, ayo kita pulang ma.” Kata Darel.


“Papa akan mengantar kalian ya.” Kata Adriano.


“Om Nando ajak aku ke restoran yang kemarin lagi ya hari ini, aku ingin makan siang disana. Nanti mamaku yang akan mentraktirnya karena hari ini om Nando yang menjemputku di supermarket tadi.” Kata Darel.


“Sepertinya lain kali saja ya, lebih baik Darel pergi sama mama dan papa Darel saja dan makan di restoran waktu itu.” Kata Nando.


“Papa tidak suka makanan Jepang, ayo om kita pergi kesana.” Kata Darel sambil menggandeng tangan Nando.


“Papa suka kok sama makanan Jepang. Ayo kita pergi kesana.” Kata Adriano sambil menggandeng Darel.


“Kita pergi bertiga ya, Darel papa sama mama. Lets go.” Kata Adriano.

__ADS_1


“Aku benci papa.” Kata Darel.


Seketika Abela, Adriano dan juga Nando sangat kaget mendengar ucapan Darel.


__ADS_2